This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selamat Datang Semoga Bermanfaat, Pengelola Web Akan Sangat Senang Bila Anda Berkenan Meninggalkan Jejak Berupa Koment Atas Postingan Kami
Tampilkan postingan dengan label LEADESHIP AND MANAGEMENT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LEADESHIP AND MANAGEMENT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

Pelatih Bisnis-Bagaimana Mengelola Memori Agar Bisnis Sukses

Pelatih bisnis saya bertanya, “Taukah anda binatang apa yang paling kuat ingatannya?” Jawabnya adalah gajah …  Bahkan ada sebuah idiom, “you have a memory like an elephant… Karena gajah tidak pernah lupa”, demikan jelas pelatih bisnis saya.

Menurut scientist gajah gajah memiliki kemampuan untuk mengingat segala-galanya. Ia ingat saat sejak bayi apapun yang ia lalui, dimana lokasi makanan, dimana keluarga terdekatnya, lokasi sungai yang paling dekat. Di banyak kebudayaan sepertia asia, india, china, persia, gajah adalah lambang wisdom.berat otak gajah 5 kg, paling berat diantara mahluk darat yang hidup saat ini. Otak gajah memiliki kemampuan unik ia bisa mencerna kesedihan, membuat musik, seni, altruisme,allomothering, bermain, penggunaan alat-alat, belas kasih dan kesadaran diri. Meskipun besar, gajah bisa berenang nonstop selama 6 jam sepanjang 50km.
Masalahnya, mereka tidak dapat memilih memory yang bermanfaat dan tidak bermanfaat. Jika gajah dapat mengendalikan pikirannya, ja bisa menjadi penguasa hutan yang sangat kuat dan powerful.
Di sebuah arena sirkus ada satu hal yang mengejutkan, gajah tidak membutuhkan kandang. Mungkin kita dapat mengurung singa, beruang dan harimau tapi tidak pernah ada kandang untuk gajah.
Lalu bagaimana cara menahan mahluk yang sangat kuat ini dari niatan melarikan diri?
Ini dia, yang mereka lakukan hanya mengikatkan seutas tali (atau rantai tipis) ke kaki gajah dan mengikatnya ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah ketika gajah masih bayi. Sekali kakinya sudah terikat, maka ia tidak akan mencoba melarikan diri lagi.

Sekarang, apakah anda pikir gajah yang memiliki kekuatan besar tersebut tidak mampu menghancurkan rantai atau tali tersebut bila dia mau? Tentu saja bisa dan mampu, bahkan bisa menumbangkan sebuah pohon. Tapi mengapa dia tidak memutuskan tali tipis yang melingkar dikakinya? Cerita pelatih bisnis saya masih membingungkan, apa hubungan antara memori, bisnis dan gajah?
Pelaih bisnis saya melanjutkan, para pawang membiarkan gajah-gajah tersebut percaya bahwa dia tak bisa memutuskan tali tersebut. Keadaan ini berlangsung sejak kecil…yaitu dengan cara ketika seekor bayi gajah lahir dan masih terlalu lemah untuk berjalan bahkan berdiri, mereka (para pawang) mengikat kaki gajah kecil itu ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Dan dapat dipastikan ketika bayi gajah tersebut mencoba berlari menuju induknya, ia tidak dapat memutuskan tali tersebut.
Bahkana pernah ada cerita seekor gajah yang mati terbakar dengan ikatan rantai kecil dikakinya. Dalam suatu ketika ada pertunjukan sirkus di suatu kota, tiba-tiba gedung sirkus itu terjadi kebakaran. Hewan-hewan didalam mulai berlarian ada seekor gajah yang kakinya diikat dengan rantai kecil. Ketika api makin membesar sang gajah pun tetap berada didalam gedung itu dan pada akhirnya gajah itupun mati terbakar.

Memori terbatas
“Adakah binatang lain yang sangat bertolak belakang dengan gajah?” tanya pelatih bisnis saya dengan penuh keyakinan. yaitu keledai. Mereka bukan binatang yang bodoh, mereka binatang yang cerdas. Bedanya jika gajah adalah binatang yang tidak dapat mendelete memory, keledai adalah binatang yang tidak dapat menympan memory.

