This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selamat Datang Semoga Bermanfaat, Pengelola Web Akan Sangat Senang Bila Anda Berkenan Meninggalkan Jejak Berupa Koment Atas Postingan Kami

Minggu, 25 September 2011

My First Soup (The Unic One by Tempe Inside) ^_^

Ehem ehem,,,

Sahabat blogger, hari Minggu, rutinitas seperti biasa layaknya orang lain yaitu liburan, namun disini ada yang berbeda denganku dalam mengartikan liburan. Ingat pesan dari KH. Idris Jauhari semasa jadi santri, biasanya sebelum para santri pulang untuk berlibur, ada beberapa seremonial yang harus diikuti oleh para santri yakni pembekalan-pembekalan bagi para santri. Banyak sekali pesan yang terekam dalam benak ini, salah satunya adalah dalam mengartikan liburan, menurut beliau bahwa hakikat liburan ini adalah  العطلة هي إنتقال العمل من عمل إلي أعمال أخرى ,,, Hmm,,, ngerti ngga ya?? maksud dari perkataan tadi adalah bahwa liburan itu adalah perpindahan dari suatu aktivitas menuju berbagai aktifitas lainnya,,, kata (أعمال merupakan bentuk jamak dari kata عمل), berarti bila saat ini kita memiliki satu kesibukan maka dengan liburan kita akan memiliki dua, tiga atau bahkan empat aktifitas lain yang harus diselesaikan... 

lebih dalam beliau menjelaskan apa yang dimaksud tadi, bahwa aktivitas liburan santri merupakan perpindahan aktivitas dari kegiatan belajar dan pendidikan selama di pondok menjadi kegiatan dakwah pada keluarga dan masyarakat luas selama liburan... Sehingga para santri merupakan agen-agen Islam, dan kader pondok untuk memberikan pencerahan bagi masyarakat luas...


Nah, sekarang dimana letak perbedaan dalam mengartikan liburan dengan mayoritas orang?. Yup, menurut KBBIonline yang mengartikan liburan yang memiliki kata dasar libur (bebas dari bekerja atau masuk sekolah) dan liburan yang berarti vakansi sedangkan kata berlibur berarti pergi bersenang-senang. Oleh karena itu bukan hal yang aneh bila mayoritas orang menghabiskan waktunya untuk pergi berlibur menuju tempat pariwisata dalam artian bersenang-senang untuk melepaskan penat, stress dan beban fikiran lainnya setelah 6 hari dengan rutinitas pekerjaan. 


Berlibur dengan cara demikian memanglah terkadang membuat kita tergelincir pada perbuatan yang mengandung kegiatan pemborosan dan kesia-siaan... kitapun tahu bahwa boros dan sia-sia merupakan pekerjaan yang tidak sukai dalam Islam,... Bersenang-senang ditujukan oleh manusia untuk menghasilkan ketenangan dan kepuasan jiwa karena memang manusia terdiri dari jasmani dan ruhani, oleh karena itu ketenangan jiwa merupakan suatu yang harus dipenuhi. Untuk memenuhipun manusia harus menyesuaikan dengan aturan syara', apabila yang kita lakukan mengandung kesia-siaan dan pelanggaran syara' mengapa harus kita lakukan? Bukankah seluruh perbuatan kita haruslah mengharap ridlo Allah SWT?


Ketentraman jiwa, menghilangkan stress dan lain sebagainya tidaklah harus dipenuhi dengan cara menghamburkan uang, misalkan pergi ke tempat hiburan dengan membayar mahal, belum lagi disana terdapat pelanggaran-pelanggaran syariat... yang akan menjauhkan kita dari ridlo dan barokah Allah, emang mau??


