This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selamat Datang Semoga Bermanfaat, Pengelola Web Akan Sangat Senang Bila Anda Berkenan Meninggalkan Jejak Berupa Koment Atas Postingan Kami

Minggu, 02 Oktober 2011

Reminding of Madinah (Hijrah Mengubah Dunia)

Kian beringas, kian sengit perlakuan kaum Quraisy Makkah terhadap aktivitas dakwah Rasul dan para sahabat. Beberapa kali upaya pembunuhan dilakukan oleh mereka, hingga berpuncak di daarun nadwah untuk merundingkan strategi pembunuhan Nabi Muhammad SAW, namun akhirnya dengan pertolongan Allah segala upaya mereka sia-sia. Sebagaimana Allah abadikan dalam surah Al-Anfal: 30

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Qurais) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (Q.,s.al-Anfâl:30)

Setelah sebelumnya mendapatkan penolakan di Thaif, dan mendapat izin dari Allah Muhammad SAW Hijrah dari Makkah menuju Yastrib yang kemudian berganti nama menjadi Al Madinah Al Munawwaroh (المدينة المنورة) yang memiliki makna "kota yang bercahaya". Secara bahasa Madinah memiliki akar kata yang sama dengan Tamaddun (peradaban) atau hadloroh. Dengan demikian Madinah dapat diartikan sebagai sebuah tempat peradaban yang lazim diterjemahkan dengan kota. Dimana penduduk Madinah yang terdiri dari suku Khazraj dan 'Auz, dimana terdiri dari beberapa golongan yaitu golongan muslimin, musyrikin, serta yahudi dan termasuk kaum munafiqiin di dalamnya.

Perkataan Madinah secara harfiyah berarti kota. Pengertian ini idak jauh berbeda dari asal makna kebahasaan atau etimologi yang dapat ditelusuri kepada tiga suku akar kata yaitu "د ي ن" sebagaimana dinyatakan dalam tashrif "دَاْنَ - يَدِيْنُ" yang tergolong pada fi'il mu'tal alif dengan makna dasar "patuh". Dari kata ini pula kata "دين" (diin) yang masyhur kita ketahui berarti agama. Suatu kata yang mengacu pada ide tentang kepatuhan atau sikap patuh terhadap sebuah aturan. Oleh karena itu kata diin mengarahkan kita pada sebuah keterikatan dan kepatuhan hidup dengan peraturan agama itu sendiri.

Pertanyaannya yang harus dijawab adalah mengapa Nabi memilih untuk mendirikan sebuah peradaban setelah kepindahannya dari Makkah, dimana kita ketahui saat itu Nabi mendapat tekanan yang sangat luar biasa dari kaum Quraisy, kemudian bukannya Nabi merupakan keponakan dari Abdul Muthallib salah satu pemuka Makkah saat itu, mengapa Nabi tidak meminta kekuasaan dari pamannya?. Kemudian pertanyaan selanjutnya yang juga banyak dipertanyakan oleh sebagian besar orang adalah "Dimana kaitannya antara ketaqwaan dan peradaban, karena kita ketahuia bahwa Islam itu sendiri adalah agama yang mengajarkan kita tentang ketaqwaan".

Mengapa peradaban?

Guna menjawab pertanyaan pertama, Saya memulai dengan menyebutkan bahwa pada saat periode dakwah Nabi di Makkah merupakan periode dimana Nabi menguatkan tsaqofah dan keloyalan para sahabat terhadap Islam. Dapat kita ketahui begitu besar ujian para sahabat saat itu untuk mempertahankan kekokohan iman mereka terhadap agama yang dibawa oleh sosok Muhammad bin Abdullah. Bukan hanya sekedar berpisah dari keluarga namun nyawapun menjadi taruhan untuk mempertahankan keimanan mereka terhadap Islam.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya dakwah Islam berkembang saat itu. Bila pada tahap dakwah secara diam-diam yang berlangsung selama 3 tahun pengikut Islam terhitung sekitar 40 orang maka 9 tahun berikutnya, setelah dakwah terang-terangan pengikut Islam hanya mencapai 70 orang-an saja. Berarti selama 9 tahun, mati-matian Rasulullah berdakwah, hanya bertambah 30 orang saja !

Pilihan untuk berhijrah dan membentuk peradaban Islam di Madinah merupakan salah satu keputusan politis yang diambil oleh Nabi Muhammad saat itu. Dengan memiliki peradaban sendiri maka Islam saat itu telah memiliki kekuasaan dan pengakuan secara defacto maupun dejure. Sehingga ummat muslim memiliki komunitas yang bisa dijadikan representasi dari Islam dan ajarannya yang kemudian digunakan untuk memperkenalkannya kepada seluruh masya rakat dunia.


Terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan oleh Nabi dalam rangka membangun Madinah saat itu, dimulai dari usaha mempersaudarakan muhajirin sebagai masyarakat pendatang dengan kaum anshor sebagai penduduk asli madinah yang menolong muhajirin. Upaya ini dimaksudkan untuk melenyapkan fanatisme kesukuan ala jahiliyah saat itu, tidak ada pengabdian selain pengabdian kepada Islam, kesombongan suatu suku atas suku lain dengan kelebihannya, baik warna kulit, asal keturunan, asal daerah atau bangsa yang akan memecah persatuan umat muslim saat itu. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam tidak membenarkan perpecahan umatnya untuk alasan apapun.. 

