This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selamat Datang Semoga Bermanfaat, Pengelola Web Akan Sangat Senang Bila Anda Berkenan Meninggalkan Jejak Berupa Koment Atas Postingan Kami

Jumat, 29 April 2011

Semangat Membuat Apapun Menjadi Mungkin

Ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan 2 orang anaknya bernama budi dan ayu. Menjelang liburan sekolah, sang ayah mengajak keluarganya untuk bertamasya dengan perjalanan laut. Si ayah berkata "Mam,budi,ayu, bagaimana liburan sekolah ini, kita pergi tamasya di perjalanan laut?". Karena mendengar ajakan dari si ayah, anggota keluarga itu bersuka cita dan dengan semangat mereka menjawab "Perjalanan laut?? Wah asiikkkkk!!". Wajah-wajah kegembiraan mulai tampak dari raut wajah keluarga tersebut. Sinar-sinar kegembiraan menyinari hati dan pikiran mereka.

Libur sekolah sudah mulai tiba, sang ayah telah memesan tiket perjalan tour dari sebuah agen perjalanan. Dan akhirnya mereka pun dijemput oleh pihak tour travelnya, dan mereka pun menuju pelabuhan untuk memulai perjalanan tamasyanya. Diperjalanan mereka sangat bersuka cita. Tidak ada raut muka bermasam selama perjalanan itu. Semua bernyanyi dan tertawa dengan perasaan lega. Sang ayah merasa gembira karena pekerjaan selama ini, dan juga gembira karena bisa bertamasya dengan keluarganya. Begitu pula sang Ibu dan anak-anaknya yang juga senang bisa bertamasya dengan keluarga. Setelah sampai di pelabuhan, mereka pun masuk ke dalam kapal pesiar itu dan siap untuk bertamasya.

Kapal pesiar pun sudah mulai beranjak dari pelabuhan menuju perairan luas. Kapal itu berjalan menghalau deburan ombak kecil dan melewati hembusan angin dingin laut tersebut. Setelah sampai di pertengahan laut tersebut, tiba-tiba cuaca mulai berubah menjadi tidak bersahabat. Angin berhembus dengan kencang dan deburan ombak pun berlomba-lomba menuju kapal tersebut. Karena kapal tersebut tidak kuat menahan tekanan tersebut, akhirnya kapal itu menjadi karam di tengah laut. Keluarga itu menjadi panik karena kejadian tersebut terjadi secara tiba-tiba. Sang ayah memberi aba-aba kepada anggota keluarganya itu untuk saling berpegangan tangan. Anggota keluarga pun saling berpegangan tangan. Dan tanpa disangka, kapal itu semakin lama semakin tenggelam.

Kejadian itu membuat orang merasa bahwa tidak akan selamat. Tetapi sang Ayah dengan penuh semangat dan rasa sayang terhadap keluarganya, berusaha sekuat tenaga untuk menolong anggota keluarganya. Ibu dan 2 anak itu sudah mulai masuk ke air, dan si ayah pun dengan sekuat tenaga berenag ke arah si ibu dan kedua anaknya itu. Dengan susah payah si ayah menolong mereka. Padahal si ayah sendiri kaki dan tangannya sudah tergores pecahan kapal dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tetapi ayah selalu berusaha dan berusaha untuk menahan sakit demi keluarganya. Si ayah berpikiran untuk rela mati demi keluarganya. Akhirnya mereka pun selamat karena ada patroli laut. Dan mereka pun di bawa ke daratan dan menuju rumah sakit.

Dari cerita diatas dapat kita ambil maknanya bahwa pengorbanan sangat diperlukan dalam hidup. Tentu pengorbanan itu didukung dengan semangat yang kuat dan tentu saja dengan cinta kasih. Seperti halnya orang yang tadinya kaya raya. Hal ini digambarkan dari cerita di awal perjalanan tamasya keluarga tersebut. Mereka bersuka cita dengan kekayaannya itu. Tapi di perjalanan kehidupan ini, halangan pasti datang terjadi. Orang bisa kehilangan hartanya. Tetapi, kalau dengan kehilangan harta tersebut dan kita tetap semangat denga kita juga kaya mental, maka hal tersebut dapat bangkit lagi. Seperti keluarga yang hampir mati tenggelam tersebut.