Nah sahabat blogger, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi liburan dimana masih mengandung ibadah dan insya Allah berkah... misalnya, mengoptimalkan waktu liburan kita dengan berkumpul bersama keluarga meskipun dengan membersihkan rumah atau lingkugan rame-rame atau bahkan berkebun, atau bisa saja untuk menggunakan waktu liburan kita untuk pengembangan diri dengan belajar hal yang baru, misalnya belajar bahasa, mencoba resep masakan, atau terserah deh mau belajar skill apa aja, atau bahkan kita isi dengan bersosialisasi dengan para tetangga dimana setiap harinya masing-masing dari kita disibukkan dengan urusan pekerjaan masing-masing. Insya Allah dengan demikian aktivitas kitapun akan lebih bermanfaat dan sudah pasti berkah... Amienn...


Sahabat blogger, sesuai judul di atas, sebenarnya saya cuma ingin berbagi pengalaman pertama yang telah saya lewati tadi pagi, sebelum saya beraktivitas berat. Tadi pagi saya mencoba untuk memasak SOP yang rasanya maknyussss sambil beres-beres kamar dan bersih2 lingkungan,,, Memang sengaja bahan sopnya saya beli kemaren sore sekalian belanja kacang panjang dan tauge yang saya tumis pada malam harinya buat makan malam,,, Yang sebelumnya sempet konsultasi sama penjual sayurnya,,, ga usah malu lah untuk bertanya, lagian beliau langganan saya belanja keperluan dapur sehari-hari...


Sop ini terbilang unik karena menurut sepengetahuan saya biasanya setiap masakan sop itu pasti pake daging sapi atau ayam, seperti sop buntuk, sop iga, dan lain-lain... Masakan sop saya ini sebenarnya memakai bumbu sop seperti pada umumnya orang-orang memasak sop, namun secara tidak sengaja saya teringat bahwa saya masih punya persediaan tempe sehingga saya masukin aja potongan tempe berbentuk dadu kedalam sopnya... Shubhanalloh, ternyata rasanya benar-benar maknyus,,, dan saya rasa ini adalah masakan yang paling enak saat itu "karena emang ngga ada masakan lain kali yaahh" heee...


Tapi emang jujur, sop masakan saya pagi itu meskipun sop pertama yang saya masak emang benar-benar enak. selain enak, ternyata banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan, selain kepuasan jiwa karena kita berhasil melakukan sebuah tantangan baru, minimal kita bisa berempati bagaimana rasanya ibu, kakak atau istri kita memasak tiap harinya untuk kita... Mungkin bagi sahabat blogger yang biasa membeli makanan untuk makan setiap harinya, harus lah mencoba sekali-kali memasak sendiri agar kita bisa merasakan masakan hasil tangang sendiri, ga peduli cewe ataupun cowo...


Namun sahabat blogger, seenak apapun masakan saya pagi itu saya merasa ada hal yang kurang, yang pasti bukan kurang garam tau bumbu, karena saya merasakan itu sendiri hanya ditemani karyawan tanpa ada keluarga menemani, sehingga semuanya itu tidaklah lengkap,,, Kejadian itu sering kali saya rasakan, biasanya adek-adek angkatan juga sering nagih minta buka bareng di rumah untuk minta dimasakin... Saya membayangkan seandainya pagi itu atau saat itu saya memasak di tengah-tengah keluarga akan ada berbagai reaksi, mungkin ada yang bilang enak, ngga enak atau entah reaksi apakah itu yang keluar dari mereka, yah memang sih bila di rumah saya tidak pernah memasak untuk keluarga,,, Namun bolehlah sesekali kita memasakkan untuk keluarga kecil kita, memberikan kejutan-kejutan kecil pasti seru banget ya... Insya allah berpahala, Insya Allah suatu saat akan terjadi,,, I Believe, I Sure will be come true... Amien,,,


Sahabat blogger, mungkin sampai disini aja sharingnya, sengaja tidak saya sertakan resep sopnya karena memang sop ini memakai bumbu seperti pada umumnya namun perbedannya terletak pada tempe,,, Bila Anda penasaran, silahkan aja coba... Selamat berkreasi,,, keep positive for your activity...

