19.19
Perantau Ideologis
Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang?
Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.
copas from
17.50
Perantau Ideologis
Sepanjang sejarah Khilafah tidak semuanya lurus. Khalifah adalah manusia yang juga bisa menyimpang dari Islam. Namun, penyimpangan perilaku khalifah dari hukum syariah bukan karena kesalahan sistem Khilafahnya. Karena itu, kalau ada khalifah yang terbunuh, yang salah bukanlah sistem Khilafahnya, tetapi tindakan pembunuhan itulah yang menyimpang dari hukum syariah. Karena itu, menyerang sistem Khilafah berdasarkan praktiknya yang menyimpang dari syariah Islam tentu adalah kesalahan fatal.
Dalam sejarah sistem demokrasi Amerika Serikat, empat presidennya (Abraham Lincoln, James Abram Garfield, William McKinley, dan John F Kennedy) semuanya tewas terbunuh. Sejarah demokrasi AS juga mengalami perang saudara antara pihak Utara (Union) dengan Selatan (konfederasi). Lebih dari
500 ribu orang terbunuh dalam perang ini. Meskipun demikian, pengusung demokrasi tidak pernah menyalahkan sistem demokrasi karena adanya pembunuhan terhadap presidennya atau perang saudara tersebut.
Karena Khalifah bisa menyimpang, di dalam Islam mengoreksi Khalifah bukan hanya hak, tetapi juga kewajiban. Hal ini karena Khalifah bukanlah sumber kedaulatan hukum seperti dalam sistem monarki. Khalifah adalah manusia biasa yang mungkin saja keliru. Dalam hadisnya Rasulullah saw. menyebut aktivitas mengoreksi penguasa lalim sebagai afdhal al-jihad (jihad paling utama) dan siapa pun yang meninggal karena mengoreksi pemimpin zalim sebagai sayyid asy-syuhada’.
Sekali lagi, kita harus membedakan sistem Khilafah dengan pelaksanannya dalam sejarah. Adanya penyimpangan dalam pelaksanaan sistem Khilafah tidaklah menggugurkan kewajiban menegakkan Khilafah. Sama seperti adanya orang yang keliru melaksanakan shalat bukan berarti menggugurkan kewajiban shalat. Kewajiban menegakkan Khilafah dan mengangkat kholifah tetaplah wajib adalah berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat.
Namun, dari sejarah kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap pelanggaran atau penyimpangan dari hukum syariah, meskipun di era Khilafah, akan membawa masalah. Apalagi kalau kita tidak melaksanakannya sama sekali seperti sekarang ini. Kita menegaskan pula, Khilafah yang akan kita tegakkan adalah Khilafah yang berdasarkan manhaj Kenabian (‘ala minhaj an-Nubuwwah), bukan yang menyimpang. Kita tentu saja bertekad, tidak mengulangi penyimpangan-penyimpangan yang pernah dilakukan oleh Khalifah dalam sejarah Kekhilafahan masa lalu.
Mengangkat sebagian sejarah Khilafah yang gelap, tetapi menutup-nutupi sejarah panjang kejayaan Khilafah adalah cara pandang yang tidak obyektif dan juga ahistoris. Apalagi menyatakan sistem Khilafah membelenggu pemikiran umat tanpa disertai bukti-bukti. Bukankah justru dalam sistem Khilafah banyak bermunculan para ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka dengan karyanya yang gemilang—seperti para Imam Madzhab terkemuka, al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan banyak lagi lainnya?
Imam Syafii, misalnya, menurut al-Marwazi, karyanya mencapai 113 kitab tentang tafsir, fikih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam Al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah Al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah dan Ar-Risalah al-Jadidah.
Adapun Imam Ahmad bin Hanbal menyusun kitabnya yang terkenal, Al-Musnad. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, an-nasikh wa al-mansukh, tarikh, dll. Imam Ahmad juga menyusun kitab Al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab Ash-Shalah, kitab As-Sunnah, kitab Al-Wara‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab Al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah, dll.
Cendekiawan Muslim lainnya di era Khilafah bukan hanya fakih di bidang agama, tetapi juga menghasilkan kaya ilmu sains yang diakui dunia. Karya mereka diakui memberikan sumbangan pada era renaisaince Eropa. Menurut Sir Thomas Arnold, tanpa peran Arab (Muslim)—tentu di era Kekhilafahan Islam, ed.—peradaban modern Eropa bisa jadi tidak bangkit sama sekali. “It is highly probable that, but for the Arabs (Muslims), modern European civilization would never have arisen at all.” (Sir Thomas Arnold and Alfred Guillaume, The Legacy of Islam, 1997).
