This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selamat Datang Semoga Bermanfaat, Pengelola Web Akan Sangat Senang Bila Anda Berkenan Meninggalkan Jejak Berupa Koment Atas Postingan Kami
Tampilkan postingan dengan label TARIKHUL ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TARIKHUL ISLAM. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

101 Wanita Teladan Masa Rasulullah


1. A'isyah binti Abu Bakar Menjadi Istri di Dunia dan Akhirat
2. Al-Khansa' binti Amr Ibu Para Syuhada
3. Amah binti Khalid Terlahir di Negeri Rantau
4. Arwa' binti Abdul Muththalib Membela Rasulullah dengan Lisannya shallallahu ‘alaihi wa sallam
5. Asma' binti Umais Istri Si Burung Surga
6. Asma' binti Yazid bin Sakan al-Anshariyah Orator Para Wanita
7. Asma' binti Abu Bakar Yang Memiliki Dua Ikat Pinggang
8. Atikah binti Zaid Janda Para Sahabat
9. Azdah binti Harits Ikut Perang dan Menang
10. Barirah Budak yang Ingin Bebas
11. Dhuba'ah binti Zubair Istri Pelopor Barisan Berkuda
12. Durrah binti Abu Lahab Yang Bebas dari Dosa Ayahnya
13. Fari'ah binti Abi Shalt Saudaranya Seorang Penyair
14. Fariah binti Abu Sufyan Ipar dan Istri Ipar Rasulullah
15. Fathimah binti Asad Pengganti Khadijah dan Abu Thalib
16. Fathimah binti Muhammad Seorang Putri yang Sederhana
17. Fathimah binti Qais Istri Usamah bin Zaid
18. Fathimah binti Utbah Islam Mengubah Segalanya
19. Fathimah binti KhathTHab Mengislamkan Saudaranya
20. Fathimah binti Walid Memahami Arti Sebuah Persaudaraan
21. Fathimah binti Yaman Putri Sahabat dan Saudara Para Sahabat
22. Furai‘ah binti Malik Di Pelataran Orang-Orang Beruntung
23. Hafshah binti Umar bin Khaththab Dibela Jibril karena Tekun Beribadah
24. Halimah as-Sa‘diyah Ibu Susu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
25. Hamnah binti Jahsy al-Asadiyah Istri Duta Pertama Islam
26. Hamnah binti Sufyan Ibu Sa‘ad bin Abi Waqqash
27. Hawa binti Yazid Dihormati Suaminya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
28. Hindun binti Amr bin Haram Yang Tabah Ditinggal Keluarga
29. Hindun binti Utbah Pemakan Jantung yang Masuk Islam
30. Juwairiyah binti al-Harits Putri Musuh Islam yang Memiliki Berkah
31. Kabsyah binti Rafi‘ bin Abid Mengantar Putranya Sampai ke Liang Kubur
32. Khadijah binti Khuwailid Istri yang Paling Dicintai
33. Khansa' binti KhadzDZam Yang Bebas Memilih Suami
34. Khaulah binti Malik Perkataannya Didengar Allah dari Langit Ketujuh
35. Khaulah binti Hakim Suaminya Muhajirin Pertama Wafat di Madinah
36. Laila binti Abi Hatsmah Berjanji kepada Anaknya
37. Laila binti Khathim Ditolak oleh Nabi
38. Lubabah binti Harits, UmmuL Fadhl Ibu Abdullah bin Abbas
39. Maimunah binti Harits Ummul Mukminin yang Sering Bersilaturrahim
40. Mariyah al-Qibthiyah Ibu dari Putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
41. Nailah binti Farafishah Istri Utsman bin Affan
42. Nusaibah binti Ka‘ab Peserta Bai‘atul Aqabah Kedua
43. Qatilah binti Nadhr Penyair dari Abdu Dar
44. Raihanah binti syam‘un Tawanan dari Bani Quraizhah
45. Raithah binti Munabbih bin al-Hajjaj Belajar Islam dari Anaknya
46. Raithah binti Harits bin Jubailah Meninggal di Perjalanan