Sabtu, 24 September 2011

Anjuran Menikah di Bulan Syawal

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan makhluk-Nya secara berpasang-pasangan, di antaranya manusia. Lalu menjadikan nikah sebagai sarana resmi dan syar'i untuk menjalin hubungan keduanya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang telah menikah, menganjurkannya, dan terus menyemangati umatnya untuk memperbanyak keturunan. semoga juga shalawat dan salam dicurahkan kepada keluarga dan para sahabatnya.

Ibnul Mandzur berkata, "Syawal adalah salah satu nama bulan yang sudah ma'ruf, yakni nama bulan setelah bulan Ramadhan, dan merupakan awal dari bulan-bulan haji." Ada juga yang berpendapat, jika dikatakan Tasywiil Labnil Ibil (syawwalnya susu onta), berarti susu onta yang tinggal sedikit atau berkurang. Begitu juga onta yang berada dalam keadaan panas dan kehausan. Dari sini bangsa Arab berkeyakinan, bakal sial apabila melangsungkan akad pernikahan pada bulan ini. Mereka berkata, “Wanita yang hendak dikawini itu akan menolak lelaki yang ingin mengawininya seperti onta betina yang menolak onta jantan jika sudah dibuahi/bunting dan mengangkat ekornya.”

Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membatalkan anggapan sial mereka tersebut dengan menikahi istri tercintanya, 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan ini. Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata,
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي
“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawwal dan berkumpul denganku pada bulan Syawwal, maka siapa di antara isteri-isteri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR. Muslim no. 2551, Al-Tirmidzi no. 1013, Al-Nasai no. 3184, Ahmad no. 23137 –dinukil dari Maktabah Syamilah-)

Maka yang menyebabkan orang Arab pada zaman jahiliyah dulu menganggap sial menikah pada bulan syawwal adalah keyakinan mereka bahwa wanita akan menolak suaminya seperti penolakan onta betina yang mengangkat ekornya setelah dibuahi/bunting. Yang pada intinya, mereka menganggap ada kesialan pada bulan ini untuk digunakan menikah dan melarangnya. Padahal sesungguhnya, keyakinan atau anggapan ini adalah anggapan yang tak berdasar dan tidak dibenarkan oleh syariat maupun akal akal sehat.

Anggapan sial menikah pada bulan Syawal merupakan perkara batil. Karena secara umum, merasa sial termasuk thiyarah yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui sabdanya,
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ
"Tidak ada penyakit menular dan tidak ada ramalan nasib sial." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Dan dalam hadits yang lain sangat tegas menjelaskan larangan thiyarah(ramalan merasa sial), ia termasuk syirik. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Ramalan nasib adalah syirik, ramalan nasib adalah syitik (sebanyak tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 3411, Ibnu Majah no. 3528, Ahmad no. 3978, dan al-Hakim no. 42. Al-Hakim mengatakan, hadits yang shahih sanadnya, para perawinya terpercaya namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya. Hadits ini disepakati al-Dzahabi dalam talkhisnya)

Imam Ibnu Katsir berkata, "Berkumpulnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha pada bulan Syawal menjadi bantahan akan keraguan sebagian orang yang membenci untuk menikah/berkumpul (dengan pasangannya) di antara dua hari raya, takut/khawatir keduanya akan bercerai. Dan ini tidak ada kaitannya." (al-Bidayah wa al-Nihayah: 3/253)

Tujuan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha menyampaikan hadits di atas, -beliau dinikahi dan digauli oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada bulan Syawal-, sebagai bantahan tradisi bangsa jahiliyah dan keyakinan orang awam pada saat ini yang tidak suka menikah, menikahkan, dan berkumpul pada bulan syawal. Ini merupakan keyakinan batil yang tak berdasar. Bahkan, termasuk warisan jahiliyah. Dimana mereka meramal kesialan menikah pada bulan tersebut karena nama Syawwaal berasal dari kata al-Isyalah wa al-raf'u (mengangkat : onta betina yang mengangkat ekornya karena tidak mau dikawin). (Lihat Syarh Muslim atas hadits di atas, no. 2551)