Di bidang kedokteran terdapat Ibnu Sina. Dalam Encylopedia Britannica ditulis tentang karya Ibnu Sina ini: The Canon of Medicine (Al-Qanun fi ath-Thibb) adalah buku yang paling terkenal dalam sejarah kedokteran baik di Timur dan Barat. Buku ini digunakan Sekolah Medis di Timur dan Barat selama 500 tahun. Menurut Toby E Huff, The Canon of Medicine adalah buku pertama yang mengurai obat-obatan berdasarkan pengujian, uji coba obat eksperimental klinis, uji coba terkontrol secara acak, tes efikasi, analisis faktor risiko, dan gagasan tentang sindrom dalam diagnosis penyakit tertentu (Huff, Toby, The Rise of Early Modern Science: Islam, China, and the West, Cambridge University Press, 2003).
Di bidang fisika terdapat Al-Kindi (abad IX M). Karya pakar fisika ini tentang fenomena optik diterjemahkan ke Bahasa Latin yang memberikan pengaruh besar Roger Bacon. Pakar fisika yang lain adalah Ibnu Haytam (965-1039 M). Di Barat dikenal dengan Alhazen. Ia adalah pakar di bidang optik dan pencahayaan. Sebanyak 200 judul buku tentang optic dan pencahayaan dinisbatkan kepada beliau. Teorinya lebih dulu 5 abad sebelum teori yang sama dikeluarkan Torricelli. George Sarton (1927) dalam bukunya, Introduction To The History of Science, Volume I: From Homer To Omar Khayyam, memberi gelar Ibnu Haytam dengan Fisikawan Terbesar Abad Pertengahan.
Selain itu, perpustakaan zaman Kehilafah amatlah mengagumkan. Perpustakaan Khalifah al-Hakim di Kairo, misalnya, menyediakan 1,6 juta volume buku. Mengenai hal ini, Bloom and Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf, membaca, dan menulis) Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Islam: A Thousand Years of Faith and Power).
Keemasan Khilafah ditulis secara jujur oleh sejarahwan dunia seperti Will Durant dalam Story of Civilization. “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.”
Pertanyaannya, bagaimana mungkin karya-karya cemerlang ini lahir dari sistem Khilafah yang dituduhkan jumud atau terbelakang? Namun yang paling penting, kewajiban menegakkan Khilafah bukan didasarkan pada kemaslahatan yang bisa kita raih itu. Kewajiban menegakkan Khilafah adalah kewajiban syariah yang berdasarkan akidah Islam. Kewajiban Khilafah merupakan perkara ma’lum[un] min ad-din bi asdh-dharurah. Demikianlah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, “Mereka (para imam mazhab) telah bersepakat mengenai kewajiban mengangkat khalifah (menegakkan Khilafah).” [Farid Wadjdi]
http://hizbut-tahrir.or.id/2011/04/09/peradaban-emas-khilafah/
16.45
Perantau Ideologis
Baru aja kemaren lusa Justin Beiber melangsungkan "This is My World Tour" di Indonesia setelah sebelumnya melangsungkan konser tour dunianya di beberapa negara,luar biasa sosok yang dikenal melalui media you tube tersebut sangat menyedot animo puluhan ribu ABG di seantero dunia. Sebut saja konser di Sentul International Convention Center (SICC), Indonesia dengan harga tiket festival dijual diatas Rp 1 juta dan beberapa tingkatan lainnya dapat mencapai 10.500 yang gterbagi pada tribun I dan II dimana penonton terdiri dari ABG hingga Ibu-ibu dan bapak-bapak. Pasti bisa dibayangkan betapa macetnya jalanan menuju SICC, apalagi kala itu memang sedang libur panjang...
Sangat fenomenal, dengan harga tiket yang tidak murah, penjualan tiket bisa lebih dari 10.500 penonton. sebenarnya saya pengen lanjutin nulisnya, tapi karena udah ada tulisan terdahulu yang searah, maka saya coba copass aja dari (http://www.voa-islam.com/teenage/smart-teen/2011/03/14/13737/justin-bieber-berhala-baru-remaja-kurang-iman/). Namun dari judul awal artikel ini ditulis "Justin Bieber, Berhala Baru Remaja Kurang Iman" Saya rubah menjadi "Justin Bieber, Berhala Baru Remaja Miskin Iman". Yah iman, dimana iman sangat diperlukan oleh seorang muslim dan itu menjadi tanggung jawab semua orang tua, namu di kejadian ini malah para orang tua memfasilitasi anaknya untuk hal yang sangat tidak penting, mungkin para orang tua sekarang sudah tidak menganggap iman itu penting kali yaaa??? check my article about
iman... semoga bermanfaat...
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Bulan April, Justin Bieber katanya mau konser di Indonesia. Gimana reaksi kamu sebagai remaja mendengar berita ini? Heboh, jingkrak-jingkrak kegirangan kayak orang kesurupan, nangis terharu, bersikap lebay atau malah biasa aja alias gak terpengaruh?