Nah, ini pesan pelatih bisnis saya, manusia bukan gajah dan bukan keledai. Kita bisa mengingat dan memilih untuk melupakan. Sayangnya, kita seringkali salah memilih. Kita memilih untuk mengingat kegagalan, kesedihan, dan kekecewaan kita dan melupakan kemenangan, kesuksesan, keberanian, kebahagiaan, kemampuan yang telah diakumulasi selama hidup.
Tips saya hari ini, jangan menjadi gajah, jangan jadi keledai, tapi jadilah manusia yang tercerahkan. Pilih untuk mengingat kebaikan, bukan keburukan, catat semua kebaikan dalam hati setiap orang dan lupakan kekhilafan mereka.

Salam pencerahan!

Source : http://www.topcoachindonesia.com/pelatih-bisnis/

Selasa, 14 Agustus 2012

10 Kesalahan dalam Merintis Bisnis


Tantangan terbesar seorang entrepreneur adalah saat memulai bisnis rintisannya. Tentunya, saat-saat tersebut merupakan saat yang sangat menentukan bagi kesuksesan bisnis di masa depan. Berikut ini kami sajikan 10 kesalahan yang harus dihindari dalam memulai sebuah bisnis.

1. Mencoba menjadi kaya secara instan

Keberhasilan yang terjadi secara mendadak sebenarnya membutuhkan waktu 15-20 tahun untuk dicapai. Jika Anda berusaha hanya untuk menjadi kaya secara secara cepat hanya dalam waktu semalam, Anda hanya akan menjadi putus asa dan menyerah dengan lebih cepat dalam meraih impian Anda. Ketahui bahwa keberhasilan itu dicapai dengan susah payah dan memerlukan waktu. Dibutuhkan pula keteguhan hati dan keberuntungan dalam jumlah tertentu. Berikan usaha Anda waktu untuk berkembang. Hanya jika usaha Anda mengalami kemandekan untuk jangka waktu yang lama, mungkin sudah saatnya Anda mempettimbangkan sebuah usaha lain yang baru dan lebih menjanjikan.

2. Beranggapan bahwa kompetisi itu tidak ada

Bahkan jika Anda memiliki pendekatan yang terbaru dan terbaik yang belum pernah dilakukan sebelumnya, jangan berasumsi bahwa Anda pasti tidak akan memiliki pesaing. Kompetisi lebih dari sekedar persaingan secara langsung dan sederet pesaing yang kasat mata. Persaingan juga bisa berupa pilihan alternatif yang tersedia selain produk atau jasa Anda. Hal lain apakah yang  para konsumen bisa lakukan jika mereka tidak memilih produk atau jasa Anda? Apakah mungkin mereka tidak melakukan apa-apa? Pelanggan pastinya selalu memiliki banyak pilihan untuk menggunakan yang lainnya. Ini juga harus dianggap sebagai salah satu ancaman pesaing yang serius.

3. Menjadi pemimpin yang lemah

Keberhasilan perusahaan Anda tergantung pada kemampuan Anda menjadi pimpinan yang kuat dan efektif. Hal ini bukan berarti Anda harus menjadi seorang pemimpin otoriter dan tidak juga berarti Anda harus menjadi teman semua orang. Seorang pemimpin yang baik menetapkan tujuan dan cara bagi perusahaan, mengkomunikasikannya secara terus menerus dan menginspirasi timnya untuk meraih keberhasilan tersebut.

4. Berfokus pada bisnis setiap waktu

Banyak pengusaha berfokus penuh pada kehidupan bisnis mereka daripada kehidupan pribadi. Akibatnya kedua-duanya akan menderita. Tidak ada keraguan bahwa usaha membutuhkan perhatian serta usaha penuh dari Anda tetapi hanya dalam jangka pendek. Seperti layaknya seorang atlet profesional, selain berusaha keras untuk menjadi unggul pada saat berlaga dalam pertandingan, Anda harus menjalani program pelatihan yang bagus dan memadai. Anda harus menjalani diet yang tepat, beristirahat yang cukup, dan rehat di saat yang diperlukan. Cobalah untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan bisnis Anda dan Anda akan berprestasi di kedua bidang itu.