47. Ramlah binti Abi Sufyan Menikah di Negeri Rantau
48. Raqiqah binti Abu Shaifi Bermimpi tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
49. Rubayya‘ binti Mua‘wwidz Selalu Mendampingi Perjuangan Rasulullah
50. Rufaidah al-Anshariyah Teladan bagi para Perawat
51. Ruqayyah binti Muhammad Yang Hijrah Dua Kali
52. Safanah binti Hatim Fasih Bertutur dan Sopan Beretika
53. Sahlah binti Suhail Memilih Islam daripada Keluarga
54. Salafah binti Sa‘ad al-Anshariyah Pemegang Kunci Ka‘bah
55. Salmah Ummul Mundzir binti Qais Bibi yang Mulia
56. Saudah binti Zam‘ah Yang Sabar dan Ikhlas
57. Shafiyyah binti Abdil Muththalib Mujahidah Pertama Pembunuh Musyrik
58. Shafiyyah binti Huyay Tawanan yang Menjadi Istri
59. Shafiyyah binti Sya ibah Berumur Panjang
60. Sumayyah binti Khubath Syahidah Pertama dalam Islam
61. Syaima' binti Harits as-Sa‘diyah Terdampar di antara Tawanan Perang Hunain
62. Syifa' binti Abdullah Yang Cerdas dan Mulia
63. Umaimah binti Shubaih Didoakan Rasulullah
64. Umaimah binti Abdul Muththalib Bibi dan Mertua Rasulullah
65. Umainah binti Khalaf Peserta Hijrah ke Habasyah
66. Umamah binti Hamzah Putri Singa Allah
67. Umayyah binti Qais Dimandikan dengan Air Garam
68. Umayyah binti Raqiqah Datang untuk Berbaiat
69. Ummu Abdi binti Abdi Wud Ibu Si Penggembala Kambing
70. Ummu Aiman Barakah binti Tsa'labah Pengasuh yang Baik
71. Ummu al-Qamah Ridhanya Menyelamatkan Sang Anak dari Neraka
72. Ummu Anas (Ibu Imran bin Abi Anas) Yang Berani Bertanya
73. Ummu Dzar al-Ghifariyah Setia Mendampingi Suami
74. Ummu Habib binti Ash al-Qursyiyah Menyalakan Semangat Tentara Islam
75. Ummu Hakim binti Harits Istri Ikrimah bin Abu Jahal
76. Ummu Hamid Ingin Shalat Berjamaah Bersama Rasulullah
77. Ummu Hani', Fakhitah binti Abi Thalib Yang Menyayangi Anak-anaknya
78. Ummu Haram binti Milhan Memiliki Martabat yang Tinggi
79. Ummu Hisyam binti Haritsah Bertetangga dengan Rasulullah
80. Ummu Khair binti Shakhr Ibu Abu Bakar ash-Shiddiq
81. Ummu Kultsum binti Muhammad Menggantikan Posisi Kakaknya
82. Ummu Kultsum binti Suhail Turut ke Habasyah
83. Ummu Kultsum binti Uqbah Beriman Sebelum Keluarganya
84. Ummu Ma‘bad al-Khuzai‘ah Menjamu Rasulullah
85. Ummu Ri‘lah al-Qusyairiyah Wanita yang Sangat Diplomatis
86. Ummu Ruman binti Amir Ibu Mertua yang Mulia
87. Ummu Salamah (Ummul Mukminin) Mendampingi Rasulullah di Hudaibiyah
88. Ummu Sinan Pejuang Wanita Sejati
89. Ummu Sulaim binti Malhan Teladan Memilih Pendamping
90. Ummu Syuraih Ghaziyah binti Jabir al-Qurasyiah Seorang Da‘iyah
91. Ummu Waraqah binti Naufal Imam para Wanita di Zamannya
92. Ummu Ziyad Turut Berjuang di Jalan Allah
93. Ummul Hakam binti AbU Sufyan Yang Kembali ke Fitrahnya
94. Urwah binti Harits Fasih Bicaranya
95. Zainab Istri Abdullah bin Mas‘ud
96. Zainab binti Abi Salamah Yang Paling Faqih pada Masanya
97. Zainab binti Ali bin AbU Thalib Cucu Rasulullah yang Tabah
98. Zainab binti Jahsy Dinikahkan Allah dengan Rasul-Nya
99. Zainab binti Khuzaimah Ibu Orang-Orang Miskin
100.Zainab binti Rasulullah Mencintai Islam daripada Suami
101.Zunairah Ketabahan Menyembuhkan Butanya