Beragam reaksi remaja mendengar kabar si Justin mau datang. Reaksi ini terjadi adalah efek dari pemahaman remaja akan sesuatu dalam hal ini adalah memahami siapa si Justin ini sebenarnya. Bila yang ada di benaknya sosok cowok ganteng yang lincah dan bersuara seksi, maka secara otomatis kamu sebagai remaja cewek akan berteriak histeris kegirangan. Beda lagi bila yang ada dalam pemahaman kamu tentang cowok yang satu ini adalah sosok remaja belasan tahun yang menjadi
korban industry music di era kapitalis, maka yang muncul adalah sikap kasihan. Ya…anak seusia itu sudah dieksploitasi demi gemuknya kantong para pemodal dan menjadi berhala baru di era yang katanya modern ini.
Fenomena Justin Beiber bisa menjadi berhala di dunia ini. Berhala? Bukankah si Justin tidak disembah? Berhala bukan untuk disembah saja tapi juga termasuk ke dalam kategori untuk diikuti, diidolakan hingga ditangisi secara histeris sebagaimana para fans itu ke idolanya. Padahal, si Justin kenal juga enggak dengan kamu dan para remaja lain. Trus ngapain juga pake acara teriak-teriak histeris bahkan sampai ada yang menangis dan pingsan? Biasanya ini adalah reaksi yang muncul bila para remaja merasa ‘excited’ yang berlebihan. Bahkan banyak juga remaja cewek yang kepingin banget bisa dapat kesempatan untuk mencium atau dicium oleh si Beiber ini. Yucks!
....Sobat muda muslim, nyadar donk! Untuk apa kamu melakukan kehisterisan semacam itu hanya untuk cowok non muslim bernama Justin Bieber?...
Sobat muda muslim, nyadar donk! Setiap perbuatan itu selalu ada pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Apa jawaban yang bakal kamu sodorkan bila ada pertanyaan, untuk apa kamu melakukan kehisterisan semacam itu hanya untuk cowok non muslim bernama Justin Bieber? Nggak usah nunggu ditanya di akhirat, sekarang aja coba kamu jawab dan renungkan pertanyaan tersebut di atas. Kenal juga enggak, dapat kemanfaatan darinya apalagi. Yang ada malah kamu sering lalai melaksanakan kewajiban karena keasyikan mendengarkan si Beiber nyanyi plus jejingkrakkan.
Rencana konser si Beiber di Indonesia membuat banyak remaja seusia kamu pada berebut membeli tiket yang harganya tak bisa dibilang murah. Buat sodaqoh pelit tapi tak sayang menghamburkan uang untuk beli tiket si Beiber. Aneh! 10 ribu tiket seharga 500 ribu hingga satu juta terjual langsung ludes dalam beberapa hari saja. Calon penonton yang ngantri pun berjubel jauh hari demi mendapatkan selembar tiket untuk nonton si Justin.
Coba bandingkan dengan acara lain semisal bedah buku, seminar, atau training keislaman, para remaja pada ogah datang. Boro-boro mau bayar mahal, udah gratis saja masih tetap jarang yang mau datang. Memang sih, yang namanya surge itu lapang. Sebaliknya, yang namanya neraka itu berjubel penuh penghuninya. Hampir mirip dengan fenomena acara keislaman versus maksiat. Tergantung kamu sendiri wahai remaja, untuk pintar-pintar memilih tujuan mana yang akan kamu tuju.
Remaja cerdas so pasti pilih acara yang berkualitas demi meningkatkan iman dan takwa, bukan sebaliknya. Jadi, udah deh gak usah ikut-ikutan demam si Beiber. Dia gak bisa menyelamatkan kamu dari panasnya siksa neraka kok. Rugi berat deh! [ria fariana/voa-islam.com]
16.20
Perantau Ideologis
Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat sekitar 610 balita yang ada di wilayahnya dikategorikan mengalami gizi buruk.
“Dari data kami dari sekitar 71 ribu lebih balita di kabupaten, sekitar 0,87 persen atau 610 balita mengalami gizi buruk,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Adrialti Minggu (24/4).
Selain balita gizi buruk, sekitar 10 persen balita di kabupaten menurut Adrialti mengalami gizi kurang. “Mereka kabanyakan ditemukan di daerah selatan Kabupaten Sukabumi,” tambahnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pihaknya memberikan program pemberian makanan tambahan (PMT) kepada balita yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang, selain itu pola hidup sehat pun sudah disosialisasikan untuk mengatasi permasalahan gizi buruk.
“Kami terus berupaya untuk mengatasi permasalahan tersebut,” tutur Adrialti.
Sementara itu, Kasie Gizi Dinkes Kabupaten Sukabumi, Dani Sujata, mengungkapkan, dari 610 balita yang mengalami gizi buruk 20 persennya dalam kondisi memprihatinkan. “Sekitar 20 persen balita yang mengalami gizi buruk mereka juga terserang penyakit Tuberculosis (TBC) dan penyakit lainnya,” ungkap Dani.
Ia mengatakan, agar jumlah balita penyandang gizi buruk di kabupaten berkurang pihaknya secara insentif memberikan bantuan medis dan PMT. Namun, kondisi ini terkendala oleh perilaku orang tua yang kurang memberikan asupan gizi kepada balitanya dengan alasan kemiskinan.