5. Tujuan keuangan yang muluk-muluk

Bila semua rencana bisnis bisa menjadi nyata dengan sangat mudah dan tanpa usaha keras, menjadi miliuner bukanlah sesuatu yang istimewa lagi. Banyak entrepreneur menjalani usaha baru dengan berencana untuk  mendapatkan laba yang sebesar-besarnya. Namun, kebanyakan dari mereka tidak pernah dapat menjalankan usaha dengan sebenar-benarnya. Tujuatujuan yang tidak realistis tidak hanya mencederai kredibilitas Anda tetapi juga bisa melelahkan Anda secara emosional. Tetapkan tujuan yang spesifik, terukur (measurable), dapat dipertanggungjawabkan (accountability), realistis, dan spesifik dalam hal waktu untuk memastikan kemajuan yang berkelanjutan. Peluang untuk menjadi sukses dalam waktu semalam saja  (meskipun dalam jangka waktu 15 hingga 20 tahun) sangatlah besar dan luas.

6. Tidak ada titik penyatuan

Selalu ada alasan mengapa para karyawan meninggalkan perusahaan yang bersedia membayar gaji tinggi untuk beralih untuk merintis usaha, dan biasanya bukan karena uang semata. Orang-orang terdorong untuk mengabdikan diri pada tujuan yang penting, di samping membawa pulang rejeki untuk seluruh anggota keluarga. Banyak usaha tidak pernah mendefinisikan tujuan nyata mengenai keberadaan mereka. Dan hal ini membuatnya terus menerus menarik berbagai macam karyawan yang mencari keberhasilan dengan cara yang bermacam-macam pula. Jelaskan tujuan perusahaan Anda selain tujuan mengumpulkan keuntungan semata. Dengan demikian Anda akan dapat memberikan kesempatan bagi para karyawan yang bertujuan serupa untuk datang dan bekerjasama. Sebuah tim yang terfokus pada satu tujuan yang sama merupakan sebuah kekuatan yang amat kuat.

7. Memotong harga

Sering hal pertama yang dilakukan para entrepreneur saat bisnis mereka mengalami kesulitan ialah dengan mencoba melakukan diferensiasi harga. Harga yang lebih rendah berarti lebih banyak pembeli, bukan? Salah! Sebagian besar pembeli ingin membeli barang-barang yang lebih mahal karena memiliki kualitas yang lebih baik atau tingkat kenyamanan yang lebih tinggi. Selama saat-saat sulit, biasanya kenaikan harga, diiringi dengan perbaikan dalam kualitas atau kenyamanan dapat membuat pelanggan menjadi terdorong. Pemotongan harga merupakan permainan yang berbahaya. Pada beberapa titik, Anda harus melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri agar tetap menekan harga.

8. Tidak ada pesan pemasaran yang jelas

Anda tidak akan pernah tahu di mana, kapan, atau bagaimana sebuah calon pelanggan/ mitra baru akan muncul dan melihat keberadaan bisnis Anda. Jika Anda memiliki suatu campuran dari banyak pesan di luar sana, si calon pelanggan/ mitra potensial akan merasa tidak jelas mengenai harapan yang mereka miliki terhadap tawaran Anda. Perusahaan Anda harus menampilkan sebuah pesan yang jelas dan konsisten ditinjau dari segala sisi. Anda tidak akan mendapatkan kesempatan kedua untuk membuat mereka terkesan pada pandangan pertama. Pastikan juga setiap kesempatan  yang didapatkan pelanggan atau mitra potensial baru itu untuk melihat usaha Anda pertama kalinya mengirimkan pesan yang serupa secara konsisten.

9. Tidak bersikap terus terang

Sudah bukan saatnya Anda harus berbelit-belit dan menutup-nutupi. Karakteristik internet yang anonim dan luasnya cakupan internet membuat semua orang, bahkan anak-anak bisa memublikasikan apapun dengan bebas. Jika usaha Anda mencoba untuk menutupi kesalahan, hanya masalah waktu sebelum rahasia itu terbongkar dan Anda akan dicap sebagai pembohong. Itu tentunya menjadi preseden buruk bagi usaha Anda. Jadilah yang pertama yang mengabarkan berita buruk yang menimpa Anda. Justru Anda akan dianggap lebih dapat dipercaya dan jujur.