Copas from >> http://www.andriewongso.com/artikel/artikel_anda/61/Semangat_Membuat_Apapun_Menjadi_Mungkin/

Rahasia Sikap Mental Pengusaha


Banyak orang yang mencoba untuk berwiraswasta, tak semuanya berhasil. Pendiri Grup Saratoga dan Recapital Sandiaga Uno menceritakan rahasia suksesnya.

Pengusaha muda yang juga orang terkaya nomor 27 di Indonesia ini menekankan bahwa sikap mental adalah modal utama bagi calon pengusaha. Sikap mental ini harus dimiliki pengusaha dan calon pengusaha yang ingin berhasil.

Pertama, seorang wirausahawan harus punya pola pikir seperti pengusaha. "Mereka harus punya paradigma yang positif dan optimis," kata Sandiaga saat ditemui Yahoo! di kantornya, 26 April lalu.

Sandiaga sendiri mulai berwiraswasta setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja pada 1997. Untuk memulai usaha, modal bukan hal yang dinilai penting oleh Sandiaga. Tabu baginya untuk berkata "saya mau mulai berusaha tapi tak ada modal".

"Kuncinya adalah kemauan. Begitu kemauan ada, harus ada keberanian," kata dia. Keberanian tersebut akan menjadi modal yang paling utama dengan dukungan ide, rencana mencapai kesuksesan, kemampuan berjejaring dan kepercayaan dari kolega bisnis.

Dengan rangkuman bisnis yang solid tersebut, Sandiaga percaya, bukan pengusaha yang akan mencari modal melainkan modal yang akan menghampiri. Saat mengawali usahanya, Sandiaga mengakui bahwa menjalin usaha memang sangat sulit. Pernah selama enam bulan dia tak mendapatkan satu klien pun. "Sulit sekali mendapatkan kepercayaan dari investor," kata dia.

Seorang pengusaha juga harus mengubah paradigmanya, bukan lagi sebagai karyawan yang menggantungkan hidupnya dari gaji bulanan. Kondisi terjamin itu membuat karyawan tak suka mengambil risiko. Padahal, seorang pengusaha harus berani mengambil risiko.

"Pengusaha jatuh bangun karena bisnis memang penuh risiko," kata dia. Sandiaga menekankan bahwa kesuksesan tak pernah instan. Kesuksesan hanya dapat dicapai dengan kerja keras dan pantang menyerah.

‘Ntah Mau Nulis Apa

Pocoyo, ayo terapkan syaria'ah dan khilafah

Bentar lagi maghrib, mo ngapaian? Ya Allah ternyata hari ini udah hari Jum'at lagi... time pass so fast... Kayanya seharian ini ngga ada istirahat (hampir tiap hari kallleeee). Alhamdulillah Allah memberikan waktu dzuhur dan ashar di siang hari agar kita mendirikan shalat, wajah, tangan, kaki dan bagian yang lain kita terbasahi oleh air wudhu, pikiran tenaga kita tenang dan tenaga kembali Be 100 % (kaya iklan produk minuman ya)… mungkin itulah salah satu hikmah shalat dan wudlu selalu didampingkan dalam pengerjaannya. Yang pasti semua itu guna mengingatkan kita akan hakikat kita sebagai manusia, tak lain adalah hanya seorang hamba. Inna sholaatii wanusuukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘lamaiin.

Nunggu maghrib, terpikirkan untuk kirim SMS bahasa Arab seperti biasa pada rekan-rekan yang insya Allah semangat belajar Bahasa Al-Qur’an, namun lagi males ketemu ama HP… maunya sih pengen nerusin beberapa pokok pembahasan yang kemaren sempet terputus, ayyatu dan ayyu, yang kemaren lumayan bikin mereka bingung,,, maunya sih nambahin contoh penggunaan ayyu>>> ayyu fashlin yaa akhi / ukhti?. Yah,,, males ketemu ama HandPhone… Ma’af ya teman-teman, insya Allah besok akan disempatkan…

Kerjaan berasa numpuk, semuanya numpuk. Overload. Besok mau ini, mau itu, mau gini mau gitu, mau ke sini mau kesitu. Apa bisa semua dikerjakan? Apa sempat terkerjakan?... tawakkaltu ‘alallah, insya Allah bisa… Semoga bisa sesuai dengan apa yang sudah dideadlinekan, amien…

Skala prioritas. Sepertinya semuanya masuk dalam skala prioritas, urusan pribadi ini masuk dalam kategori ibadah, ujung-ujungnyapun untuk Allah, urusan amanah pasti untuk dakwah, urusan permintaan tolong saudara, si anu, si itu, itu juga untuk dakwah, lagi-lagi urusan pribadi, itu masuk dalam birrul walidain, inget ridlollahu fii ridloll walidain washukhtullahu fii shukhtil walidain (ridlo Allah adalah ridlo kedua orang tua dan murka Allah adalah murka orang tua).