“Kami pun sudah menugaskan pengawas dari dinkes untuk terus memantau perkembangan balita yang mengalami gizi buruk dan mudah-mudahan dengan cara seperti ini jumlah balita yang mengalami gizi buruk berkurang,” harapnya. (mediaindonesia.com, 24/4/2011)
23.49
Perantau Ideologis
Assalamu'alaikum,,,
Kali ini saya mendapatkan potingan dari salah satu web yakni "http://www.islamedia.web.id/2011/01/mewacanakan-nikah-pada-orangtua.html". Untuk yang satu ini insya Allah akan memberi manfaat bagi semuanya. Ilmunya banyak dan sayang jika tidak dishare... Semoga bermanfaat...
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menyatukan hati-hati kita. Semoga forum ahad pagi ini bisa lebih mengikat ukhuwah diantara kita. Sebagaimana sering dalam membuka sebuah majelis, saya menyampaikan beberapa harapan :
Di awal majelis ini mari kita berniat Agar iman kita meningkat Ilmu yang berguna di dapat Ukhuwah kita semakin erat Serta amal semakin semangat
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga dan sahabat, serta seluruh kaum muslimin yang istiqomah menjalankan risalah islam hingga hari akhir nanti.
Banyak keluhan, curhat atau pertanyaan yang masuk pada saya seputar hal tersebut. Dari mulai pihak orangtua yang ‘shock’ dengan teror dari anaknya yang meminta menikah dengan bertubi-tubi, hingga larangan para ortu pada anaknya untuk menikah karena masalah ekonomi dan yang semacamnya.
Sepertinya banyak alasan para orangtua belum mengijinkan anaknya untuk menikah, bahkan sampai pada tahapan ada yang ‘sakit’ jika anaknya kembali membicarakan tentang pernikahan. Namun diantara sekian alasan itu, barangkali ada beberapa hal yang sering muncul di benak para orang tua tentang pernikahan putra-putrinya.
1. Merasa Pernikahan itu tidak perlu cepat-cepat, bisa nanti-nanti saja, apalagi bagi yang anaknya laki-laki.
2. Merasa sang anak belum mampu dan mandiri secara ekonomi.
3. Merasa khawatir dengan pasangan anaknya nanti, apakah sholeh atau tidak , dan sebagainya. Bahkan mungkin sebagian sudah ada yang menyiapkan jodoh bagi anaknya.
Nah, ada beberapa hal yang perlu dijalankan seorang akh/ukhti sebelum berproses menuju pernikahan. Semuanya dijalankan dengan penuh kesungguhan dan lemah-lembut. Jangan memaksakan ‘niat mulia’ ini dengan cara yang tidak mulia. Beberapa hal tersebut antara lain :
Pertama : Menunjukkan Prestasi dan Kemampuan Diri
Hendaknya para akhi/ukhti bisa menunjukkan pada kedua orangtuanya bahwa mereka ini telah ‘layak’ menikah. Bukan lagi anak kecil yang ingin dimanja, bukan lagi ‘sekedar’ mahasiswa biasa yang menanti-nanti gelar sarjana. Yakinkan orangtua dengan parade prestasi, maka insya Allah akan membukakan hati para orang tua untuk menyatakan : oo.. ternyata anak saya mampu.
Karenanya, berprestasilah terlebih dahulu dan tunjukkan pada orang tua agar mereka bisa tenang saat merestui anaknya berproses menuju pernikahan.
Ingat ungkapan salah satu putri Syuaib yang diabadikan dalam Al-Quran :
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”. (Qoshos 26)
Nah, ketika para orangtua sudah cukup merasa tenang bahwa anaknya punya karakter “ Kuat dan Terpercaya” atau mempunya Performance dan Kredibilitas yang baik, maka insya Allah mereka akan menyetujui setiap usulan dari anaknya, termasuk usulan nikah. Jadi, buktikan dulu pada para orangtua bahwa Anda telah banyak mengukir berprestasi .
Kedua : Memberikan Penjelasan tentang Anjuran Menyegerakan Pernikahan
Terkadang orang-orang tua merasa tenang-tenang saja dengan isu pernikahan. Mereka belum sadar bahwa usia semakin menua dan saatnya untuk menimang cucu telah tiba. Karenanya berikan pemahaman bahwa urusan nikah adalah ibadah mulia yang juga mengikuti kaidah : “ Lebih Cepat Lebih Baik “, hal ini tentu senada dengan isyarat dalam sebuah hadits :
روى أحمد والترمذي عن علي رضي الله عنه: أن النبي قال له، ” يا علي: ثلاث لا تؤخرها الصلاة: إذا أتت، والجنازة إذا حضرت، والايم إذا وجدت كفئا “.