Dalam hadits di atas juga terdapat satu anjuran untuk menikah, menikahkan anak wanitanya, dan melakukan malam pertama pada bulan syawal. Alasanya, disamping ada usaha ittiba' pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menikah dan menggauli istri tercintanya pada bulan tersebut, juga sebagai bantahan dan penolakan akan keyakinan batil jahiliyah yang sudah pernah berjalan bertahun-tahun. Imam Nawawi rahimahullah dalam menjelaskan hadits Aisyah di atas berkata, "pada hadits hadits itu terdapat anjuran menikahkan, menikah (wanita) dan berkumpul/menggauli pada bulan Syawwal dan shahabat-shahabat kami juga menyebutkan sunnahnya hal itu dan mereka berdalil dengan hadits ini."

Urwah –salah seorang perawi hadits 'Aisyah di atas-, mengatakan,
وَكَانَتْ عَائِشَة تَسْتَحِبّ أَنْ تُدْخِل نِسَاءَهَا فِي شَوَّال
"Adalah Aisyah menyukai jika suami mulai menggauli istrinya (melakukan malam pertama) di bulan Syawal." (HR. Muslim)
. . . Membenci untuk menikah, menikahkan, dan malam pertama di bulan syawal karena takut dan khawatir sial/celaka berdasarkan mitos dan keyakinan tertentu termasuk syirik. . .
Kesimpulan
Larangan merasa sial dan akan bernasib buruk saat menikah di bulan Syawal karena mitos yang berkembang. Larangan ini juga berlaku pada bulan selainnya. Takut dan merasa akan sial jika menikah pada bulan tertentu seperti bulan Shafar, Muharram, dan lainnya dengan dasar keyakinan yang tersebar di masyarakat, disebut dengan thiyarah/tathayyur. Sedangkan tathayyur adalah termasuk syirik, dosa besar kepada Allah Ta'ala.

Larangan membenci melangsungkan pernikahan karena keyakinan batil semacam di atas, juga berlaku pada tahun tertetu, seperti takut celaka dua saudara menikah kalau tahun yang sama. Atau takut menikah pada hari-hari tertentu berdasarkan ramalan weton, tanggal lahir, dan semisalnya. Semua ini juga termasuk tathayyur yang wajib diingkari karena termasuk perbuatan syirik. Sementara syariat, tidak pernah melarang niat baik ini, menikah pada waktu-waktu tertentu selain saat ihram haji atau umrah.

Sementara dianjurkannya menikah pada bulan Syawal oleh sebagian ulama didasarkan pada pernikahan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan melam pertama beliau bersama 'Aisyah. Di sana ada nilai ittiba' yang diharapkan keberkahannya. Juga sebagai pendobrak atas keyakinan jahiliyah yang berkembang pada masa tersebut.

Pada masyarakat kita, bulan yang dianggap sial untuk menikah adalah bulan Muharram (Oleh orang Jawa dikenal dengan: suro). Maka jika melangsungkan pernikahan pada bulan tersebut dengan niatan untuk mendobrak khurafat, mitos dan keyakinan batil ini; Insya Allah termasuk suatu kebaikan. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam/voa-khilafah.co.cc]

Oleh: Badrul Tamam

Kalo bulan Rabi'uts Tsani ato Jumadil Ula gimana yaa?? Berdasar pada tulisan ini intinya semua bulan adalah baik, asalkan dengan niat meraih ridlo Allah...
http://voa-khilafah.blogspot.com/2011/09/anjuran-menikah-pada-bulan-syawal.html

Kekerabatan Suku Banjar

Jumat, 23 September 2011

Kisah Dua Sahabat

Alkisah, di sebuah perguruan beladiri yang terletak di atas bukit, ada dua orang murid yang bersahabat. Biarpun tinggal di bukit yang berbeda, yang dibatasi oleh sebuah anak sungai, tapi jadwal rutin mereka sama. Setiap hari, keduanya bertemu pada saat mengambil air di sungai untuk keperluan minum dan hidup mereka.