Langkah politik berikutnya adalah mempersatukan masyarakat madinah yang terdiri dari beberapa golongan yaitu muslim dan non-muslim yang kemudian dikenal dengan piagam madinah (1H/622M) guna menciptakan suasana aman,  damai, dan tentram dengan mengatur wilayah dalam satu kepemimpinan sehingga tak ada lagi konflik pertumpahan darah antara suku 'Auz dan Khazraj seperti sebelumnya. Serta dilanjutkan dengan upaya menciptakan kesetaraan bagi semua warga mayoritas dan minoritas (zimmi). Masyhur dikatakan bahwa pada masa ini juga Nabi menuturkan hadits wajibnya menuntut ilmu bagi muslim laki-laki dan perempuan. 


Proses pengembangan Madinah terus dikembangkan. Sebagai seorang pemimpin negara, Nabi Muhammad sukses melakukan diplomasi politik negara asing yaitu kaum Qurasiry Makkah yang sekaligus menjadi ancaman nomor satu terhadap perkembangan pengembangan dakwah Islam di Madinah saat itu dengan mengadakan perjanjian Hudaibiyah (6 H). Kemudian dilanjutkan dengan pengiriman utusan-utusan diplomatiknya kepada berbagai berbagai negara saat itu guna mengajak pada Islam.

Kembali pada permasalahan awal yang menjadi pertanyaan, dapatkan Nabi Muhammad melakukan ini semua tanpa peradaban? Bisa saja kita jawab bahwa hal itu mungkin saja terjadi, namun bisa dipastikan akan sangat lambat sekali. Kemudian mengapa Nabi tidak mengambil kekuasaan semasa di Makkah? Aplagi Beliau adalah salah satu keluarga dari pembesar Makkah, bisa saja Nabi meminta tau mengambil tawaran kekuasaan yang sempat ditawarkan oleh para pembesar Quraisy dengan syarat Nabi menghentikan dakwah Islamnya. Inilah dia sisi dimana Nabi Muhammad mempertahankan keteguhan Aqidahnya bahwa untuk memenangkan Islam tidaklah perlu menggunakan cara yang bathil apalagi ikut dalam peraturan jahiliyah, dan secara tidak langsung Nabi Muhammad mengajarkan pada kita bahwa untuk mencapai kemenangan memang memerlukan proses, kesabaran, serta pengorbanan. 

Dengan kejadian ini pula dapat juga kita simpulkan bahwa untuk menciptakan perubahan tidaklah harus melalui masuk dalam sistem yang ada dan terbukti rusak dan merusak. Dari luarpun kita bisa mewujudkan perubahan itu. Contoh kecil selain apa yang telah dilakukan oleh Nabiyyuna Muhammad hingga akhirnya bisa merebut kota Makkah Al-Mukarromah adalah Indonesia mulai dari kudeta kekuasaan oleh rezim orde baru (revolusi), kemudian reformasi pada tahun 1998 atau bahkan yang baru saja terjadi di Libiya atau Mesir.














maaf sahabat blogger, untuk sementara tulisan ini terhenti sampai disini,,, bila ada kesempatan insya Allah akan dilanjutkan,,, semoga bermanfaat...

Selasa, 27 September 2011

Guyur Air Langsung ke Kepala Saat Mandi Berisiko Stroke?

Jakarta, Beredar peringatan agar saat mandi jangan langsung mengguyur air ke kepala karena bisa berisiko stroke. Ternyata menurut pakar saraf kemungkinan itu ada terutama pada orang-orang tertentu yakni saat udara terlalu dingin atau panas dan suhu tubuh sedang dalam kondisi sebaliknya.

Maka itu disarankan bila Anda sedang kepanasan atau kedinginan, sebaiknya hindari mengguyur air langsung ke kepala saat mandi. Pada orang-orang tertentu, mengguyur air langsung ke kepala dengan suhu yang berlawanan bisa menyebabkan stroke.

Semua titik dan suhu dalam tubuh manusia baik yang berada di dalam maupun di luar berpengaruh pada aktivitas otak. Otak berfungsi untuk memonitor tubuh agar berfungsi secara normal, maka sesuatu yang ganjil pada tubuh tentu sangat mempengaruhi otak.

"Jika seseorang yang tubuhnya sedang kepanasan lalu langsung diguyur kepalanya dengan air dingin, bisa menyebabkan saraf kaget atau bahkan stroke bila terjadi pada orang yang tidak sehat," jelas Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM, saat dihubungi detikHealth, Senin (26/9/2011).

Prof Teguh menyebutkan, perubahan suhu yang tiba-tiba bisa menyebabkan stroke bila terjadi pada tipe-tipe orang dengan penyakit tertentu, yaitu:


  1. Penyakit jantung
  2. Tekanan darah tinggi
  3. Gangguan pembuluh darah (kardiovaskuler)
  4. Gangguan darah

"Ini juga terjadi ketika tubuh yang kedinginan tiba-tiba diguyur air panas. Perubahan yang tiba-tiba ini yang menyebabkan stroke. Makanya kalau orang haji sering mengalami heat stroke (stroke karena kepanasan), karena belum terbiasa dengan suhu yang tiba-tiba panas," lanjut Prof Teguh.