Dari Ali ra, Rasulullah SAW bersabda : “ Wahai Ali, tiga hal yang jangan engkau tunda-tunda (yaitu) : Sholat ketika telah datang waktunya, jenazah yang sudah siap (dimakamkan), dan bujangan yang sudah menemukan pasangannya (yg sekufu) “ (HR Tirmidzi dan Ahmad)
Ketiga : Curhat pada Orangtua tentang Kegelisahan Hati dan banyaknya Godaan di luar sana
Barangkali para orangtua belum sadar sepenuhnya bagaimana kondisi dunia luar yang bisa mengotori hati putra-putrinya. Di sana ada pemandangan syahwati yang bertaburan di jalanan dan sekolahan. Di sana ada satu dua pandangan dan sapaan yang melenakan. Di sana ada ucapan-ucapan indah yang mengotori niat dan hati. Belum lagi dengan iringan lagu-lagu romantis yang senantiasa memprovokasi.
Seorang akhi/ukhti hendaklah dengan jujur menyampaikan kegelisahan ini. Dan dari sanalah kemudian muncul keinginan untuk segera membentengi diri. Mengakhiri segala bentuk romantisme semua yang tiada henti. Sampaikan pada orangtua bahwa anaknya ini ingin menikah untuk menjaga diri dan juga kehormatan keluarga.
Barangkali hadits di bahwa ini bisa jadi bekal untuk berdiskusi :
Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : “ Ada tiga orang yang wajib bagi Allah menolongnya : orang yang berjihad di jalan Allah, budak ‘Mukatib’ yang ingin membayar pembebasannya, dan seorang yang ingin menikah untuk menjaga dirinya “ (HR Tirmidzi) وفي حديث الترمذي عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (ثلاثة حق على الله عونهم، المجاهد في سبيل الله، والمكاتب الذي يريد الاداء، والناكح الذي يريد العفاف).
Keempat : Meyakinkan tentang rizki dan tekad kuat untuk mandiri
Sungguh kurang layak mengajukan pernikah pada orangtua jika kantong ini belum terisi dari keringat kita sendiri. Memang ada satu dua kasus dimana orangtua ‘sholih’ sangat inisiatif dalam membantu pernikahan anaknya secara finansial. Barangkali ia terinspirasi dengan Nabi Syu’aib yang begitu kooperatif membantu pernikahan putrinya dengan nabi Musa as. Tapi saya yakin tidak banyak orang tua yang semacam itu.
Nah, jadilah kita harus ‘berjanji-janji’ bak politisi untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Sampaikan langkah-langkah Anda ke depan dalam memenuhi kebutuhan dasar sebuah pernikahan. Jika ada satu dua keluarga yang tulus membantu, terima dengan tangan terbuka tapi tidak dalam arti melenakan kita untuk mencari dengan keringat kita sendiri.
Jangan lupa mengingatkan konsep ekonomi ‘Ketuhanan’ yaitu pernikahan adalah salah satu pintu-pintu rizki di muka bumi ini. Betapa banyak yang menjadi kaya dan bersemangat dalam berusaha saat di rumah telah ada bidadari yang memotivasi. Yakinkan para orang tua dengan ayat monumental tentang pernikahan dan rizki
:وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (النور32)
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahu i. (QS An-Nuur 32)
Kelima : Menyampaikan bahwa Akhlak dan Agama adalah Prioritas Utama dalam mencari pasangan nantinya
Terakhir, meyakinkan bahwa ‘calon mantu’ nanti adalah sosok yang terpilih karena keshalihan dan agamanya. Bukan sekedar tampan dan cantik karena ini bukan audisi model dan artis, bukan pula sekedar kaya raya karena ini bukanlah membuat perusahaan komersial. Tapi yang dicari adalah dua kriteria utama : Akhlak dan Agamanya.
Perlu juga diingatkan pada para orangtua ini dua karakter ini sejak awal, jangan sampai mereka mengharapkan kriteria bermacam-macam yang barangkali justru tidak islami dan mempersulit anaknya dalam menemukan jodohnya. Cukuplah bagi para orangtua peringatan Rasulullah SAW dalam haditsnya :
وروى الترمذي بإسناد حسن عن أبي حاتم المزني، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” إذا أتاكم من ترضون دينه وخلقه فأنكحوه، إلا تفعلوا تكن فتنة في الارض وفساد كبير،
Dari Abu Hatim ra, Rasulullah SAW bersabda : “ Jika telah datang (melamar) padamu seorang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dg anakmu), jika engkau tidak melakukannya maka akan muncul fitnah di muka bumi ini dan kerusakan yang besar “ ( HR Tirmidzi dengan sanad yang baik)
Akhirnya, masih banyak tahapan yang harus akhi/ukhti jalankan sebelum memasuki sebuah proses pernikahan. Akan ada hambatan, bahkan mungkin tangisan, tapi yakinlah itu semua akan semakin mendewasakan dan mengokohkan hati untuk menghadapi lebih banyak lagi tantangan usai pernikahan.
Wallahu a’lam bisshowab. Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk memahami apa yang kita kaji pagi ini, menjalankannya dengan sepenuh hati. Serta, -tentu saja- mendakwahkannya pada yang lain.