Pada suatu hari dan beberapa hari kemudian, murid yang lebih muda mulai merasa khawatir karena dia tidak bertemu dengan sahabatnya saat mengambil air.

"Duh, jangan-jangan temanku sakit atau terjadi kecelakaan! Atau mungkin bahkan dia telah pergi dari sini tanpa pamit?" batinnya penuh rasa gelisah.

Dengan penasaran dan niat untuk membantu kalau-kalau sahabatnya itu sakit atau celaka, si pemuda mendatangi bukit sebelah untuk mencari tahu jawabannya. Tiba di sana, dia melihat sahabatnya sedang berlatih beladiri dan pernafasan. Dia tampak sehat dan tidak kurang suatu apapun.

"Hai Kak, sudah beberapa hari ini saya tidak melihat kakak mengambil air. Saya sangat khawatir kalau kakak sakit atau kecelakaan. Syukurlah kalau sehat-sehat saja. Tetapi kenapa kakak tidak lagi mengambil air? Bukankah air minum dan keperluan sehari-hari masih diperlukan?" ujar si murid muda penasaran.

"Terima kasih, Dik. Kamu lihat sendiri, kakak sehat-shat saja. Mari sini, kakak tunjukkan!"

Sambil berjalan, murid yang lebih tua ini melanjutkan," Bukannya kakak tidak butuh air lagi, tetapi selama setahun ini, kakak telah bekerja keras di sela-sela waktu istirahat atau bila pekerjaan bisa kakak selesaikan lebih cepat. Kakak menggali tanah mencari sumber air! Kakak yakin, di sekitar sini pasti terdapat banyak sumber mata air dan jika kita mau mencari dan menggali, pasti akan mendapatkan sumber air. Ternyata usaha dan keyakinan kakak tidak sia-sia."
 
 
"Nah, sekarang kakak bisa berlatih dengan lebih giat dan mengerjakan hal-hal yang lebih bermanfaat serta lebih menyenangkan dibandingkan dengan kegiatanmengambil air yang setiap hari telah kita lakukan," jelas murid yang jauh lebih tua itu dengan senang.

Netter yang Bijaksana,
 
Murid yang lebih tua menggambarkan sosok manusia yang memiliki kesadaran lebih tinggi untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik dan menyenangkan. Dia sadar, bahwa masa depan harus dipersiapkan dari saat ini. Dia juga bersedia menempuh risiko, karena ia percaya pada "harapan" bahwa yang akan dicapainya adalah sesuatu yang lebih besar dan berarti.

Dengan manajemen waktu yang baik dan sikap siap berjuang dan berkorban, niscaya keberhasilan dapat kita raih.

Salam sukses luar biasa!!!


http://www.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/4270/Kisah_Dua_Sahabat/#.TmnJjnReGfU.twitter

Kamis, 22 September 2011

4 Dimensi Kunci dalam Psychological Capital

taichi-re.jpgKetika kita dihadapkan pada tantangan yang kian menggunung (baik tantangan dalam arena pekerjaan di kantor ataupun dalam kehidupan personal), rajutan sikap semacam apa yang kita bentangkan? Ketika derap problema kehidupan selalu mengendap di setiap sisi perjalanan, apa yang kita senandungkan untuk memeluknya dengan penuh harapan?

Adakah cobaan demi cobaan yang terus datang menggedor itu kita hadapi dengan penuh deru kegigihan? Adakah kita bisa selalu bangkit, dan bangkit lagi setiap kali terpeleset di tikungan jalan kehidupan? Adakah kita masih bisa menghela semangat ketekunan bahkan ketika jalan masih terasa begitu jauh dan penuh dengan pendakian yang amat terjal?