Prof Teguh menjelaskan, tubuh manusia memiliki regulasi yang tinggi karena terdapat thermo regulator (pengatur suhu) di otak. Ketika suhu tubuh panas, maka otak akan memerintahkan pembuluh darah untuk melebar agar terjadi penguapan dan penurunan suhu. Sebaliknya, otak akan memerintahkan pembuluh darah menyusut bila tubuh kedinginan.

Bila pembuluh darah yang sedang melebar karena kepanasan tiba-tiba disiram air dingin, maka bisa menyebabkan pembuluh darah pecah. Jika hal tersebut terjadi di pembuluh darah otak, maka bisa menyebabkan stroke. Hal yang sama juga terjadi ketika pembuluh darah yang sedang menyusut diguyur dengan air panas.

Menurut Prof Teguh, kondisi ini juga sering terjadi pada orang yang suka mandi uap. Jika selesai mandi uap yang panas kemudian langsung masuk ruangan AC, maka orang tersebut bisa pingsan. Perubahan suhu yang tiba-tiba bisa membahayakan pembuluh darah.

"Jadi orang yang memiliki penyakit jantung, hipertensi, ada masalah dengan pembuluh darah atau isi darahnya sendiri, harus hati-hati dengan perubahan suhu yang tiba-tiba. Kalau mau mandi sebaiknya diusap-usap dulu, jangan langsung diguyur ke kepala jadi biar beradaptasi dulu. Kita harus sayang dengan tubuh kita karena Tuhan sudah memberi kita tubuh yang sempurna. Sakit itu yang ngasih bukan Tuhan tapi karena manusia itu sendiri yang kurang bisa merawat tubuhnya," tutup Prof Teguh.

Untuk menghindari risiko kepala kaget disarankan saat udara terlalu dingin atau panas dan suhu tubuh sedang dalam kondisi sebaliknya, maka saat mandi jangan langsung mengguyur air di kepala. Beri tubuh penyesuaian dulu seperti menyiram tangan lalu badan baru ke kepala.



http://www.detikhealth.com/read/2011/09/26/190454/1730890/766/Guyur-Air-Langsung-ke-Kepala-Saat-Mandi-Berisiko-Stroke?&uuid=C0BA2740C5CCF20CB6D99114317757DC

Minggu, 25 September 2011

Kenali Arti Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah

Kalender Hijriyah adalah perhitungan kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, dan hari-hari penting lainnya. Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Siklus penghitungan kalender ini juga berbeda dengan kalender lain, yakni berdasarkan perputaran bulan di bumi.

Pada tahun 638 M (17 H), Khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622 M. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriyah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.

Perhitungan sebuah hari tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut dan dimulainya peredaran bulan, sedangkan sistem Kalender Masehi sebuah hari dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat.

Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender bulan (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun, sehingga bilangan hari dalam satu tahunnya adalah 12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari. Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah dimulai dari Muharram, Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Tsani (Akhir), Jumadil Ula, Jumadil Tsani (Akhir), Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqo’dah, Dzulhijjah.

Namun tahukah Anda mengapa diberinama demikian? dikutip dari website www.ummulqura.org.sa Senin (28/3/2011) berikut ini arti nama bulan hijriyyah

Muharram

Adalah bulan pertama pada kalender hijriyah, diberi nama Muharram karena bangsa Arab saat itu mengharamkan perang pada bulan ini.

Shafar

Penamaan bulan kedua dengan kata Shafar karena perkampungan Arab Shifr (kosong) dari penduduk, karena mereka keluar untuk perang. Ada juga yang mengatakan bahwa dinamakan dengan Shafar karena dulunya bangsa Arab memerangi berbagai kabilah sehingga kabilah yang mereka perangi menjadi Shifr (kosong) dari harta benda.

Rabiul Awwal

Penamaan bulan ketiga dengan nama Rabiuul awwal dilatarbelakangi karena bertepatan dengan musim semi yang terjadi di kawasan Arab saat itu.

Rabiul Tsani (Akhir)

Penamaan bulan keempat Rabiul Tsani dilatarbelakangi bangsa Arab saat itu mulai menggembalakan hewan ternak mereka, sementara rumput di padang gembalaan sudah mulai tumbuh agak meninggi dan besar setelah musim semi awal terjadi. Tsani juga dalam bahasa Arab bermakna dua atau kedua, jadi ini adalah musim semi kedua atau lanjutan.

Jumadil Ula

Penamaan bulan kelima dilatarbelakangi karena bertepatan dengan musim dingin, dimana air menjadi beku. Dan penambahan Ula ini juga menunjukkan musim pertama.

Jumadil Tsani

Penamaan bulan keenam ini tidak berbeda jauh dengan bulan kelima, karena sama-sama dilatarbelakangi dengan musim dingin, dimana air menjadi beku. Bedanya pada penambahan tsani yang bermakna kedua dan merupakan musim dingin lanjutan.

Rajab

Sejarah penamaan bulan ketujuh ini dilatarbelakangi karena bangsa Arab akan melepaskan tombak dari besi tajamnya untuk menahan diri dari peperangan. Jadi bulan ini seolah menjadi bulan untuk melakukan genjatan senjata dan menahan diri dari peperangan.