***
semoga bermanfaat :D :D :D :D
03.21
Perantau Ideologis
If there were a single sacred rose
On a mountain top that grows
Where nobody ever dares to go
For you I’d climb that mountain high
I would reach up to the sky
If that rose was your desire
Don’t you know that I
Would do anything
Would do anything
For you
I would do anything
Would do anything
Anything for you
For you, I would sail the seven seas
Walk the deserts in between
Just to bring you anything you need
Nothing could ever be too much
Anything to show my love
‘Cos it gives me strength enough
Don’t you
Don’t you
Don’t you know that I
Would do anything
Would do anything
For you
You know that I
Would do anything
Would do anything
Anything for you
For you I would take on any trial
And I would walk on through the fire
You give me strength enough to face it all
You make me feel invincible
‘Cos I would do anything
Anything for you
You know that I
Would do anything
Would do anything
Anything for you
These things are nothing to
All the things you do for me
You are my dream come true
A love I never knew you see
I’d take on a mountain high
Just to see you smile for me
You make me want to be
The very best that I can be
I would do anything
Anything for you
You know that I
Would do anything
Would do anything
Anything for you
17.05
Perantau Ideologis
Beban pekerjaan menumpuk, belum lagi ditambah dengan suasana pikiran yang sedang kalut, serta kondisi alam yang sedang tidak menentu. Besar kemungkinan kondisi tubuh kita tidak fit dan menjadi sakit, meriang, sakit kepala atau gangguan lainnya yang pasti akan mengganggu pada produktifitas kita. Ada sebuah artikel yang cukup bagus, nantinya bisa kita gunakan untuk menganalisa kondisi-kondisi kesehatan kita. Semoga bermanfaat.
Jakarta, Fakta bahwa kesehatan terkait dengan pekerjaan kini semakin nyata dan jelas. Gangguan kesehatan yang timbul memang terkait dari jenis pekerjaan dan tempatnya bekerja.
Tapi terlepas dari itu semua ada beberapa risiko kesehatan pekerjaan yang hampir dijumpai oleh sebagian besar pekerja.
Berikut adalah beberapa masalah kesehatan yang berhubungan dengan pekerja kantor, seperti dikutip dari Askmen, Sabtu (29/1/2011):
1. Gangguan ekstrem tubuh bagian atas
Sakit pada bahu, siku, bengkak pergelangan tangan dan jari kesemutan merupakan beberapa gejala yang mungkin mengarah pada gangguan tungkai atas termasuk penyakit
sindrom carpal tunnel, epicondylitis (tennis elbow) dan radang sendi pergelangan tangan.
Kondisi ini terjadi misalnya karena menggunakan jari terus menerus untuk mengetik yang bisa menimbulkan stres atau cedera berulang dan menyebabkan sindrom carpal tunnel.
2. Nyeri punggung dan cedera
Nyeri punggung merupakan gangguan yang paling sering dialami oleh pekerja kantoran karena harus duduk dalam jangka waktu panjang dengan posisi tubuh yang buruk.
Jika pekerjaan mengharuskan postur statis, maka sering membungkuk, mengangkat atau memutar secara tiba-tiba dan tak terduga bisa memberikan tekanan yang lebih pada punggung.
Hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengurangi tekanan pada punggung dengan rutin memperkuat dan latihan peregangan setiap hari, misalnya dengan melakukan beberapa gerakan stretching ringan setiap 1-2 jam sekali.
3. Gangguan pernapasan
Rasa gatal di hidung, sering pilek, mata bengkak dan bersin-bersin adalah gangguan pernapasan yang umum terjadi. Tempat kerja yang tertutup dan padat bisa menjadi tempat berkembang biak mikroorganisme yang bisa menginfeksi pernapasan.
Virus flu atau batuk cenderung menyebar dengan cepat dalam jarak dekat, serta bisa bertahan hingga 48 jam atau lebih pada benda mati.
Selain akibat virus, gangguan pernapasan juga bisa disebabkan oleh jamur atau debu asbes. Jamur atau debu yang terletak pada karpet, jendela serta ventilasi juga bisa menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma atau reaksi alergi.
4. Stres
Kecemasan, stres dan gangguan neurotik secara perlahan turut berkontribusi besar terhadap gangguan pekerjaan. Misalnya stres bisa menjadi penyumbang utama penyakit jantung, gangguan panik, gangguan muskuloskeletal (tulang dan otot) serta melemahkan sistem kekebalan tubuh.
Jika seseorang merasa cukup banyak stres akibat pekerjaan, cobalah melakukan latihan aerobik seperti berjalan yang diketahui sangat baik mengurangi stres.
Bekerja bukanlah sesuatu yang buruk dan tidak sehat. Seseorang cukup mengerjakan 3E yaitu evaluation, education dan exercise untuk mencegah risiko kesehatan.