10. Mencoba untuk melakukan semua hal sendirian

Kesalahan terbesar yang dibuat entrepreneur ialah memercayai bahwa mereka dapat melakukan semua hal sendiri. Sementara seorang entrepreneur dapat melakukan sebagian besar hal sendiri, mereka melakukan banyak hal dengan kualitas yang kurang memadai. Seperti juga orang lain, seorang entrepreneur memiliki satu atau dua bakat yang diberikan oleh Tuhan. Sebagai seorang entrepreneur justru itulah pekerjaan Anda: mengenali sedikit hal yang dapat Anda lakukan dengan lebih baik dari orang lain dan lakukanlah dengan sepenuh hati dan tenaga. Jika Anda merasa lemah dan membutuhkan dukungan, dapatkan sebuah lingkungan yang dipenuhi dengan teman-teman yang suportif. Perusahaan yang baik dibangun  berdasarkan pada pondasi dalam mengeksploitasi sedikit kelemahan, daripada dibangun dengan mendasarkan diri pada penguasaan untuk melakukan semuanya dengan baik. (*/dari berbagai sumber)

Inilah Kesalahan Fatal Saat Memulai Bisnis

Setiap orang tentu berharap bisnis baru yang mereka kembangkan bisa berjalan lancar dan menguntungkan. Akan tetapi, jika kurang berhati-hati, sejumlah kesalahan finansial yang dilakukan bisa berakibat fatal dan menghancurkan kelangsungan bisnis.

Jika Anda berniat untuk memulai bisnis, ada baiknya belajar dari beberapa kesalahan-kesalahan yang umumnya dilakukan pemilik bisnis, seperti diuraikan berikut ini:

Perencanaan buruk

Banyak pebisnis baru membuat perkiraan optimistis yang liar tentang penjualan di masa depan. Agar bisa bertahan, Anda harus membuat perkiraan keuangan secara mendetail yang mencakup strategi harga, perkiraan pengeluaran langsung serta variabelnya, dan perencanaan arus kas. Jika ragu, pikirkan kemungkinan penjualan terburuk dan lebihkan perkiraan tagihan Anda. Anda juga harus menganalisis target pasar dan mempelajari para pesaing Anda.

Kekurangan modal

Hal ini merupakan kesalahan terbesar dalam memulai bisnis baru. Modal awal yang kurang bisa menghancurkan usaha dan membahayakan biaya hidup keluarga Anda. Sebelum memulai sebuah bisnis, pastikan Anda memiliki uang tunai di tangan untuk mencukup kebutuhan hidup sehari-hari, sampai mendapatkan pelanggan yang memberikan keuntungan untuk bisnis Anda.

Tidak membuat catatan akurat

Gagal membuat catatan keuangan secara akurat bisa menimbulkan masalah dengan pajak usaha, dan berisiko mengancam masa depan bisnis Anda. Catatan akunting memberitahu Anda apa yang berjalan benar dan apa yang salah, dan memberi petunjuk mengenai jebakan yang mungkin muncul di masa depan.

Tidak mengelola arus kas dengan baik

Kelebihan inventaris, manajemen akun piutang yang buruk, dan kebijakan kredit yang buruk dapat membuat bangkrut usaha yang dinyatakan layak. Hal ini adalah penyebab seretnya aliran kas Anda. (*/dari berbagai sumber)

Source : http://www.ciputraentrepreneurship.com/amankan-bisnis/17883-inilah-kesalahan-fatal-saat-memulai-bisnis.html

Jumat, 23 September 2011

Kisah Dua Sahabat

Alkisah, di sebuah perguruan beladiri yang terletak di atas bukit, ada dua orang murid yang bersahabat. Biarpun tinggal di bukit yang berbeda, yang dibatasi oleh sebuah anak sungai, tapi jadwal rutin mereka sama. Setiap hari, keduanya bertemu pada saat mengambil air di sungai untuk keperluan minum dan hidup mereka.

Pada suatu hari dan beberapa hari kemudian, murid yang lebih muda mulai merasa khawatir karena dia tidak bertemu dengan sahabatnya saat mengambil air.

"Duh, jangan-jangan temanku sakit atau terjadi kecelakaan! Atau mungkin bahkan dia telah pergi dari sini tanpa pamit?" batinnya penuh rasa gelisah.