Sya’ban

Sejarah penamaan bulan kedelapan ini dilatarbelakangi karena bangsa Arab pada saat itu pergi berpencar ke berbagai tempat untuk mencari air. Bulan ini termasuk bulan yang sulit air dengan kemarau dan kekeringan yang panjang.

Ramadhan

Sejarah penamaan bulan kesembilan ini dilatarbelakangi karena bertepatan dengan musim panas. Di samping itu Ramadhan juga identik dengan perintah puasa, dimana di bulan muncul perintah puasa selama sebulan yang salah satu pesan yang diharapkan juga adalah membakar segala kesalahan dan kekhilafan. Pada gilirannya manusia akan keluar dari bulan ini dengan kondisi bersih layaknya bayi yang baru dilahirkan.

Syawwal

Sejarah penamaan bulan kesepuluh ini dilatarbelakangi pada saat itu unta betina kekurangan air susu. Makna syawwal juga adalah meningkat, yang bermakna bulan peningkatan derajat setelah menjalani puasa selama sebulan. Bulan ini juga punya nama lain yang populer sebagai Idul Fitri, yakni hari raya kembali ke fitrah juga merujuk usai melakukan ibadah puasa dan kembali pada fitrah manusia yang suci.

Dzulqaidah

Sejarah penamaan bulan kesebelas ini dilatarbelakangi karena bangsa Arab lebih banyak di rumah dan tidak berangkat untuk perang, karena bulan ini termasuk bulan haram yang tidak boleh melakukan perang. Ini merujuk pada anjuran Nabi SAW. kepada umat Islam.

Dzulhijjah

Sejarah penamaan bulan keduabelas ini dilatarbelakangi dengan pelaksanaan ibadah haji kepada seluruh umat Islam. Perintah yang wajib adalah sekali dalam seumur hidup, sementara yang kedua dan berikutnya bukan wajib, namun bernilai sunnah, begitu juga umrah di bulan lain. Bulan Dzulhijjah ini juga terkadang populer dengan nama bulan haji atau di luar daerah Arab, seperti Indonesia juga mengenal dengan bulan Qurban. Sebab bulan ini juga ada perayaan pelaksanaan penyembelihan hewan sebagai bentuk pengorbanan. (imm/imm)



http://www.today.co.id/read/2011/03/28/20637/kenali_arti_nama_bulan_dalam_kalender_hijriyah

My First Soup (The Unic One by Tempe Inside) ^_^

Ehem ehem,,,

Sahabat blogger, hari Minggu, rutinitas seperti biasa layaknya orang lain yaitu liburan, namun disini ada yang berbeda denganku dalam mengartikan liburan. Ingat pesan dari KH. Idris Jauhari semasa jadi santri, biasanya sebelum para santri pulang untuk berlibur, ada beberapa seremonial yang harus diikuti oleh para santri yakni pembekalan-pembekalan bagi para santri. Banyak sekali pesan yang terekam dalam benak ini, salah satunya adalah dalam mengartikan liburan, menurut beliau bahwa hakikat liburan ini adalah  العطلة هي إنتقال العمل من عمل إلي أعمال أخرى ,,, Hmm,,, ngerti ngga ya?? maksud dari perkataan tadi adalah bahwa liburan itu adalah perpindahan dari suatu aktivitas menuju berbagai aktifitas lainnya,,, kata (أعمال merupakan bentuk jamak dari kata عمل), berarti bila saat ini kita memiliki satu kesibukan maka dengan liburan kita akan memiliki dua, tiga atau bahkan empat aktifitas lain yang harus diselesaikan... 

lebih dalam beliau menjelaskan apa yang dimaksud tadi, bahwa aktivitas liburan santri merupakan perpindahan aktivitas dari kegiatan belajar dan pendidikan selama di pondok menjadi kegiatan dakwah pada keluarga dan masyarakat luas selama liburan... Sehingga para santri merupakan agen-agen Islam, dan kader pondok untuk memberikan pencerahan bagi masyarakat luas...


Nah, sekarang dimana letak perbedaan dalam mengartikan liburan dengan mayoritas orang?. Yup, menurut KBBIonline yang mengartikan liburan yang memiliki kata dasar libur (bebas dari bekerja atau masuk sekolah) dan liburan yang berarti vakansi sedangkan kata berlibur berarti pergi bersenang-senang. Oleh karena itu bukan hal yang aneh bila mayoritas orang menghabiskan waktunya untuk pergi berlibur menuju tempat pariwisata dalam artian bersenang-senang untuk melepaskan penat, stress dan beban fikiran lainnya setelah 6 hari dengan rutinitas pekerjaan. 


Berlibur dengan cara demikian memanglah terkadang membuat kita tergelincir pada perbuatan yang mengandung kegiatan pemborosan dan kesia-siaan... kitapun tahu bahwa boros dan sia-sia merupakan pekerjaan yang tidak sukai dalam Islam,... Bersenang-senang ditujukan oleh manusia untuk menghasilkan ketenangan dan kepuasan jiwa karena memang manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, oleh karena itu ketenangan jiwa merupakan suatu yang harus dipenuhi. Untuk memenuhipun manusia harus menyesuaikan dengan aturan syara', apabila yang kita lakukan mengandung kesia-siaan dan pelanggaran syara' mengapa harus kita lakukan? Bukankah seluruh perbuatan kita haruslah mengharap ridlo Allah SWT?