Selasa, 13 September 2011

Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah RA dan Dakwah Pasca Nikah


#1 – Kematangan yang Memesona


Khadijah dan Aisyah, Kedua perempuan terhormat itu bergantian mengisi kehidupan Rasulullah pada dua fase kenabian yang berbeda. Tapi cinta Rasulullah pada keduanya berbeda. Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.

Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi hingga beliau berkata, “siapa lagi yang dapat menggantikan Khadijah?”, sepeniggal istrinya wafat. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.

Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Inilah gabungan pesona-pesona yang kemudian melahirkan syahwat. Sebagaimana Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”

Itulah pesona kematangan. Pernikahan dan rumah tangga yang memesona merupakan perpaduan dari dua atau lebih kepribadian yang juga memesona. Dan pesona itu sejati, bukan dari katampanan, kecantikan, atau kekayaan semata, tetapi dari kematangan kepribadian. Kepribadian yang matang itu kuat tapi meneduhkan. Di sinilah seseorang dapat mengatakan, “rumahku surgaku”. Ketika sedang berada di dalamnya, ia menjadi sumber energi untuk berkarya di luar. Ketika berada di luarnya, selalu ada kerinduan untuk kembali.

#2 – Cinta yang Menumbuhkan

Aisyah bukan hanya seorang istri Rasul, tapi juga merupakan bintang di langit sejarah. Salah satu credit point terbesarnya adalah banyaknya jumlah hadits yang beliau hafal dari Rasulullah dan kepahamannya tentang fiqih sehingga menjadi rujukan utama bagi sahabat Rasul yang lain. Itu hanya salah satunya disamping luasnya lautan kepribadian beliau sebagai Ummul Mukminin yang menjadi rujukan kepribadian muslimah.
Aisyah merupakan buah karya sang suami: Nabi Muhammad SAW. Inilah tantangan para suami yang mencintai istrinya dengan sejati, menumbuhkan istri yang dicintainya sehingga menjadi lebih baik secara berkesinambungan.

Pekerjaan menumbuhkan ini sulit karena menuntut pemahaman yang baik tentang kebutuhan orang yang akan dikembangkan. Dan seringkali orang tersebut tidak menyadari apa yang dia butuhkan. Seorang istri, misalnya menginginkan lebih banyak perhiasan, belum tentu apa dia minta adalah apa yang sebenarnya dia butuhkan. Usaha menumbuhkan tanpa memahami biasanya hanya akan melahirkan pemaksaan kehendak. Tentunya bukan ini cara yang bijaksana. Cara yang bijak adalah dengan menginspirasi.

Suatu ketika, tuntutan istri-istrinya adalah untuk mendapatkan lebih banyak perhiasan dunia. Tapi mungkin kebutuhan akan pemaknaan lebih dalam terhadap misi besar kerasulan (dimana mereka merupakan bagian dari “tim” kehidupan Rasul) lebih mereka butuhkan. Maka dengarlah jawabannya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab 28-29)

Dalam perspektif yang lain, hanya dengan cara menumbuhkan secara berkesinambunganlah hubungan percintaan itu bisa bertahan. Akan sulit mempertahankan hubungan tersebut jika orang-orang di dalamnya stagnan. Tidak berkembang dari hari ke hari. Karena jiwa ini bisa bosan.

#3 – Romantika yang Merawat Jiwa

Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-istri.

Kenapa kisah-kisah itu ada? Karena jiwa butuh perawatan, dan begitulah caranya ia dirawat. Kemesraan, senyuman yang tulus, pujian, hadiah, ucapan selamat, perhatian, semuanya merupakan alat untuk merawat jiwa. Itulah yang akan menjadi pelumas bagi mesin rumah tangga sehingga dapat tetap kuat menempuh perjalanannya yang lebih jauh, menyelesaikan misi besarnya, misi peradaban.