Dengan penasaran dan niat untuk membantu kalau-kalau sahabatnya itu sakit atau celaka, si pemuda mendatangi bukit sebelah untuk mencari tahu jawabannya. Tiba di sana, dia melihat sahabatnya sedang berlatih beladiri dan pernafasan. Dia tampak sehat dan tidak kurang suatu apapun.

"Hai Kak, sudah beberapa hari ini saya tidak melihat kakak mengambil air. Saya sangat khawatir kalau kakak sakit atau kecelakaan. Syukurlah kalau sehat-sehat saja. Tetapi kenapa kakak tidak lagi mengambil air? Bukankah air minum dan keperluan sehari-hari masih diperlukan?" ujar si murid muda penasaran.

"Terima kasih, Dik. Kamu lihat sendiri, kakak sehat-shat saja. Mari sini, kakak tunjukkan!"

Sambil berjalan, murid yang lebih tua ini melanjutkan," Bukannya kakak tidak butuh air lagi, tetapi selama setahun ini, kakak telah bekerja keras di sela-sela waktu istirahat atau bila pekerjaan bisa kakak selesaikan lebih cepat. Kakak menggali tanah mencari sumber air! Kakak yakin, di sekitar sini pasti terdapat banyak sumber mata air dan jika kita mau mencari dan menggali, pasti akan mendapatkan sumber air. Ternyata usaha dan keyakinan kakak tidak sia-sia."
 
 
"Nah, sekarang kakak bisa berlatih dengan lebih giat dan mengerjakan hal-hal yang lebih bermanfaat serta lebih menyenangkan dibandingkan dengan kegiatanmengambil air yang setiap hari telah kita lakukan," jelas murid yang jauh lebih tua itu dengan senang.

Netter yang Bijaksana,
 
Murid yang lebih tua menggambarkan sosok manusia yang memiliki kesadaran lebih tinggi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan menyenangkan. Dia sadar, bahwa masa depan harus dipersiapkan dari saat ini. Dia juga bersedia menempuh risiko, karena ia percaya pada "harapan" bahwa yang akan dicapainya adalah sesuatu yang lebih besar dan berarti.

Dengan manajemen waktu yang baik dan sikap siap berjuang dan berkorban, niscaya keberhasilan dapat kita raih.

Salam sukses luar biasa!!!


http://www.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/4270/Kisah_Dua_Sahabat/#.TmnJjnReGfU.twitter

Kamis, 22 September 2011

4 Dimensi Kunci dalam Psychological Capital

taichi-re.jpgKetika kita dihadapkan pada tantangan yang kian menggunung (baik tantangan dalam arena pekerjaan di kantor ataupun dalam kehidupan personal), rajutan sikap semacam apa yang kita bentangkan? Ketika derap problema kehidupan selalu mengendap di setiap sisi perjalanan, apa yang kita senandungkan untuk memeluknya dengan penuh harapan?

Adakah cobaan demi cobaan yang terus datang menggedor itu kita hadapi dengan penuh deru kegigihan? Adakah kita bisa selalu bangkit, dan bangkit lagi setiap kali terpeleset di tikungan jalan kehidupan? Adakah kita masih bisa menghela semangat ketekunan bahkan ketika jalan masih terasa begitu jauh dan penuh dengan pendakian yang amat terjal?

Para ahli psikologi menyebutkan sikap semacam itu sebagai level of resiliency. Atau sejenis kegigihan dan keuletan yang menggumpal. Melalui sejumlah riset empirik yang melibatkan ribuan respoden, resiliency muncul sebagai salah satu dimensi paling utama untuk mereguk kesuksesan dalam arena kehidupan (baik kehidupan profesional ataupun personal).

Itulah salah satu bahasan yang diuraikan dalam buku menarik bertajuk Psychological Capital : Developing the Human Competitive Edge yang ditulis oleh Fred Luthans dan kawan-kawan (beberapa waktu lalu Pak Fred yang pakar manajemen SDM kelas dunia ini diundang ke Jakarta untuk membedah bukunya yang memikat itu).