Kalo inget orang tua ‘n keluarga… Hhhmmmm… Nananananana sya lalalalalalalaaaaa… isytaqtu katsiiron usrotii… semoga bisa cepat ke Banjarmasin, sesuai dengan yang udah diagendakan kemaren yaaa… Amien… buat Emak, kayanya Emak pulang aja dulu ke rumah ya, biar ngga kelamaan di Balikpapan… ntar kalo ada kabar pasti langsung dikabarin… Doakan lancar aja,… Amien… Allahumma yassir walaa tu’assir wa tammim bil khoir…

‘Ntah mau nulis apa?... Lebih tepatnya sih 'ntah mau ngapain,,, sekedar ngisi waktu, melepas lelah, mau browsing, have no zeal, baca berita hampir muak, apalagi dengan content pemberitaan saat ini yang nyata-nyata semua media ingin memojokkan islam dengan radikalismenya… Ya Allah, hancurkanlah makar mereka untuk membumi hanguskan agama-MU, anugerahkanlah kepada para pejuang agama-MU kemenangan dengan segera, Ya Allah engkaulah sebaik-baik pembuat maker, luluh lantakkan makar musuh-musuh agama-MU… Ya Allah muliakanlah kami dengan tetap istiqomah dalam memperjuangkan agama-Mu,,,

Biasanya saat-saat seperti ini, membuat memori di otak kita bekerja semakin optimal, semua perkerjaan jadi teringatkan, ingat inilah ingat itulah, namun juga banyak yang ngga dihiraukan karena emang tenaga udah benar-benar habis. Jadi inget adek-adek angkatan di kampus. Kalian yang udah beberapa kali bikin tidur kakak terbangun karena kekhawatiran yang terlalu akan masadepan kalian, masih inget khan apa kata kakak saat awal kita ketemu, bahwa dengan kedatangan kalian dalam keluarga ini kakak memiliki dua perasaan yang datang secara bersamaan pada saat itu juga; Pertama, kalian telah membuat kakak senang dan bangga, karena Allah telah mengirimkan orang-orang pilihan untuk bergerak bersama untuk menyuarakan Islam… semoga kita semua tetap istiqomah dalam jalan ini… Amien… Kedua, kedatangan kalian telah membuat kakak sedih dan penuh kekhawatiran, karena setiap yang datang itu pasti akan pergi, banyak sekali pelajaran, lihat aja gimana keadaan kakak sekarang dari sebelas orang lebih yang dulu masuk organisasi dakwah ini, saat ini hanya tinggal seorang diri… Kakak takut dan khawatir jika nanti suatu saat kalian terhenti dari langkah suci ini, kakak takut dan khawatir jika nanti suatu saat kalian terpengaruh oleh orang-orang yang tidak suka dengan keistiqomahan kita sehingga kalian keluar dari barisan suci ini. Na’udzubillahi mindzalik.

Wahai dinda-dinda sekalian, tetap semangat yaa… Doakan kakak kalian bisa cepat menyelesaikan urusan ini secepat mungkin, sehingga bisa optimal lagi membina kalian… Amien… Salam pembebasan bertubi-tubi untuk kalian… Selamat berjuang, selamat menyongsong kemenangan Islam… Allahu Akbar… Kalian harus lebih cerdas dan cermat dalam menghadapi perpolitikan di kampus… berhati-hatilah menghadapi orang-orang yang suka menghisab darah manusia, berhati-hatilah menyikapi orang-orang yang berwajah dua… Perhatikan gerak mereka, berusahalah untuk dinamis dalam gerak, jangan kaku, latih kreativitas kalian, jika kalian tetap kaku dalam gerak, maka kita akan tergilas, mereka akan gampang dalam mengkambinghitamkan kita, dan merekapun akan menertawakan kita…