Ketentraman jiwa, menghilangkan stress dan lain sebagainya tidaklah harus dipenuhi dengan cara menghamburkan uang, misalkan pergi ke tempat hiburan dengan membayar mahal, belum lagi disana terdapat pelanggaran-pelanggaran syariat... yang akan menjauhkan kita dari ridlo dan barokah Allah, emang mau??


Nah sahabat blogger, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi liburan dimana masih mengandung ibadah dan insya Allah berkah... misalnya, mengoptimalkan waktu liburan kita dengan berkumpul bersama keluarga meskipun dengan membersihkan rumah atau lingkugan rame-rame atau bahkan berkebun, atau bisa saja untuk menggunakan waktu liburan kita untuk pengembangan diri dengan belajar hal yang baru, misalnya belajar bahasa, mencoba resep masakan, atau terserah deh mau belajar skill apa aja, atau bahkan kita isi dengan bersosialisasi dengan para tetangga dimana setiap harinya masing-masing dari kita disibukkan dengan urusan pekerjaan masing-masing. Insya Allah dengan demikian aktivitas kitapun akan lebih bermanfaat dan sudah pasti berkah... Amienn...


Sahabat blogger, sesuai judul di atas, sebenarnya saya cuma ingin berbagi pengalaman pertama yang telah saya lewati tadi pagi, sebelum saya beraktivitas berat. Tadi pagi saya mencoba untuk memasak SOP yang rasanya maknyussss sambil beres-beres kamar dan bersih2 lingkungan,,, Memang sengaja bahan sopnya saya beli kemaren sore sekalian belanja kacang panjang dan tauge yang saya tumis pada malam harinya buat makan malam,,, Yang sebelumnya sempet konsultasi sama penjual sayurnya,,, ga usah malu lah untuk bertanya, lagian beliau langganan saya belanja keperluan dapur sehari-hari...


Sop ini terbilang unik karena menurut sepengetahuan saya biasanya setiap masakan sop itu pasti pake daging sapi atau ayam, seperti sop buntuk, sop iga, dan lain-lain... Masakan sop saya ini sebenarnya memakai bumbu sop seperti pada umumnya orang-orang memasak sop, namun secara tidak sengaja saya teringat bahwa saya masih punya persediaan tempe sehingga saya masukin aja potongan tempe berbentuk dadu kedalam sopnya... Shubhanalloh, ternyata rasanya benar-benar maknyus,,, dan saya rasa ini adalah masakan yang paling enak saat itu "karena emang ngga ada masakan lain kali yaahh" heee...


Tapi emang jujur, sop masakan saya pagi itu meskipun sop pertama yang saya masak emang benar-benar enak. selain enak, ternyata banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan, selain kepuasan jiwa karena kita berhasil melakukan sebuah tantangan baru, minimal kita bisa berempati bagaimana rasanya ibu, kakak atau istri kita memasak tiap harinya untuk kita... Mungkin bagi sahabat blogger yang biasa membeli makanan untuk makan setiap harinya, harus lah mencoba sekali-kali memasak sendiri agar kita bisa merasakan masakan hasil tangang sendiri, ga peduli cewe ataupun cowo...


Namun sahabat blogger, seenak apapun masakan saya pagi itu saya merasa ada hal yang kurang, yang pasti bukan kurang garam tau bumbu, karena saya merasakan itu sendiri hanya ditemani karyawan tanpa ada keluarga menemani, sehingga semuanya itu tidaklah lengkap,,, Kejadian itu sering kali saya rasakan, biasanya adek-adek angkatan juga sering nagih minta buka bareng di rumah untuk minta dimasakin... Saya membayangkan seandainya pagi itu atau saat itu saya memasak di tengah-tengah keluarga akan ada berbagai reaksi, mungkin ada yang bilang enak, ngga enak atau entah reaksi apakah itu yang keluar dari mereka, yah memang sih bila di rumah saya tidak pernah memasak untuk keluarga,,, Namun bolehlah sesekali kita memasakkan untuk keluarga kecil kita, memberikan kejutan-kejutan kecil pasti seru banget ya... Insya allah berpahala, Insya Allah suatu saat akan terjadi,,, I Believe, I Sure will be come true... Amien,,,


Sahabat blogger, mungkin sampai disini aja sharingnya, sengaja tidak saya sertakan resep sopnya karena memang sop ini memakai bumbu seperti pada umumnya namun perbedannya terletak pada tempe,,, Bila Anda penasaran, silahkan aja coba... Selamat berkreasi,,, keep positive for your activity...

Sabtu, 24 September 2011

Anjuran Menikah di Bulan Syawal

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan makhluk-Nya secara berpasang-pasangan, di antaranya manusia. Lalu menjadikan nikah sebagai sarana resmi dan syar'i untuk menjalin hubungan keduanya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang telah menikah, menganjurkannya, dan terus menyemangati umatnya untuk memperbanyak keturunan. semoga juga shalawat dan salam dicurahkan kepada keluarga dan para sahabatnya.