Para ahli psikologi menyebutkan sikap semacam itu sebagai level of resiliency. Atau sejenis kegigihan dan keuletan yang menggumpal. Melalui sejumlah riset empirik yang melibatkan ribuan respoden, resiliency muncul sebagai salah satu dimensi paling utama untuk mereguk kesuksesan dalam arena kehidupan (baik kehidupan profesional ataupun personal).

Itulah salah satu bahasan yang diuraikan dalam buku menarik bertajuk Psychological Capital : Developing the Human Competitive Edge yang ditulis oleh Fred Luthans dan kawan-kawan (beberapa waktu lalu Pak Fred yang pakar manajemen SDM kelas dunia ini diundang ke Jakarta untuk membedah bukunya yang memikat itu).

Psychological capital sendiri dapat diartikan sebagai modal psikologis atau semacam modal sikap dan perilaku yang berperan besar dalam menentukan keberhasilan. Melalui beragam penelitian psikologis dan eskperimen saintifik, buku ini mencoba menelisik modal psikologis apa saja yang memiliki peran signifikan dalam membingkai kesuksesan.

psy-cap-re.jpgDisini para penulis buku tersebut menunjuk empat dimensi yang terbukti secara empirik (dan saintifik) memberikan pengaruh besar dalam kesuksesan.
Seperti telah disebutkan diatas, dimensi pertama yang sangat penting adalah resiliency. Atau kecakapan untuk terus merekahkan ikhtiar bahkan ketika orang itu dihadapkan pada cobaan ataupun kegagalan. Atau sejenis kemampuan untuk terus bertahan bahkan ketika dihadapkan pada tekanan atau tantangan yang terus datang menghadang.

Sembari bertahan, mereka terus menganyam siasat untuk bisa keluar dari tekanan itu. Mereka juga kemudian terus melakukan serangkaian tindakan untuk meringkus tantangan, dan kemudian menggulungnya dalam sekeping solusi yang bisa dijalankan.

Dimensi kedua yang juga memegang peran penting adalah self-efficacy. Atau sejenis sikap percaya akan kemampuan diri. Sebuah keyakinan bahwa ketika kita dihadapkan pada tugas dan tantangan, kita percaya pasti bisa menuntaskan tugas itu. Betapapun berat dan kompleks-nya tugas dan pekerjaan itu.
Orang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung menyukai tantangan dan “set high goals for themselves; and even they self-select into difficult tasks”. Ketika dihadapkan pada bentangan tugas yang challenging, mereka percaya dengan kompetensi dirinya, dan yakin bisa mengelola beragam sumber daya untuk menaklukan beragam tantangan itu.

Dimensi ketiga yang disebut dalam buku itu adalah HOPE. Dimensi itu tidak hanya melulu merujuk pada sebuah harapan positif akan masa depan yang lebih baik. Namun yang lebih penting, dimensi hope ini juga mengindikasinya adanya kecakapan untuk merajut jalan (pathways) agar masa depan yang lebih baik itu bisa tergenggam erat-erat. Dengan demikian, dimensi hope merupakan gabungan antara harapan, dan sekaligus rajutan jalan yang konkrit untuk mewujudkan harapan itu menjadi kenyataan.

Sebab kita tahu, harapan indah yang menari-nari segera akan meruap menjadi fatamorgana kalau ia tidak segera dibarengi dengan “pathway” yang jelas dan konkrit untuk menapakinya.

Dimensi yang terakhir adalah optimism. Seperti yang pernah dibahas disini, optimisme adalah sejenis keyakinan bahwa kita pasti akan mendapatkan hasil positif dalam setiap tugas dan pekerjaan yang kita lakoni. Ketika dihadapkan pada peristiwa negatif yang menghadang, orang optimis selalu melihat kejadian itu sebagai sesuatu yang hanya sementara (temporer) dan bersifat spesifik (artinya tidak akan berlaku di situasi lainnya).
Dengan cara pandang semacam itu, orang optimis selalu akan melihat “setback” dan “kegagalan” dengan kacamata “positif”. Artinya mereka tidak akan melulu meratapi kegagalan itu dengan sembilu yang berkepanjangan. Mereka tidak terjebak pada masa silam (past setback); dan hanya terus melangkahkan kaki ke depan dengan keyakinan positif.