Memang kita semua masih harus banyak-bbanyak belajar, belajar menganai banyak hal, belajar mengenai apapun,,, karena jadi seorang muslim itu harus pintar dan yang pasti harus cerdas kaya yang nulis ini khan??? Heeee… (diharap tidak naik darah bila mendengar kenarsisan dari penulis, ini semua hanya untuk menghibur diri, bukan untuk hal komersil namun hanya dalam rangka mensyukuri karunia Allah semata, yah meskipun semua itu fakta bahwa sang penulis emang sosok yang cerdas) hhhheeeee…. Tuiiiiiiiiiiinnnngggggggggggg… Alhamdulillah sirine shalat maghrib udah bunyi,,, ntar tulisannya bakalan dilanjutin deh,,, insya Allah kalo ada mood…

Tulisan ngga ilmiah, ntar diposting ba’da isya’ aja////

Wassalam…

Selasa, 26 April 2011

Jihad Bernama Penantian, Dialah Pejuang


Penantian akan menjadi episode wajib dalam hidup ini. Namun tak banyak yang berhasil dalm penantian namun tak banyak juga yang berhasil hingga mendapatkan asanya. Penantian, tak banyak orang yang berani untuk mengambil jalan ini, karena di dalamnya penuh dengan ketidakpastian. Bahkan saat anda membaca artikel ini anda telah hanyut dalam sebuah penantian panjang akan seperti apa akhir dari tulisan ini bukan?, atau Anda juga sedang menanti panggilan wawancara pekerjaan, atau bahkan Anda sedang menunggu wawancara proposal hidup Anda dan masih banyak lagi bentuk penantian-penantian yang mungkin akan Anda alami.

Namun hebatnya mungkin Anda adalah seorang penanti yang tak sepakat bahwa dalam hidup ini tidak bisa mendapatkan semua asa kita secara instant. yah, semua memang perlu proses, this is live, "Man Proposes, Allah Disposes", semua perlu perjuangan dan pengorbanan dan yang pasti perlu keteguhan hati. Karena bukan kehidupan bila seorang pejuang justru akan merasa nikmat dalam lantunan merdu penantian. Mereka memang menjadi orang yang tidak biasa. Jika kebanyakan orang resah hatinya ketika harus melalui suatu penantian namun akibat suatu kekuatan dahsyat yang dimiliki seorang pejuang penantian itu justru menjadi indah. karena dia yakin semua akan indah pada waktunya.

Penantian itu sendiri akan menjadi sesuatu yang indah karena sang penanti memiliki aura spirit yang berasal dari kobaran akidah dan keyakinan akan pertolongan Allah. Memang banyak hal-hal aneh yang bisa diwujudkan oleh seorang pejuang yang ideologis seorang perantau ideologis, penuh penantian dalam hidupnya. Salah satunya membuat penantian menjadi indah, karena ia sadar akan arti sebuah proses.

Coba tanyakan pada diri Anda, sudah berapa lama Anda menanti menjadi seorang yang kaya? Sudah berapa lama Anda menanti keluarga Anda bisa bersama mengecap manisnya dakwah bersama Anda? Sudah berapa lama Anda menanti kehancuran bangsa Israel yang kian tak beradab membantai saudara-saudra kita di Palestina? Dan sudah berapa lama Anda menanti diterapkannya syariat Islam menyeluruh dalam bingkai daulah khilafah islamiyah? jawaban kita pasti beragam. Ada yang puluhan tahun, ada yang baru hitungan bulan, bahkan mungkin ada yang baru beberapa hari lalu mengikrarkan diri sebagai pejuang agama Allah. intinya Anda telah menceburkan diri dalam sebuah penantian.

Sayangnya banyak diantara mereka yang jenuh menanti dan terjebak menjadi pejuang yang futur. Padahal Allah sendiri yang berjanji tidak akan menyia-yiakan penantian Anda. Namun begitu menjenuhkan memang suatu penantian, sampai-sampai janji Allah pun tak mampu membuat kita kokoh berdiri diatas sebuah kata yang disebut perjuangan dalam penantian. menanti apapun itu, yang pasti menanti hal yang sesuai dengan syariat bukan...

Sebenarnya Allah telah menurunkan para penanti-penanti sejati abad terdahulu untuk dijadikan referensi bagi penanti abad modern saat ini.

Rasulullah sendiri pun adalah sosok penanti yang tak kenal putus asa. Semenjak turunnya wahyu ditempat yang bernama gua hira, Rasulullah pun dengan sabar menanti tiap tetes pertolongan Allah. kadang tetesan pertolongan Allah itu langsung datang saat Rasulullah membutuhkannya. Kadang pula Allah menundanya, untuk menguji kekuatan penantian Rasul dan para sahabatnya.