Ibnul Mandzur berkata, "Syawal adalah salah satu nama bulan yang sudah ma'ruf, yakni nama bulan setelah bulan Ramadhan, dan merupakan awal dari bulan-bulan haji." Ada juga yang berpendapat, jika dikatakan Tasywiil Labnil Ibil (syawwalnya susu onta), berarti susu onta yang tinggal sedikit atau berkurang. Begitu juga onta yang berada dalam keadaan panas dan kehausan. Dari sini bangsa Arab berkeyakinan, bakal sial apabila melangsungkan akad pernikahan pada bulan ini. Mereka berkata, “Wanita yang hendak dikawini itu akan menolak lelaki yang ingin mengawininya seperti onta betina yang menolak onta jantan jika sudah dibuahi/bunting dan mengangkat ekornya.”

Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membatalkan anggapan sial mereka tersebut dengan menikahi istri tercintanya, 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan ini. Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata,
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي
“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawwal dan berkumpul denganku pada bulan Syawwal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim no. 2551, Al-Tirmidzi no. 1013, Al-Nasai no. 3184, Ahmad no. 23137 –dinukil dari Maktabah Syamilah-)

Maka yang menyebabkan orang Arab pada zaman jahiliyah dulu menganggap sial menikah pada bulan syawwal adalah keyakinan mereka bahwa wanita akan menolak suaminya seperti penolakan onta betina yang mengangkat ekornya setelah dibuahi/bunting. Yang pada intinya, mereka menganggap ada kesialan pada bulan ini untuk digunakan menikah dan melarangnya. Padahal sesungguhnya, keyakinan atau anggapan ini adalah anggapan yang tak berdasar dan tidak dibenarkan oleh syariat maupun akal akal sehat.

Anggapan sial menikah pada bulan Syawal merupakan perkara batil. Karena secara umum, merasa sial termasuk thiyarah yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui sabdanya,
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ
"Tidak ada penyakit menular dan tidak ada ramalan nasib sial." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Dan dalam hadits yang lain sangat tegas menjelaskan larangan thiyarah(ramalan merasa sial), ia termasuk syirik. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Ramalan nasib adalah syirik, ramalan nasib adalah syitik (sebanyak tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 3411, Ibnu Majah no. 3528, Ahmad no. 3978, dan al-Hakim no. 42. Al-Hakim mengatakan, hadits yang shahih sanadnya, para perawinya terpercaya namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya. Hadits ini disepakati al-Dzahabi dalam talkhisnya)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Berkumpulnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan Syawal menjadi bantahan akan keraguan sebagian orang yang membenci untuk menikah/berkumpul (dengan pasangannya) di antara dua hari raya, takut/khawatir keduanya akan bercerai. Dan ini tidak ada kaitannya." (al-Bidayah wa al-Nihayah: 3/253)

Tujuan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha menyampaikan hadits di atas, -beliau dinikahi dan digauli oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada bulan Syawal-, sebagai bantahan tradisi bangsa jahiliyah dan keyakinan orang awam pada saat ini yang tidak suka menikah, menikahkan, dan berkumpul pada bulan syawal. Ini merupakan keyakinan batil yang tak berdasar. Bahkan, termasuk warisan jahiliyah. Dimana mereka meramal kesialan menikah pada bulan tersebut karena nama Syawwaal berasal dari kata al-Isyalah wa al-raf'u (mengangkat : onta betina yang mengangkat ekornya karena tidak mau dikawin). (Lihat Syarh Muslim atas hadits di atas, no. 2551)

Dalam hadits di atas juga terdapat satu anjuran untuk menikah, menikahkan anak wanitanya, dan melakukan malam pertama pada bulan syawal. Alasanya, disamping ada usaha ittiba' pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menikah dan menggauli istri tercintanya pada bulan tersebut, juga sebagai bantahan dan penolakan akan keyakinan batil jahiliyah yang sudah pernah berjalan bertahun-tahun. Imam Nawawi rahimahullah dalam menjelaskan hadits Aisyah di atas berkata, "pada hadits hadits itu terdapat anjuran menikahkan, menikah (wanita) dan berkumpul/menggauli pada bulan Syawwal dan shahabat-shahabat kami juga menyebutkan sunnahnya hal itu dan mereka berdalil dengan hadits ini."

Urwah –salah seorang perawi hadits 'Aisyah di atas-, mengatakan,
وَكَانَتْ عَائِشَة تَسْتَحِبّ أَنْ تُدْخِل نِسَاءَهَا فِي شَوَّال
"Adalah Aisyah menyukai jika suami mulai menggauli istrinya (melakukan malam pertama) di bulan Syawal." (HR. Muslim)
. . . Membenci untuk menikah, menikahkan, dan malam pertama di bulan syawal karena takut dan khawatir sial/celaka berdasarkan mitos dan keyakinan tertentu termasuk syirik. . .
Kesimpulan
Larangan merasa sial dan akan bernasib buruk saat menikah di bulan Syawal karena mitos yang berkembang. Larangan ini juga berlaku pada bulan selainnya. Takut dan merasa akan sial jika menikah pada bulan tertentu seperti bulan Shafar, Muharram, dan lainnya dengan dasar keyakinan yang tersebar di masyarakat, disebut dengan thiyarah/tathayyur. Sedangkan tathayyur adalah termasuk syirik, dosa besar kepada Allah Ta'ala.