Cobalah mengevaluasi lingkungan kerja, didiklah diri sendiri tentang bahaya yang mungkin terjadi dan solusinya serta olahragalah baik di dalam atau luar pekerjaan.
Keep your body health...
(ir/ndr)
(http://health.detik.com/read/2011/01/29/142749/1556535/763/gangguan-kesehatan-akibat-pekerjaan)
07.52
Perantau Ideologis
Sebagai seorang muslim yang beriman, pasti akan memiliki berbagai konsekuensi. Tentunya mendapatkan keimanan itu tidaklah sekedar bertaqlid (baca: ikut-ikutan) namun harus melalui proses berfikir dengan fikrul mustanir (Baca: pemikiran yang jernih) dan menjadikan Islam sebagai kaidah berfikirnya sehingga seseorang akan memperoleh kualitas yang tertinggi dalam keimanannya terhadap Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, kiamat, serta Qadla dan Qadar, kurang lebih demikian yang telah disampaikan oleh syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam bukunya Nidzomul Islam.
Iman dan Islam
Seorang Muslim yang beriman akan tampak pada segala aktivitasnya, karena menurut Saya Iman itu adalah landasan sebelum seorang merasa sebagai orang Islam, dengan kata lain keimanan merupakan prasyarat bagi keislaman seseorang. Oleh karena itu bagi yang sudah punya anak, sebelum mereka baligh saya anjurkan untuk segera dikenalkan dengan keimanan dengan cara-cara yang paling ringan, sehingga anak-anak kita tidak menjadi seorang muslim yang mengaku Islam karena kebetulan ayah – ibunya seorang muslim. Na’udzubillahi mindzalik. Atau mungkin hal ini terjadi pada Anda sendiri yang mungkin belum mantab keimanannya,
bukan maksud untuk menggurui, tapi selaku sesama muslim yang merindukan kehidupan Islami, maka Saya coba untuk mengingatkan kita semua agar memperbaiki kualitas keimanannya agar nanti bisa menjadi seorang Muslim kaffah.
Iman merupakan jembatan seseorang menuju Islam. Coba kita lihat, semua rukun Islam itu bersifat ibadah yang harus dipraktekkan. Seperti keharusan melafadzkan dua kalimat syahadat dengan penuh keyakinan, shalat, puasa, zakat, serta haji. Untuk menuju arah sana maka kita harus melewati jembatannya terlebih dahulu. Karena jika kita tidak memperbaiki kualitas keimanan kita maka insya Allah bisa dipastikan kita tidak bisa menjawab mengapa, untuk apa, untuk siapa, serta bagaimana kita harus mengucap kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, atau bahkan naik haji sekalipun hanya dijadikan sekedar jalan-jalan ke luar negeri, shalat diganti dengan hanya mengingat Allah sudah cukup dan lain lain. Iya bukan? Na’udzubillah mindzalik.
Berbeda dengan orang yang memiliki kualitas keimanan yang tinggi, dalam menjalankan aktivitas keislamannya akan terlihat jelas penuh makna dan begitu berarti. Seorang melaksanakan shalat tidak lagi karena menjalankan rutinitas agama, namun lebih karena sebagai bentuk penghambaan diri kepada Sang Pencipta sebagai makhluk, dan ia yakin bahwa para malaikat akan terus mencatat segala aktivitasnya dengan kehendak Allah atas segala yang terjadi di alam ini. kemudian orang tersebut menjalankan shalat sebagai bentuk keyakinannya akan kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah dimana di dalamnya termaktub segala perintah dan larangan-Nya. Seorang yang beriman melalui proses perfikir tanpa taqlid buta, tentunya akan menjalankan ibadah shalat sebagai bentuk keyakinannya atas kerasulan Muhammad sebagai teladan hidup karena dengan hadits beliaulah semua perintah dan larangan Allah tergambar dengan dhohir, sehingga seseorang itupun shalat karena sebagai bentuk keyakinannya akan adanya yaumul hisab, akan ada saat dimana semua amal perbuatan manusia di muka bumi ini akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga kita menjalankan ibadah karena semata-mata takut akan siksa Allah yang teramat pedih seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an serta hadits Rasul. Dan kitapun memahami bahwa dengan adanya qadla dan qadar manusia memiliki kemampuan untuk memilih perbuatannya apakah kita akan kufur atau bertaqwa.
Ini hanyalah pembahasan sederhana yang coba Saya uraikan dalam bentuk tulisan, dimana ada seseorang yang yang mungkin gundah atau entah seperti apa perasaannya sekarang. Semoga diberi kesabaran dan kemudahan dalam mejalankan semua proses dan tahapan kehidupan ini,,, amien… Allahumma yassir walaa tu’assir wa tammim bilkhoir… amien…
Namun saudara sekalian contoh di atas tadi terasa sangat sederhana yang memang kebetulan hanya mebhasa masalah shalat sebagai contoh pembahasan. Disini Saya akan coba untuk mengingatkan bahwa Islam bukan Cuma sekedar aktivitas shalat saja, namun lebih kepada semua aktivitas kehidupan di dunia. Karena sudah jelas Allah menyeru kepada kita untuk memasuki Islam secara Kaffah (menyeluruh). Seperti firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 208 “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu”. Dan kita juga harus sadar bahwa manusia diciptakan Allah untuk beribadah kepada Allah “Dan tidaklah Aku Menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-KU (QS. Ad-Dzariat: 56).