#4 – Misi yang Lebih Besar

Istri-istri nabi masuk ke dalam kehidupan Rasul untuk mengisi suatu peran yang harus dijalankannya. Mereka menjadi bagian dari ‘tim’ yang menjalankan misi kerasulan. Nampaknya pengisi peran-peran utama tersebut adalah Khadijah dan Aisyah. Khadijah hadir selama 25 tahun mendukung Rasulullah dalam membangun basis sosial Islam di Mekkah yang berat. Lalu Aisyah yang selama 10 tahun mendampingi dalam misi pembangunan konstitusi Negara Madinah yang rumit. Dan istri-istri beliau yang lainnya ikut mengisi peran-peran lainnya di sekitar kedua poros itu.

Keluarga Rasul merupakan keluarga dengan misi yang berat dan besar: misi kerasulan. Karena tim tersebut ditugaskan menangani masalah besar, maka masalah-masalah kecil seharusnya tidak boleh mengganggu kinerja mereka. Karena kaidahnya sederhana: siapa yang tidak disibukkan dengan perkara besar, maka akan disibukkan dengan perkara kecil, begitu sebaliknya. Banyak kisah dalam rumah tangga Rasul yang menjelaskan hal ini.

Pernah suatu ketika istri-istri beliau menuntut tambahan perhiasan dunia. Ini bukan sesuatu yang salah. Tetapi kemudian Rasulullah mendiamkan mereka selama satu bulan. Karena tim ini harus sudah berada “di atas” masalah kecil seperti itu. Masalah seperti itu sudah “tidak level” untuk diributkan.

Cerita yang lain adalah ketika Rasul sedang berada di tempat Aisyah. Di sana juga sedang ada Saudah, istri Rasul yang lain. Aisyah memberika kue yang dibuatnya kepada Saudah. Tetapi Saudah mengatakan bahwa kue tersebut tidak enak. Aisyah kesal lalu menimpuk Saudah dengan kue tersebut, lalu Saudah membalasnya. Jadilah mereka balas-balasan menimpuk dengan kue. Apa yang dilakukan Rasulullah? Ternyata beliau hanya menonton sambil tertawa.

Begitulah, tidak semua masalah harus dipikirkan dan diselesaikan. Karena beberapa masalah, termasuk pertengkaran seperti itu, akan selesai sendiri. Karena masalah itu tidak mengancam hal yang asasi: misi kerasulan. Tentunya setelah semua elemen menyadari betul apa misi besar mereka. Beberapa masalah hanya merupakan bumbu penyedap dan dinamisator perjalanan bahtera rumah tangga yang panjang.

#5 – Fitnah yang Mengancam

Pasukan muslimin sudah jauh meninggalkan Aisyah menuju Madinah. Aisyah tertinggal rombongan. Ia berharap mereka akan menyadari bahwa beliau tertinggal dan kembali lagi. Tapi ternyata tidak. Ia kemudian pasrah kepada Allah. Beruntung, datanglah seorang sahabat laki-laki yang menemukan beliau. Akhirnya Aisyah pulang dengan menunggani unta sementara si sahabat lak-laki berjalan di depan.

Tetapi di Madinah suasana tidak setenang biasanya. Ada kabar bahwa Aisyah berselingkuh. Berita ini menyebar. Orang-orang menjadi ragu. Aisyah yang sampai di Madinah tidak tahu akan berita itu sampai dua bulan kemudian. Tapi Aisyah dapat merasakan perbedaan sikap Rasulullah yang mendingin terhadap dirinya. Ia jatuh sakit. Keadaan baru menjadi “clear” setelah turun wahyu yang menyatakan Aisyah bersih tak bersalah.

Inilah pelajaran berharga bagi umat Islam tentang besarnya bahaya fitnah. Karena itulah kita (dan keluarga kita) tidak hanya diperintahkan untuk menjauhi maksiat, tetapi juga menjauhi fitnah. Karena fitnah ini besar bahayanya, bukan hanya mengancam pribadi sang da’i, melainkan juga stabilitas da’wah yang diembannya.
Wallahu a’lam bishowab.