Larangan membenci melangsungkan pernikahan karena keyakinan batil semacam di atas, juga berlaku pada tahun tertetu, seperti takut celaka dua saudara menikah kalau tahun yang sama. Atau takut menikah pada hari-hari tertentu berdasarkan ramalan weton, tanggal lahir, dan semisalnya. Semua ini juga termasuk tathayyur yang wajib diingkari karena termasuk perbuatan syirik. Sementara syariat, tidak pernah melarang niat baik ini, menikah pada waktu-waktu tertentu selain saat ihram haji atau umrah.

Sementara dianjurkannya menikah pada bulan Syawal oleh sebagian ulama didasarkan pada pernikahan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan melam pertama beliau bersama 'Aisyah. Di sana ada nilai ittiba' yang diharapkan keberkahannya. Juga sebagai pendobrak atas keyakinan jahiliyah yang berkembang pada masa tersebut.

Pada masyarakat kita, bulan yang dianggap sial untuk menikah adalah bulan Muharram (Oleh orang Jawa dikenal dengan: suro). Maka jika melangsungkan pernikahan pada bulan tersebut dengan niatan untuk mendobrak khurafat, mitos dan keyakinan batil ini; Insya Allah termasuk suatu kebaikan. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Oleh: Badrul Tamam

Kalo bulan Rabi'uts Tsani ato Jumadil Ula gimana yaa?? Berdasar pada tulisan ini intinya semua bulan adalah baik, asalkan dengan niat meraih ridlo Allah...
http://voa-khilafah.blogspot.com/2011/09/anjuran-menikah-pada-bulan-syawal.html

Kekerabatan Suku Banjar

Jumat, 23 September 2011

Kisah Dua Sahabat

Alkisah, di sebuah perguruan beladiri yang terletak di atas bukit, ada dua orang murid yang bersahabat. Biarpun tinggal di bukit yang berbeda, yang dibatasi oleh sebuah anak sungai, tapi jadwal rutin mereka sama. Setiap hari, keduanya bertemu pada saat mengambil air di sungai untuk keperluan minum dan hidup mereka.

Pada suatu hari dan beberapa hari kemudian, murid yang lebih muda mulai merasa khawatir karena dia tidak bertemu dengan sahabatnya saat mengambil air.

"Duh, jangan-jangan temanku sakit atau terjadi kecelakaan! Atau mungkin bahkan dia telah pergi dari sini tanpa pamit?" batinnya penuh rasa gelisah.

Dengan penasaran dan niat untuk membantu kalau-kalau sahabatnya itu sakit atau celaka, si pemuda mendatangi bukit sebelah untuk mencari tahu jawabannya. Tiba di sana, dia melihat sahabatnya sedang berlatih beladiri dan pernafasan. Dia tampak sehat dan tidak kurang suatu apapun.

"Hai Kak, sudah beberapa hari ini saya tidak melihat kakak mengambil air. Saya sangat khawatir kalau kakak sakit atau kecelakaan. Syukurlah kalau sehat-sehat saja. Tetapi kenapa kakak tidak lagi mengambil air? Bukankah air minum dan keperluan sehari-hari masih diperlukan?" ujar si murid muda penasaran.

"Terima kasih, Dik. Kamu lihat sendiri, kakak sehat-shat saja. Mari sini, kakak tunjukkan!"

Sambil berjalan, murid yang lebih tua ini melanjutkan," Bukannya kakak tidak butuh air lagi, tetapi selama setahun ini, kakak telah bekerja keras di sela-sela waktu istirahat atau bila pekerjaan bisa kakak selesaikan lebih cepat. Kakak menggali tanah mencari sumber air! Kakak yakin, di sekitar sini pasti terdapat banyak sumber mata air dan jika kita mau mencari dan menggali, pasti akan mendapatkan sumber air. Ternyata usaha dan keyakinan kakak tidak sia-sia."
 
 
"Nah, sekarang kakak bisa berlatih dengan lebih giat dan mengerjakan hal-hal yang lebih bermanfaat serta lebih menyenangkan dibandingkan dengan kegiatanmengambil air yang setiap hari telah kita lakukan," jelas murid yang jauh lebih tua itu dengan senang.

Netter yang Bijaksana,
 
Murid yang lebih tua menggambarkan sosok manusia yang memiliki kesadaran lebih tinggi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan menyenangkan. Dia sadar, bahwa masa depan harus dipersiapkan dari saat ini. Dia juga bersedia menempuh risiko, karena ia percaya pada "harapan" bahwa yang akan dicapainya adalah sesuatu yang lebih besar dan berarti.

Dengan manajemen waktu yang baik dan sikap siap berjuang dan berkorban, niscaya keberhasilan dapat kita raih.

Salam sukses luar biasa!!!


http://www.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/4270/Kisah_Dua_Sahabat/#.TmnJjnReGfU.twitter

Kamis, 22 September 2011

4 Dimensi Kunci dalam Psychological Capital

taichi-re.jpgKetika kita dihadapkan pada tantangan yang kian menggunung (baik tantangan dalam arena pekerjaan di kantor ataupun dalam kehidupan personal), rajutan sikap semacam apa yang kita bentangkan? Ketika derap problema kehidupan selalu mengendap di setiap sisi perjalanan, apa yang kita senandungkan untuk memeluknya dengan penuh harapan?