Itulah empat dimensi utama pembentuk modal psikologis (psychological capital) yang solid. Resiliency. Self-Efficacy. Hope. Optimism. Kita berharap empat dimensi ini bisa terus menempel dan menjejak dalam relung sanubari kita yang paling dalam.

 http://strategimanajemen.net/2010/08/23/4-dimensi-kunci-dalam-psychological-capital/#more-846


hmmm,,, jadi pengen punya bukunya,,,

Senin, 19 September 2011

Doa Untuk Memperoleh Ridho Allah

Seorang Muslim senantiasa mengharapkan Ridho Allah dalam setiap sepak terjang aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan memperoleh Ridho Allah sajalah hidupnya menjadi lurus, terarah dan benar. Seorang Muslim yang mengejar Ridho Allah berarti menjadi seorang beriman yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam ber’amal merupakan orang yang tidak bakal sanggup diganggu apalagi dikalahkan oleh syetan. Allah menjamin hal ini berdasarkan firmanNya dimana dedengkot syetan saja, yakni Iblis, mengakui ketidak-berdayaannya menyesatkan hamba-hamba Allah yang mukhlis.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS Al-Hijr ayat 39-40)

Orang-orang yang telah menjadikan Ridho Allah semata sebagai tujuan hidupnya tidak mungkin dapat disimpangkan dari jalan yang benar.  Mereka tidak mempan di-iming-imingi dengan kenikmatan apapun di dunia ini. Sebab mereka sangat yakin bahwa kenikmatan jannah (surga) yang Allah janjikan bagi mereka tidak bisa disetarakan apalagi dikalahkan oleh kenikmatan duniawi bagaimanapun bentuknya. Harta, tahta maupun wanita tidak mungkin mereka dahulukan daripada kenikmatan ukhrawi surgawi yang Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sendiri gambarkan sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّه
 أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ
وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Allah berfirman: “Aku telah sediakan untuk hamab-hambaKu yang sholeh apa-apa yang tidak pernah mata memandangnya, dan tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak pernah terbersit di dalam hati manusia.” ( HR Bukhary)

Hamba-hamba Allah yang mukhlis kebal terhadap berbagai ancaman manusia berupa siksa dan penderitaan duniawi apapun, karena bagi mereka tidak ada yang lebih menakutkan daripada ancaman Allah berupa siksa dan penderitaan hakiki di dalam neraka akhirat kelak. Mereka memiliki sikap seperti sikap para tukang sihir Fir’aun yang semula loyal kepada penguasa zalim tersebut, namun setelah menyaksikan betapa unggulnya kekuatan Allah lewat performa NabiNya Musa, maka akhirnya mereka bertaubat. Mereka selanjutnya meninggalkan (baca: baro’ alias berlepas diri dari) Fir’aun dan tidak menghiraukan ancamannya bagaimanapun bentuknya:

قَالَ آَمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آَذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ قَالُوا لَا ضَيْرَ إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ إِنَّا نَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَايَانَا أَنْ كُنَّا أَوَّلَ الْمُؤْمِنِينَ

”Fir`aun berkata: "Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya". Mereka berkata: "Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman". (QS Asy-Syuara ayat 49-51)