Muhammad Al-Fatih pun adalah sang penanti sejati. Berlaga di medan jihad selama 54 hari bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah penantian. Namun di ujung penantian Muhammad Al-Fatih Allah menyempurnakan penantiannya dengan takluknya kota Konstantinopel.

Bukan Cuma insan suci yang larut dalam penantian, Mustafa Kemal Attaturk la'natullah konon menurut cerita menuggu dengan penantian yang juga bukan penantian singkat. Ia pun menanti tidak seorang diri. Sekitar 3 abad penantian dan tumbangnya beberapa generasi kufar baru kekhilafahan itu mampu diluluhlantakkan.

Banyak sekali kisah-kisah yang menceritakan sebuah perjuangan dalam penantian yang mana semua itu bisa dijadikan sebagai sumbber inspirasi kita atau kita jadikan tokoh didalamnya sebagai teladan. catatannya adalah pilihlah tokoh terbaik yang layak untuk ditokohkan dan diidolakan, yang pasti bukan artis bukan pula presiden yang ada dijaman ini. who is he? carilah tokoh-tokoh Islam seperti pejuang diatas...

Nah, untuk Anda yang sekarang sementara berada dalam penantian, menantikan kembalinya kemuliaan Islam dibawah liuk panji ar-rayah dan al-liwa, menantikan apapun itu jangan pernah lelah dalam penantian itu. Episode “menanti” merupakan keniscayaan dalam prosa kehidupan ini.

How long we have to wait?? that's not our matter
. Karena hanya Allah lah yang tahu lama penantian ini. Yang harus kita lakukan adalah memberikan yang terbaik selama penantian ini bergulir. Berjuang dan terus berjuang isi penantian kita dengan karya-karya terbaik. Hingga insya Allah di nanti dengan bangga kita merasakan hasil dari perjuangan ini. yah... Penantian itu adalah jihad, penanti itu adalah pejuang.

Bagi Anda yang dari tadi nunggu sampai kapan tulisan ini usai, inilah saatnya, karen jam sudah menunjukkan jam 11.12 wita n' i have to go to campus,,, las but not least, I just wanna say, do your best! :)

Kisah Dua Tukang Sol

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.

“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.

“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”

“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.

“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.

“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”

“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.

“Abang yakin?”

“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.

“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.

“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

“Apa kabar mang Udin?”

“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”

“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.

“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”

“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.

“Tidak.”

“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.

copas from

Minggu, 24 April 2011

Peradaban Emas Khilafah



Sepanjang sejarah Khilafah tidak semuanya lurus. Khalifah adalah manusia yang juga bisa menyimpang dari Islam. Namun, penyimpangan perilaku khalifah dari hukum syariah bukan karena kesalahan sistem Khilafahnya. Karena itu, kalau ada khalifah yang terbunuh, yang salah bukanlah sistem Khilafahnya, tetapi tindakan pembunuhan itulah yang menyimpang dari hukum syariah. Karena itu, menyerang sistem Khilafah berdasarkan praktiknya yang menyimpang dari syariah Islam tentu adalah kesalahan fatal.

Dalam sejarah sistem demokrasi Amerika Serikat, empat presidennya (Abraham Lincoln, James Abram Garfield, William McKinley, dan John F Kennedy) semuanya tewas terbunuh. Sejarah demokrasi AS juga mengalami perang saudara antara pihak Utara (Union) dengan Selatan (konfederasi). Lebih dari 500 ribu orang terbunuh dalam perang ini. Meskipun demikian, pengusung demokrasi tidak pernah menyalahkan sistem demokrasi karena adanya pembunuhan terhadap presidennya atau perang saudara tersebut.

Karena Khalifah bisa menyimpang, di dalam Islam mengoreksi Khalifah bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban. Hal ini karena Khalifah bukanlah sumber kedaulatan hukum seperti dalam sistem monarki. Khalifah adalah manusia biasa yang mungkin saja keliru. Dalam hadisnya Rasulullah saw. menyebut aktivitas mengoreksi penguasa lalim sebagai afdhal al-jihad (jihad paling utama) dan siapa pun yang meninggal karena mengoreksi pemimpin zalim sebagai sayyid asy-syuhada’.