Referensi:

Serial Cinta, karya Anis Matta
Rumah Tangga Rasulullah, karya Hamid Al-Husaini

Shubhanalloh,,,


Thanks to >> http://aditya87.wordpress.com/2008/09/15/pernikahan-nabi-muhammad-saw-dengan-aisyah-ra-dan-dakwah-pasca-nikah/

Minggu, 24 Juli 2011

Mush’ab bin Umair

…duta pertama dalam Islam.
 
.
Nama sebenaranya adalah Mush’ab bin ‘Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf al-‘Abdary al-Qursy. Digelari ‘Safir al-islam’(Duta Islam) dan ‘Mush’ab al-Khoir’(Mush’ab yang bijak), ‘al-Qori ‘(tukang baca). Beliau adalah diantara sahabat pemberani. Beliau wafat sebagai syahid pada tahun 3 Hijriah, berumur 40 tahun (atau lebih sedikit).
.

Masa kecilnya bahagia karena dibesarkan di keluarga kaya. Ibunya bernama khonnas binti malik, pemilik harta yang melimpah di kota Mekkah. Ketika menginjak dewasa, beliau adalah pemuda yang gagah, berwibawa dan paling disegani di kalangan penduduk Mekkah.

Semenjak mengikrarkan diri ikut ajaran Islam, banyak sekali cobaan yang dideritannya. Ibunya sendiri ketika tahu dia masuk Islam langsung mengurung dan menahannya di rumah dengan dipagari penjaga. Tidak hanya itu, beliau tidak diberi makan dan minum. Perutnya melilit kesakitan! Cobaan ini dihadapinya dengan penuh kesabaran hingga akhirnya keluar dari rumah setelah memperdayai penjaganya. Setelah keluar dari rumahnya, beliau langsung ikut dalam barisan umat Islam berhijrah ke Habaysah (Ethopia).

Suatu hari ibunya menangis tersedu-sedu di depannya dengan harapan agar beliau dan keluar dari ajaran Islam. Tapi dengan keyakinannya yang kuat, beliau menolak permintaan ibunya itu dengan baik. Mendengar jawaban anaknya, ibunya memutuskan untuk tidak memberi kebutuhan hidupnya lagi.

Beliau pun rela dengan keputusannya itu. Kini hidupnya tidak semewah dulu. Makan dan minumnya tidak teratur. Bahkan untuk pakiannya saja tidak diurus. Umat Islam sangat sedih melihat keadaan beliau yang sangat miskin dan tidak punya apa-apa. Pakian yang dipakai compang-camping dan makan seadanya. Rasulullah sangat memuji dengan seperti ini.

Dalam sejarah perkembangan Islam, beliau adalah duta pertama yang pernah dikirim Rasulullah ke dua belas laki-laki yang baru masuk Islam dari Yatsrib (sekarang Madinah) untuk ikut dalam pembaiatan ‘Aqobah pertama’. Tujuan pengutusan beliau, agar bisa mengajarkan kepada yang lain. Inilah sejarah ‘duta’(safir) atau Ambassador’ dalam Islam.

Diantara orang-orang yang masuk Islam atas bimbinggannya adalah Usaid bin al-Khodir, Sa’ad bin Mu’adh; keduanya adalah pengetua kaumnya. Setelah enam bulan berada di Madinah beliau balik ke tujuh dua orang muslim. Beliau juga orang pertama yang sholat jum’ah. Selama berada di Madinah, beliau tidak pernah meninggalkan rumah kecuali dengan berzikir kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, karena itulah umat Islam mengelari ‘Mush’ab al-Khoir’ (Mush’ab yang selalu berbuat baik). Selama hidup berjuang bersama Rasulullah, beliau pernah dikenalkan dengan Abu Ayyub al-Anshory.

Pada waktu terjadi dan Uhud, beliaulah yang membawa bendera Rasul. Perang Uhud memberikan pengalaman yang berharga baginya. Ketika sedang berkecamuk perang, tanggan kanannya terkena pukulan . Kemudian beliau potong tanggan kanannya karena tidak berfungsi lagi. Bendera Rasul diangkat dengan tangan kirinya. Tangan kirinya juga terkena pukulan . Beliau juga potong tangan kirinya itu. Bendera Rasul itu kemudian diapit di dadanya. Beliau masih ingin berperang. Akhirnya menusuk dadanya dengan tombak hingga akhirnya terjatuh dan mati sebagai syahid.