Adakah cobaan demi cobaan yang terus datang menggedor itu kita hadapi dengan penuh deru kegigihan? Adakah kita bisa selalu bangkit, dan bangkit lagi setiap kali terpeleset di tikungan jalan kehidupan? Adakah kita masih bisa menghela semangat ketekunan bahkan ketika jalan masih terasa begitu jauh dan penuh dengan pendakian yang amat terjal?

Para ahli psikologi menyebutkan sikap semacam itu sebagai level of resiliency. Atau sejenis kegigihan dan keuletan yang menggumpal. Melalui sejumlah riset empirik yang melibatkan ribuan respoden, resiliency muncul sebagai salah satu dimensi paling utama untuk mereguk kesuksesan dalam arena kehidupan (baik kehidupan profesional ataupun personal).

Itulah salah satu bahasan yang diuraikan dalam buku menarik bertajuk Psychological Capital : Developing the Human Competitive Edge yang ditulis oleh Fred Luthans dan kawan-kawan (beberapa waktu lalu Pak Fred yang pakar manajemen SDM kelas dunia ini diundang ke Jakarta untuk membedah bukunya yang memikat itu).

Psychological capital sendiri dapat diartikan sebagai modal psikologis atau semacam modal sikap dan perilaku yang berperan besar dalam menentukan keberhasilan. Melalui beragam penelitian psikologis dan eskperimen saintifik, buku ini mencoba menelisik modal psikologis apa saja yang memiliki peran signifikan dalam membingkai kesuksesan.

psy-cap-re.jpgDisini para penulis buku tersebut menunjuk empat dimensi yang terbukti secara empirik (dan saintifik) memberikan pengaruh besar dalam kesuksesan.
Seperti telah disebutkan diatas, dimensi pertama yang sangat penting adalah resiliency. Atau kecakapan untuk terus merekahkan ikhtiar bahkan ketika orang itu dihadapkan pada cobaan ataupun kegagalan. Atau sejenis kemampuan untuk terus bertahan bahkan ketika dihadapkan pada tekanan atau tantangan yang terus datang menghadang.

Sembari bertahan, mereka terus menganyam siasat untuk bisa keluar dari tekanan itu. Mereka juga kemudian terus melakukan serangkaian tindakan untuk meringkus tantangan, dan kemudian menggulungnya dalam sekeping solusi yang bisa dijalankan.

Dimensi kedua yang juga memegang peran penting adalah self-efficacy. Atau sejenis sikap percaya akan kemampuan diri. Sebuah keyakinan bahwa ketika kita dihadapkan pada tugas dan tantangan, kita percaya pasti bisa menuntaskan tugas itu. Betapapun berat dan kompleks-nya tugas dan pekerjaan itu.
Orang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung menyukai tantangan dan “set high goals for themselves; and even they self-select into difficult tasks”. Ketika dihadapkan pada bentangan tugas yang challenging, mereka percaya dengan kompetensi dirinya, dan yakin bisa mengelola beragam sumber daya untuk menaklukan beragam tantangan itu.

Dimensi ketiga yang disebut dalam buku itu adalah HOPE. Dimensi itu tidak hanya melulu merujuk pada sebuah harapan positif akan masa depan yang lebih baik. Namun yang lebih penting, dimensi hope ini juga mengindikasinya adanya kecakapan untuk merajut jalan (pathways) agar masa depan yang lebih baik itu bisa tergenggam erat-erat. Dengan demikian, dimensi hope merupakan gabungan antara harapan, dan sekaligus rajutan jalan yang konkrit untuk mewujudkan harapan itu menjadi kenyataan.

Sebab kita tahu, harapan indah yang menari-nari segera akan meruap menjadi fatamorgana kalau ia tidak segera dibarengi dengan “pathway” yang jelas dan konkrit untuk menapakinya.

Dimensi yang terakhir adalah optimism. Seperti yang pernah dibahas disini, optimisme adalah sejenis keyakinan bahwa kita pasti akan mendapatkan hasil positif dalam setiap tugas dan pekerjaan yang kita lakoni. Ketika dihadapkan pada peristiwa negatif yang menghadang, orang optimis selalu melihat kejadian itu sebagai sesuatu yang hanya sementara (temporer) dan bersifat spesifik (artinya tidak akan berlaku di situasi lainnya).
Dengan cara pandang semacam itu, orang optimis selalu akan melihat “setback” dan “kegagalan” dengan kacamata “positif”. Artinya mereka tidak akan melulu meratapi kegagalan itu dengan sembilu yang berkepanjangan. Mereka tidak terjebak pada masa silam (past setback); dan hanya terus melangkahkan kaki ke depan dengan keyakinan positif.

Itulah empat dimensi utama pembentuk modal psikologis (psychological capital) yang solid. Resiliency. Self-Efficacy. Hope. Optimism. Kita berharap empat dimensi ini bisa terus menempel dan menjejak dalam relung sanubari kita yang paling dalam.

 http://strategimanajemen.net/2010/08/23/4-dimensi-kunci-dalam-psychological-capital/#more-846


hmmm,,, jadi pengen punya bukunya,,,

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More