Sekali lagi, kita harus membedakan sistem Khilafah dengan pelaksanannya dalam sejarah. Adanya penyimpangan dalam pelaksanaan sistem Khilafah tidaklah menggugurkan kewajiban menegakkan Khilafah. Sama seperti adanya orang yang keliru melaksanakan shalat bukan berarti menggugurkan kewajiban shalat. Kewajiban menegakkan Khilafah dan mengangkat kholifah tetaplah wajib adalah berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat.

Namun, dari sejarah kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap pelanggaran atau penyimpangan dari hukum syariah, meskipun di era Khilafah, akan membawa masalah. Apalagi kalau kita tidak melaksanakannya sama sekali seperti sekarang ini. Kita menegaskan pula, Khilafah yang akan kita tegakkan adalah Khilafah yang berdasarkan manhaj Kenabian (‘ala minhaj an-Nubuwwah), bukan yang menyimpang. Kita tentu saja bertekad, tidak mengulangi penyimpangan-penyimpangan yang pernah dilakukan oleh Khalifah dalam sejarah Kekhilafahan masa lalu.

Mengangkat sebagian sejarah Khilafah yang gelap, tetapi menutup-nutupi sejarah panjang kejayaan Khilafah adalah cara pandang yang tidak obyektif dan juga ahistoris. Apalagi menyatakan sistem Khilafah membelenggu pemikiran umat tanpa disertai bukti-bukti. Bukankah justru dalam sistem Khilafah banyak bermunculan para ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka dengan karyanya yang gemilang—seperti para Imam Madzhab terkemuka, al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan banyak lagi lainnya?

Imam Syafii, misalnya, menurut al-Marwazi, karyanya mencapai 113 kitab tentang tafsir, fikih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam Al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah Al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah dan Ar-Risalah al-Jadidah.

Adapun Imam Ahmad bin Hanbal menyusun kitabnya yang terkenal, Al-Musnad. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, an-nasikh wa al-mansukh, tarikh, dll. Imam Ahmad juga menyusun kitab Al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab Ash-Shalah, kitab As-Sunnah, kitab Al-Wara‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab Al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah, dll.

Cendekiawan Muslim lainnya di era Khilafah bukan hanya fakih di bidang agama, tetapi juga menghasilkan kaya ilmu sains yang diakui dunia. Karya mereka diakui memberikan sumbangan pada era renaisaince Eropa. Menurut Sir Thomas Arnold, tanpa peran Arab (Muslim)—tentu di era Kekhilafahan Islam, ed.—peradaban modern Eropa bisa jadi tidak bangkit sama sekali. “It is highly probable that, but for the Arabs (Muslims), modern European civilization would never have arisen at all.” (Sir Thomas Arnold and Alfred Guillaume, The Legacy of Islam, 1997).

Di bidang kedokteran terdapat Ibnu Sina. Dalam Encylopedia Britannica ditulis tentang karya Ibnu Sina ini: The Canon of Medicine (Al-Qanun fi ath-Thibb) adalah buku yang paling terkenal dalam sejarah kedokteran baik di Timur dan Barat. Buku ini digunakan Sekolah Medis di Timur dan Barat selama 500 tahun. Menurut Toby E Huff, The Canon of Medicine adalah buku pertama yang mengurai obat-obatan berdasarkan pengujian, uji coba obat eksperimental klinis, uji coba terkontrol secara acak, tes efikasi, analisis faktor risiko, dan gagasan tentang sindrom dalam diagnosis penyakit tertentu (Huff, Toby, The Rise of Early Modern Science: Islam, China, and the West, Cambridge University Press, 2003).

Di bidang fisika terdapat Al-Kindi (abad IX M). Karya pakar fisika ini tentang fenomena optik diterjemahkan ke Bahasa Latin yang memberikan pengaruh besar Roger Bacon. Pakar fisika yang lain adalah Ibnu Haytam (965-1039 M). Di Barat dikenal dengan Alhazen. Ia adalah pakar di bidang optik dan pencahayaan. Sebanyak 200 judul buku tentang optic dan pencahayaan dinisbatkan kepada beliau. Teorinya lebih dulu 5 abad sebelum teori yang sama dikeluarkan Torricelli. George Sarton (1927) dalam bukunya, Introduction To The History of Science, Volume I: From Homer To Omar Khayyam, memberi gelar Ibnu Haytam dengan Fisikawan Terbesar Abad Pertengahan.

Selain itu, perpustakaan zaman Kehilafah amatlah mengagumkan. Perpustakaan Khalifah al-Hakim di Kairo, misalnya, menyediakan 1,6 juta volume buku. Mengenai hal ini, Bloom and Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf, membaca, dan menulis) Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Islam: A Thousand Years of Faith and Power).