Psychological capital sendiri dapat diartikan sebagai modal psikologis atau semacam modal sikap dan perilaku yang berperan besar dalam menentukan keberhasilan. Melalui beragam penelitian psikologis dan eskperimen saintifik, buku ini mencoba menelisik modal psikologis apa saja yang memiliki peran signifikan dalam membingkai kesuksesan.

psy-cap-re.jpgDisini para penulis buku tersebut menunjuk empat dimensi yang terbukti secara empirik (dan saintifik) memberikan pengaruh besar dalam kesuksesan.
Seperti telah disebutkan diatas, dimensi pertama yang sangat penting adalah resiliency. Atau kecakapan untuk terus merekahkan ikhtiar bahkan ketika orang itu dihadapkan pada cobaan ataupun kegagalan. Atau sejenis kemampuan untuk terus bertahan bahkan ketika dihadapkan pada tekanan atau tantangan yang terus datang menghadang.

Sembari bertahan, mereka terus menganyam siasat untuk bisa keluar dari tekanan itu. Mereka juga kemudian terus melakukan serangkaian tindakan untuk meringkus tantangan, dan kemudian menggulungnya dalam sekeping solusi yang bisa dijalankan.

Dimensi kedua yang juga memegang peran penting adalah self-efficacy. Atau sejenis sikap percaya akan kemampuan diri. Sebuah keyakinan bahwa ketika kita dihadapkan pada tugas dan tantangan, kita percaya pasti bisa menuntaskan tugas itu. Betapapun berat dan kompleks-nya tugas dan pekerjaan itu.
Orang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung menyukai tantangan dan “set high goals for themselves; and even they self-select into difficult tasks”. Ketika dihadapkan pada bentangan tugas yang challenging, mereka percaya dengan kompetensi dirinya, dan yakin bisa mengelola beragam sumber daya untuk menaklukan beragam tantangan itu.

Dimensi ketiga yang disebut dalam buku itu adalah HOPE. Dimensi itu tidak hanya melulu merujuk pada sebuah harapan positif akan masa depan yang lebih baik. Namun yang lebih penting, dimensi hope ini juga mengindikasinya adanya kecakapan untuk merajut jalan (pathways) agar masa depan yang lebih baik itu bisa tergenggam erat-erat. Dengan demikian, dimensi hope merupakan gabungan antara harapan, dan sekaligus rajutan jalan yang konkrit untuk mewujudkan harapan itu menjadi kenyataan.

Sebab kita tahu, harapan indah yang menari-nari segera akan meruap menjadi fatamorgana kalau ia tidak segera dibarengi dengan “pathway” yang jelas dan konkrit untuk menapakinya.

Dimensi yang terakhir adalah optimism. Seperti yang pernah dibahas disini, optimisme adalah sejenis keyakinan bahwa kita pasti akan mendapatkan hasil positif dalam setiap tugas dan pekerjaan yang kita lakoni. Ketika dihadapkan pada peristiwa negatif yang menghadang, orang optimis selalu melihat kejadian itu sebagai sesuatu yang hanya sementara (temporer) dan bersifat spesifik (artinya tidak akan berlaku di situasi lainnya).
Dengan cara pandang semacam itu, orang optimis selalu akan melihat “setback” dan “kegagalan” dengan kacamata “positif”. Artinya mereka tidak akan melulu meratapi kegagalan itu dengan sembilu yang berkepanjangan. Mereka tidak terjebak pada masa silam (past setback); dan hanya terus melangkahkan kaki ke depan dengan keyakinan positif.

Itulah empat dimensi utama pembentuk modal psikologis (psychological capital) yang solid. Resiliency. Self-Efficacy. Hope. Optimism. Kita berharap empat dimensi ini bisa terus menempel dan menjejak dalam relung sanubari kita yang paling dalam.

 http://strategimanajemen.net/2010/08/23/4-dimensi-kunci-dalam-psychological-capital/#more-846


hmmm,,, jadi pengen punya bukunya,,,

Minggu, 18 September 2011

7 Wonderful Qualities of a Leader

Oxford Advanced Learner's Dictionary, New 8th edition (2010), defines leader as a person who leads a group of people, especially the head of a country, an organization, etc.