Beliau mirip , hingga Ibn Qomiah mengira telah membunuh Rasulullah. Kemudina dia berteriak memberi tahu bahwa Rasulullah terbunuh di tangannya. Setelah perang usai, umat Islam mendapati tubuhnya tertutupi kain pendek saja. Jika kepalanya ditutupi kain itu, kakinya kelihatan, begitu juga jika kakinya ditutupi kain itu, kepalanya terbuka. Rasulullah akhirnya perintahkan untuk menutupi kakinya dengan daun.

Menurut suatu pendapat bahwa firman Allah; “Diantara orang-orang mukmin ada orang-orang yang percaya terhadap apa yang mereka janjikan kepada Allah”(QS.al-Ahzab;23) diturunkan ketika wafatnya Mush’ab.

Sumber: http://www.2lisan.com/agama/sahabat-agama/mushab-bin-umair/

Rabu, 06 Juli 2011

Wanita Yang Mendapat Pujian Dan Wanita Yang Dilakanat Allah



Sejarah telah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka. Karena keterbatasan tempat, tidak semua figur bisa dihadirkan saat ini, namun mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita.

Wanita Yang Beriman
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :


“Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad)
1. Khadijah binti Khuwailid
Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci).
Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.
Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.
Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata:


Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).
Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah meng-gantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”
2. Fatimah
Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, putri wanita terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi Thalib.


Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”
Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami.
Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.



3. Maryam binti Imran
Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.



4. Asiyah binti Muzahim
Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata:


“Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”
Wanita yang durhaka
1. Istri Nabi Nuh


2. Istri Nabi Luth
Mereka merupakan figur dua orang istri dari para kekasih Allah yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka justru membela kepentingan kaumnya karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya. Maka kesenangan sesaat ini Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya. Istri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih, sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual).
Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firmanNya yang indah dalam surat At-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka). Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam Surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehor-matannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”
Semoga kisah para wanita ini bisa menjadi pelajaran bagi para wanita zaman ini untuk berkaca diri, kira-kira saya termasuk golongan yang mana? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?
Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan mendekatkan diri pada Allah, bukannya justru menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga keistiqomahannya dalam berIslam dia juga diberi beban tambahan oleh Allah untuk membantu suami menjalankan agamanya. Istri yang demikian meru-pakan harta yang paling berharga.
Dari kisah mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya ketundukan kepada syariat Allah dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat, sahabat, maupun orang yang paling istimewa di hati kita. Justru kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka. Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah Rabbul ‘alamin.
Mudah-mudahan kita selalu diberi keistiqomahan untuk menapaki dan mengamalkan syariat yang haq (benar) walaupun kita seorang diri. Amin.
Maraji’:


1. Ahkamun Nisa’, Ibnul Jauzi.


2. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani.


3. Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri.