Keemasan Khilafah ditulis secara jujur oleh sejarahwan dunia seperti Will Durant dalam Story of Civilization. “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.”

Pertanyaannya, bagaimana mungkin karya-karya cemerlang ini lahir dari sistem Khilafah yang dituduhkan jumud atau terbelakang? Namun yang paling penting, kewajiban menegakkan Khilafah bukan didasarkan pada kemaslahatan yang bisa kita raih itu. Kewajiban menegakkan Khilafah adalah kewajiban syariah yang berdasarkan akidah Islam. Kewajiban Khilafah merupakan perkara ma’lum[un] min ad-din bi asdh-dharurah. Demikianlah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “Mereka (para imam mazhab) telah bersepakat mengenai kewajiban mengangkat khalifah (menegakkan Khilafah).” [Farid Wadjdi]


http://hizbut-tahrir.or.id/2011/04/09/peradaban-emas-khilafah/

Justin Bieber, Berhala Baru Remaja Miskin Iman



Baru aja kemaren lusa Justin Beiber melangsungkan "This is My World Tour" di Indonesia setelah sebelumnya melangsungkan konser tour dunianya di beberapa negara,luar biasa sosok yang dikenal melalui media you tube tersebut sangat menyedot animo puluhan ribu ABG di seantero dunia. Sebut saja konser di Sentul International Convention Center (SICC), Indonesia dengan harga tiket festival dijual diatas Rp 1 juta dan beberapa tingkatan lainnya dapat mencapai 10.500 yang gterbagi pada tribun I dan II dimana penonton terdiri dari ABG hingga Ibu-ibu dan bapak-bapak. Pasti bisa dibayangkan betapa macetnya jalanan menuju SICC, apalagi kala itu memang sedang libur panjang...

Sangat fenomenal, dengan harga tiket yang tidak murah, penjualan tiket bisa lebih dari 10.500 penonton. sebenarnya saya pengen lanjutin nulisnya, tapi karena udah ada tulisan terdahulu yang searah, maka saya coba copass aja dari (http://www.voa-islam.com/teenage/smart-teen/2011/03/14/13737/justin-bieber-berhala-baru-remaja-kurang-iman/). Namun dari judul awal artikel ini ditulis "Justin Bieber, Berhala Baru Remaja Kurang Iman" Saya rubah menjadi "Justin Bieber, Berhala Baru Remaja Miskin Iman". Yah iman, dimana iman sangat diperlukan oleh seorang muslim dan itu menjadi tanggung jawab semua orang tua, namu di kejadian ini malah para orang tua memfasilitasi anaknya untuk hal yang sangat tidak penting, mungkin para orang tua sekarang sudah tidak menganggap iman itu penting kali yaaa??? check my article about iman... semoga bermanfaat...

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Bulan April, Justin Bieber katanya mau konser di Indonesia. Gimana reaksi kamu sebagai remaja mendengar berita ini? Heboh, jingkrak-jingkrak kegirangan kayak orang kesurupan, nangis terharu, bersikap lebay atau malah biasa aja alias gak terpengaruh?

Beragam reaksi remaja mendengar kabar si Justin mau datang. Reaksi ini terjadi adalah efek dari pemahaman remaja akan sesuatu dalam hal ini adalah memahami siapa si Justin ini sebenarnya. Bila yang ada di benaknya sosok cowok ganteng yang lincah dan bersuara seksi, maka secara otomatis kamu sebagai remaja cewek akan berteriak histeris kegirangan. Beda lagi bila yang ada dalam pemahaman kamu tentang cowok yang satu ini adalah sosok remaja belasan tahun yang menjadi korban industry music di era kapitalis, maka yang muncul adalah sikap kasihan. Ya…anak seusia itu sudah dieksploitasi demi gemuknya kantong para pemodal dan menjadi berhala baru di era yang katanya modern ini.

Fenomena Justin Beiber bisa menjadi berhala di dunia ini. Berhala? Bukankah si Justin tidak disembah? Berhala bukan untuk disembah saja tapi juga termasuk ke dalam kategori untuk diikuti, diidolakan hingga ditangisi secara histeris sebagaimana para fans itu ke idolanya. Padahal, si Justin kenal juga enggak dengan kamu dan para remaja lain. Trus ngapain juga pake acara teriak-teriak histeris bahkan sampai ada yang menangis dan pingsan? Biasanya ini adalah reaksi yang muncul bila para remaja merasa ‘excited’ yang berlebihan. Bahkan banyak juga remaja cewek yang kepingin banget bisa dapat kesempatan untuk mencium atau dicium oleh si Beiber ini. Yucks!