To be a wonderful leader, one should possess combinations of some of the following qualities:

1) Leaders Have Good Communication Skills
Leaders are good communicators. They leave no doubt about the meaning of their message. That's what Stan Toler (2002) wrote in his book "Minute Motivators for Leaders". He added that communication process is not complete until the audience has both listened and understood the delivered message.

Bob Adams (2001) in his book "The Everything Leadership Book" said that effective communication skills are integral to any working partnership / team or personal relationship. Therefore, according to him, it is safe to say that good communication skills are one of the building blocks of being an effective leader.

2) Leaders Are People with Courage
Courage is largely habit and self-confidence. It is a valuable commodity on the battlefield or in the board room. Alan Axelrod (1999) mentioned this in his book "Patton on Leadership". According to him, General George S. Patton, Jr., one of the most decorated American heroes during World War II, believed that courage could be learned – acquired through practice.

According to Marshall Loeb and Stephen Kindel (1999) in their book "Leadership for Dummies", leaders learn how to suck up their courage, trust their instincts, and move ahead into the unknown, even when they're just as scared as their followers.

3) Leaders Pay Attention to Details
During World War II, in commanding the U.S. Third Army, General Patton understood that wet socks lead to trenchfoot and other conditions that keep a man from marching, wrote Axelrod (1999). Socks are a small and lowly item, but Patton realized that on dry socks (and healthy feet), the efficiency of his army depended.
On the other hand, lack of attention to details can result in tragedy. According to Seth Godin (1995) in his book "Wisdom, Inc.", the space shuttle Challenger exploded because a fifteen-cent rubber part did not function in unusually cold weather. Several brilliant scientists (and astronauts) were killed because this one tiny detail was overlooked.

Napoleon Hill (1937) in his book "Think and Grow Rich" mentioned about the mastery of detail, which was one of the 11 important factors of leadership. According to him, successful leadership calls for mastery of the details of the leader's position.

4) Leaders are Problem Solvers
"You can measure a leader by the problems he tackles. He always looks for ones his own size", wrote by John C. Maxwell (1999) in his book "The 21 Indispensable Qualities of a Leader".

Every workplace will have some conflict, no matter how great the leadership team may be. Leaders need to identify conflict as early as possible and determine what kind of conflict is involved and its underlying causes. These remarks were written by Bob Adams (2001) in his book "The Everything Leadership Book".

5) Leaders Build Relationships
Building relationships based on trust was one of the topics covered by Ian Lawson (2001) in his book "Leadership". According to him, there are seven key behaviours / attributes in this area:
  • Not putting self-interest before the interests of your staff,
  • Keeping promises and doing what you say you will do,
  • Being in touch with and sensitive to other people's feelings,
  • Being calm in a crisis and when under pressure,
  • Being honest and truthful,
  • Not taking personal credit for other people's work, and
  • Always being fair.
6) The Leader as Team-Builder
Ismail Noor (2002) wrote his book "Prophet Muhammad's Leadership" that the Prophet Muhammad s.a.w. is acknowledged as an exemplary team leader who knew how to get the best out of his principal lieutenants by understanding the true value of the human resource factor.

According to him, effective team-working stems from people complementing, rather than, rivalling, each other or merely co-existing alongside one another.

The leading members of the Majlis Syura or the Consultative Council during the time of the Prophet's governance were Abu Bakar As-Siddiq, Umar Al-Khattab, Uthman Al-Affan, Ali bin Abi Talib, Zaid bin Thabit Al-Ansari, Abd. Rahman bin 'Auf, Salmaan Al-Farsi, and 'Ubayy bin Ka'b.

7) The Leader as Visionary
In her book "Leadership Skills for Managers", Marlene Caroselli (2001) stated that for leaders to effect positive change, they must have a picture of what the improvement will look like. That improvement, on a small or grand scale, is called a vision.

According to Ros Jay (2004), vision is the ability to develop the future strategy of the business. In her book "The Successful Candidate", she wrote: "vision implies that not only can you see ahead and respond well in advance, but that you can also be pro-active, setting the trend yourself and setting how the business will look in several years' time.

"Wonderful leaders are comparable to eagles. They fly higher but not in flocks, like most birds".


Inspired from http://www.iluvislam.com/gaya-hidup/kepimpinan/1387-7-wonderful-qualities-of-a-leader.html

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More