Kedua potongan ayat tersebut sangat jelas mengingatkan kita yang sering lupa dan lalai bahwa segala bentuk tindak tanduk (Islam kaffah) kita adalah dalam rangka beribadah kepada Allah (Hamba Allah). Dalam berbisnis, hukum, pendidikan, politik, dan lain-lain.
Seorang yang beriman?
Seorang yang beriman pasti tidak akan pernah lepas dari apa yang disebut dengan ujian, dimana itu semua hanya untuk menguji tingkat keimanan kita sehingga nantinya Allah menaikkan derajati kita. Amien…
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Surah Al-Imran ayat 139).
Inilah yang membedakan kita dengan orang lain, ujian merupakan bentuk kasih sayang Allah pada kita. Sebagai bentuk konsekuensi keimanan kita maka selaku orang yang diuji haruslah:
1. Senantiasa bersabar akan segala yang terjadi. Allah maha tahu, pastilah Allah memiliki scenario tersendiri akan segala yang terjadi pada diri kita. Kesabaran terhadap ujian akan mencerminkan tingkat keimanan dan ketaqwaan kita. So, sabar yaaa…
2.Mensyukurinya, bersyukurlah karena Allah masih berkenan untuk menguji kita, bandingkan dengan orang-orang yang mendapatkan istidraj (diselajurakan (bahasa Banjar)), yang terpuruk dalam kemaksiatan. Rabbanaa Maa kholaqta hadzaa bathilaa.
3. Sadar bahwa Allah maha kuasa dan berkehendak, sehingga akan menjauhkan kita dari sifat dan sikap sombong. Sebagai seorang makhluk yang tak akan pernah berdaya apapun tanpa adanya kehendak Allah untuk menolong kita atas semua ujian.
4. Kemudian yang penting adalah, dengan ujian harus membuat kita tidak berputus asa akan pertolongan Allah. Keep fight ya… sebesar apapun ujian yang kita hadapi kita tidak boleh mundur sedikitpun,, karena menyerah bukanlah sikap seorang muslim, melaikan sikap orang-orang munafik dan fasik yang mundur dalam perjuangan. Dengan adanya ujian akan mebuat kita lebih paham bagaimana harus menghadapi orang, baik orang tua, saudara atau siapapun, juga akan membuat kita lebih kreatif dan tidak berhenti berfikir cara-cara yang tepat untuk dilakukan. “struggle without sacrifice is nonsense”. Semua memang sudah tertulis dalam lauhim mahfudz, apakah kita akan diam? Berhenti berfikir? Pasrah? TIDAK. Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya (TQS. Ar-Ra’du:11), sebenarnya dengan ini harus membuat kita ber-ikhtiyar akan apa yang kita impikan. Right? Don’t ever give up, me too…
5. Selanjutnya selaku orang yang beriman, maka dengan ujian akan senantiasa mendekatkan kita dengan Alllah dan mebuat kita optimis akan pertolongan-Nya. Inilah seharusnya sikap seorang muslim yang sedang dalam proses menaiki derajat yang lebih tinggi. Keimanan kita akan semakin kuat bahwa tidak ada penolong selain Allah, laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhim.
6. Menenangkan jiwa. Jujur, terkadang saat kita menghadapi ketidaktentuan, penantian, atau hal lain yang membuat kita harus menunggu akan ketidak pastian akan membuat kita kacau, kehidupan tidak teratur tanpa orientasi. Pokoknya kacau dah (hal ini pernah saya alami). Namun suatu ketika saya sadar akan hakikat ujian yang seharusnya membuat kita bersabar, bersyukur, tawaddhu’ kepada Allah dan yakin optimis akan pertolongan Allah. Saat itulah kita memahami bahwa segala sesuatu memang datangnya dari Allah. Sikap ini adalah sikap tawakkal, menyerahkan semuanya kepada Allah dengan didukung usaha yang kongkret dan doa. Inilah yang disebut dengan ikhlas. Ikhlas akan keadaan, ikhlas dalam memohon dan ikhlas dalam perjuangan dengan penuh keyakinan. "Ikhlas tidak berarti pasrah akan keadaan" bukan?.
Beruntunglah orang-orang yang sedang diuji oleh Allah.
Allahumma Yassir Walaa Tu’assir Watammim Bil Khoir, Inna Kulla ‘Asiirin ‘Alaika Yasiir.
Amien…
Semoga bermanfaat…
Apa kabar Anda Hari ini?,
Sebagai orang yang beriman maka akan mwnjawab SELALU DAN HARUS LEBIH BAIK… Allahu Akbar…