....Sobat muda muslim, nyadar donk! Untuk apa kamu melakukan kehisterisan semacam itu hanya untuk cowok non muslim bernama Justin Bieber?...

Sobat muda muslim, nyadar donk! Setiap perbuatan itu selalu ada pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Apa jawaban yang bakal kamu sodorkan bila ada pertanyaan, untuk apa kamu melakukan kehisterisan semacam itu hanya untuk cowok non muslim bernama Justin Bieber? Nggak usah nunggu ditanya di akhirat, sekarang aja coba kamu jawab dan renungkan pertanyaan tersebut di atas. Kenal juga enggak, dapat kemanfaatan darinya apalagi. Yang ada malah kamu sering lalai melaksanakan kewajiban karena keasyikan mendengarkan si Beiber nyanyi plus jejingkrakkan.

Rencana konser si Beiber di Indonesia membuat banyak remaja seusia kamu pada berebut membeli tiket yang harganya tak bisa dibilang murah. Buat sodaqoh pelit tapi tak sayang menghamburkan uang untuk beli tiket si Beiber. Aneh! 10 ribu tiket seharga 500 ribu hingga satu juta terjual langsung ludes dalam beberapa hari saja. Calon penonton yang ngantri pun berjubel jauh hari demi mendapatkan selembar tiket untuk nonton si Justin.

Coba bandingkan dengan acara lain semisal bedah buku, seminar, atau training keislaman, para remaja pada ogah datang. Boro-boro mau bayar mahal, udah gratis saja masih tetap jarang yang mau datang. Memang sih, yang namanya surge itu lapang. Sebaliknya, yang namanya neraka itu berjubel penuh penghuninya. Hampir mirip dengan fenomena acara keislaman versus maksiat. Tergantung kamu sendiri wahai remaja, untuk pintar-pintar memilih tujuan mana yang akan kamu tuju.

Remaja cerdas so pasti pilih acara yang berkualitas demi meningkatkan iman dan takwa, bukan sebaliknya. Jadi, udah deh gak usah ikut-ikutan demam si Beiber. Dia gak bisa menyelamatkan kamu dari panasnya siksa neraka kok. Rugi berat deh! [ria fariana/voa-islam.com]

610 Balita di Sukabumi Alami Gizi Buruk



Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat sekitar 610 balita yang ada di wilayahnya dikategorikan mengalami gizi buruk.

“Dari data kami dari sekitar 71 ribu lebih balita di kabupaten, sekitar 0,87 persen atau 610 balita mengalami gizi buruk,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Adrialti Minggu (24/4).

Selain balita gizi buruk, sekitar 10 persen balita di kabupaten menurut Adrialti mengalami gizi kurang. “Mereka kabanyakan ditemukan di daerah selatan Kabupaten Sukabumi,” tambahnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya memberikan program pemberian makanan tambahan (PMT) kepada balita yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang, selain itu pola hidup sehat pun sudah disosialisasikan untuk mengatasi permasalahan gizi buruk.

“Kami terus berupaya untuk mengatasi permasalahan tersebut,” tutur Adrialti.

Sementara itu, Kasie Gizi Dinkes Kabupaten Sukabumi, Dani Sujata, mengungkapkan, dari 610 balita yang mengalami gizi buruk 20 persennya dalam kondisi memprihatinkan. “Sekitar 20 persen balita yang mengalami gizi buruk mereka juga terserang penyakit Tuberculosis (TBC) dan penyakit lainnya,” ungkap Dani.

Ia mengatakan, agar jumlah balita penyandang gizi buruk di kabupaten berkurang pihaknya secara insentif memberikan bantuan medis dan PMT. Namun, kondisi ini terkendala oleh perilaku orang tua yang kurang memberikan asupan gizi kepada balitanya dengan alasan kemiskinan.

“Kami pun sudah menugaskan pengawas dari dinkes untuk terus memantau perkembangan balita yang mengalami gizi buruk dan mudah-mudahan dengan cara seperti ini jumlah balita yang mengalami gizi buruk berkurang,” harapnya. (mediaindonesia.com, 24/4/2011)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More