4. Wanita-wanita Shalihat Dalam Lintas Sejarah Islam, Muhyidin Abdul Hamid.

Shalat Ashar di Aya Sophia


Sudah 11 kali ujicoba sepanjang 8 abad. Kesemuanya gagal. Bahkan di bawah benteng Konstantinopel itu, dimakamkan seorang mujahid yang juga shahabat Nabi; Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu anhu. Semua ujicoba itu untuk membuktikan janji Nabi dan meraih kebesaran dalam sabda beliau,
“Kalian pasti akan menaklukkan Konstantinopel, pemimpinnya adalah pemimpin istimewa dan pasukannya adalah pasukan istimewa.” (HR. Ahmad)
Muhammad al-Fatih. Dialah pemenang hadits Nabi tersebut. Anak muda itu dengan sangat dramatik dan heroik menjebol ketebalan dan ketangguhan benteng legendaris Konstantinopel.
Hari Selasa siang. Saat terlihat orang-orang Kristen berjubel keluar dari Gereja Ortodoks terbesar, Ayasophia. Nampak mereka menghela napas lega. Wajah mereka lusuh tapi tidak bisa menyembunyikan kesenangan. Pasti yang terbayang di benak mereka adalah perbandingan antara tentara mereka ketika memasuki negeri muslim yang selalu menumpahkan darah. Sementara siang itu, Muhammad al-Fatih mengumumkan di dalam gereja bahwa mereka semua dibebaskan. Tak ada yang dilukai. Tak ada yang dijadikan budak. Tak ada yang dibunuh. Bebas menentukan langkah. Boleh tetap tinggal di kota itu bersama muslimin atau pindah ke kota lain.
Hari itu tanggal 20 Jumadil Ula 857 H, tepatnya 29 mei 1453 M. Shalat Asar adalah shalat pertama yang dilakukan di Konstantinopel tepatnya di Masjid Ayasophia.
Hampir Saja Kemenangan Itu Sirna
Sebelum kemenangan besar itu, persiapan yang dilakukan oleh Muhammad al-Fatih sangatlah panjang dan serius. Tidak tanggung-tanggung. Dari meriam dengan berat berton-ton dibuat oleh pakar yang sengaja didatangkan dari jauh. Hingga benteng al-Fatih yang besar dan kokoh di pinggir Selat Bosphorus. Tak hanya itu, 400 kapal perang pun diproduksi di sekitar Selat Bosphorus.
Pembangunan benteng dan semua persiapan al-Fatih, sangat mengusik Konstantinopel. Mereka sangat takut dan khawatir, karena mereka tahu berhadapan dengan siapa; negeri muslim yang tidak tertandingi di dunia saat itu. Mereka pun tahu tujuan pembangunan benteng gagah dan pembuatan ratusan kapal perang itu.
Kekhawatiran yang menyeruak di hati para pemimpin Konstantinopel itu membuat mereka memutar otak. Bagaimana caranya agar muslimin menghentikan pembangunan benteng yang masih terus berjalan. Dan mereka pun menemukan jurus ampuh untuk menghentikan semua. Selalu saja jurus itu terulang sepanjang sejarah Islam. Dan selalu saja jurus itu sangat ampuh memporak-porandakan bangunan rapi dan kuat sebuah jamaah Islam. Negosiasi dunia. Ya, menjual umat dan dakwah dengan harta. Menjadi pengkhianat dakwah dan umat.
Pantas jika kemurkaan Allah bertubi-tubi kepada jenis orang seperti ini,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Qs. Al-Baqarah: 174)
4 jenis adzab yang...naudzubillah min dzalik...
Para pemimpin Konstantinopel sangat tahu harus membidik siapa. Siapa lagi kalau bukan para petinggi Kesultanan Turki Utsmani dan pemimpin tertingginya Muhammad al-Fatih. Pundi-pundi harta, perhiasan gemerlapan dalam jumlah yang sangat besar ditawarkan kepada para petinggi negeri muslim itu. Semuanya akan diberikan. Hanya dengan satu syarat: Hentikan jihad!
Nah, kesempatan itu terbuka. Kesempatan ‘manis’ untuk menjadi pengkhianat dakwah dan umat. Kalau saja para petinggi Utsmani tergiur ketika itu, maka tak akan pernah mereka meraih kebesaran yang disampaikan Nabi dalam hadits tersebut di atas.
Tetapi mereka semua adalah orang yang telah komitmen untuk menepis semua pengkhianatan terhadap umat dan memilih kemenangan mulia dari Allah. Di bawah kepemimpinan kuat dan shaleh Muhammad al-Fatih. Dan hasilnya, benteng legendaris Konstantinopel takluk dengan drama yang menakjubkan dan heroik. Kemenangan gemilang itu datang. Kemenangan yang dijanjikan Rasul 8 abad lalu hadir. Dengan dikuburnya pengkhianatan terhadap umat.
Maka kita semakin paham mengapa Rasulullah memuji al-Fatih 8 abad sebelum ia lahir, “...Panglima yang hebat...!”
Muaranya Adalah Rasulullah...
Semua keteguhan al-Fatih dan pasukannya adalah semangat besar yang bisa kita lihat pada Rasulullah. Sumber semua keteguhan. Sumber semua keteladanan.
Dakwah Islam di Mekah ketika itu, tidak bisa dibendung perkembangannya. Berbagai upaya thoghut menghentikan dakwah tidak membuahkan hasil. Bahasa lembut meminta baik-baik agar dakwah dihentikan sudah mereka lakukan. Ancaman kepada pemimpin tertinggi dakwah; Rasulullah, sudah mereka keluarkan. Hasilnya justru mengejutkan. Hanya dalam 3 hari saja, dua tokoh besar Quraisy menyatakan diri bergabung dengan barisan Rasulullah; Hamzah kemudian Umar radhiallahu anhuma. Mekah gempar!
Dakwah tidak bisa dihentikan. Maka, mereka mengeluarkan jurus jitu itu. Setelah kesepakatan rahasia di antara musuh Islam, maka jubir mereka Abul Walid Utbah bin Rabiah menghadap Rasulullah. Membawa segepok tawaran dunia.
Mari kita ikuti ‘kalimat manis’ penghancur dakwah, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya Anda –sebagaimana yang Anda ketahui- berasal dari keluarga yang baik, nasab yang mulia. Anda telah membawa hal baru yang menghebohkan, yang membelah kebersamaan mereka, melenyapkan impian mereka, merendahkan tuhan dan agama mereka, mengkafirkan nenek moyang mereka. Maka dengarkanlah aku, aku tawarkan sesuatu, semoga Anda bisa menerima sebagiannya."
Rasulullah, “Katakan hai Abul Walid, aku dengarkan.”
Abul Walid, “Wahai anak saudaraku, jika yang Anda inginkan dari semua ini adalah harta, kita siap mengumpulkan harta-harta kami untukmu hingga Anda menjadi orang yang paling berharta di antara kami. Jika Anda ingin kemuliaan, kita jadikan Anda tokoh kami dan kami tidak memutuskan masalah tanpamu. Jika Anda ingin kekuasaan, kami jadikan Anda penguasa kami. Tetapi jika itu adalah gangguan yang tidak bisa Anda lawan, kita carikan tabib untuk mengobati Anda. Kita akan keluarkan biaya dari harta kami hingga Anda sembuh.”
Rasulullah, “Sudah selesai hai Abul Walid?”
Abul Walid, “Sudah.”
Rasulullah, “Sekarang, dengarkan saya!”
Dan inilah jawaban Qur’ani yang menegaskan sikap Rasulullah yang tidak mungkin menjadi pengkhianat penjual dakwah.
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)." (Qs. Fushshilat: 1-5)
Nabi terus membaca ayat demi ayat hingga sampai ayat sajdah dalam surat tersebut. Nabi pun bersujud. Kemudian berkata, “Abul Walid, Anda sudah mendengar. Itulah Anda!”
Tegas sekali. Rasulullah tegas menolak negosiasi dunia untuk menggadaikan dakwah ini.
Sejarah Pasti Berulang
Kita mesti belajar langsung dari Rasulullah dan dari orang yang dipuji kehebatannya oleh Rasulullah; Muhammad al-Fatih.
Rasulullah wafat dan Madinah telah menjadi negara Islam yang kokoh. Kemenangan demi kemenangan terus diukir oleh para alumni tarbiyah Rasulullah.
Muhammad al-Fatih wafat dan kebesaran kesultanan Turki Utsmani, terutama penaklukan bersejarah benteng Konstantinopel begitu harum dan menyeruak sepanjang zaman.
Rasulullah dan al-Fatih menolak mentah-mentah negosiasi dunia. Tegas mengubur pengkhianatan dengan semua variabelnya.
Kemenangan penuh izzah pun memihak mereka. Kemenangan yang selalu dicatat harum oleh sejarah. Dan sejarah pun berulang. Nashran ‘Aziza (kemenangan penuh izzah) akan diraih oleh muslimin, manakala para petingginya tahan terhadap berbagai macam tawaran gemerlap dunia dari musuh dakwah.
Hari ini, Ayasophia tak lagi berfungsi sebagai masjid. Kita kehilangan simbol besar kemenangan umat Islam di Turki.
Para pemimpin muslimin harus berani berkata tidak pada pengkhianatan dakwah dan umat. Agar kita bisa Shalat Asar di Masjid Ayasophia. Seperti Muhammad al-Fatih.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More