Orang-orang yang sibuk menggapai Ridho Allah semata dalam hidupnya sangat meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang patut di jadikan prioritas utama kecintaan, kepatuhan dan rasa takut. Mereka berusaha untuk selalu mendahulukan Allah dalam setiap gerak-gerik hidupnya. Mereka sangat benci menyekutukan atau menduakan apalagi men-tigakan Allah, Rabbul’aalamiin. Sebab mereka sangat yakin bahwa Allah sajalah Raja di langit dan Raja di bumi. Sehingga dalam menyerahkan kecintaan, kepatuhan atau rasa takut kepada selain Allah mereka tidak akan pernah mau menyetarakan apalagi mendahulukan selain Allah. Sikap mereka kepada para pemimpin dan pembesar dunia adalah sikap yang sangat proporsional. Mereka hanya mau mentaati pemimpin yang senantiasa mengajak kepada meraih Ridho Allah juga. Namun bila pemimpin yang ada malah mengalihkan mereka dari mengejar Ridho Allah, maka bagi orang-orang mukhlis Ridho Allah jauh lebih utama didahulukan.

Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa jalan hidup yang sepatutnya dilalui hanyalah jalan hidup yang mendatangkan keridhoan Allah. Sedangkan Allah telah menegaskan bahwa hanya Islam-lah jalan hidup atau dien yang diridhaiNya.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
”Sesungguhnya dien atau agama atau jalan hidup (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran ayat 19)

Sedemikian yakinnya kaum mukhlisin akan kebenaran pernyataan Allah di atas, sehingga di dalam hati mereka tidak tersisa lagi cadangan kepercayaan akan jalan hidup lainnya. Sebab semua jalan hidup lainnya bukan dari Allah yang mereka senantiasa kejar keridhaanNya. Jalan hidup lainnya hanyalah jalan hidup palsu bikinan manusia yang seringkali dihiasi dengan nafsu dan sikap zalim serta keterbatasan ilmu alias jahil atau bodoh. Orang-orang mukhlis tidak lagi menyisakan di dalam diri mereka kepercayaan akan Liberalisme, Pluralisme, Sekularisme, Kapitalisme, Sosialisme, Komunsime, Humanisme, Hedonisme apalagi Demokrasi. Semua jalan hidup itu bagi mereka tidak menjamin akan mendatangkan keridhoan Alllah. Padahal mereka sudah sangat yakin bahwa hidup tanpa keridhoan Allah adalah kehidupan yang merugi dan penuh ke-sia-siaan.

Kaum mukhlisin hanya meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya teladan dan prototype sempurna yang wajib diteladani segenap sepakterjang perjuangannya. Bilamana menempuh jalan uswah tersebut berakibat kepada munculnya kehidupan yang penuh kesulitan dan jalan mendaki, maka mereka dengan rela hati akan menempuhnya. Bila karena meneladani Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mereka harus mengalami pengucilan dan stigma negatif dari kebanyakan manusia, maka mereka dengan sabar terus menempuhnya. Tidak sedikitpun rayuan dan iming-iming maupun ancaman dan black campaign fihak musuh dapat menyimpangkan mereka dari jalan hidup teladan utama ini. Karena kaum mukhlisin sangat yakin bahwa menegakkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam merupakan satu-satunya jalan untuk meraih keridhoan Allah.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
 لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam  itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab ayat 21)

Sedangkan meninggalkan sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam hanya akan mengantarkan mereka kepada kesenangan sementara dunia namun mengakibatkan penderitaan abadi dan hakiki di dalam kehidupan akhirat kelak nanti. Apalah artinya ”seolah berjaya” sebentar di dunia untuk kemudian merugi dan menyesal selamanya di akhirat. Lebih baik bersabar sebentar di dunia untuk menikmati kesenangan dan kebahagiaan sejati lagi abadi di kampung halaman jannatun-na’iim.

Maka para pemburu Ridho Allah setiap hari senantiasa memperbaharui komitmen mereka dengan mengikrarkan di dalam dirinya kalimat “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Nabi”. Pengulangan ikrar harian ini menjadi sangat penting sebab ia merupakan salah satu jalan untuk memastikan bahwa Ridho Allah menyertai mereka ketika sudah berjumpa Allah di hari Kiamat atau hari Berbangkit. Demikianlah anjuran Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummatnya sebagaimana diterangkan di bawah ini: 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim yang membaca di pagi hari dan di sore hari sebanyak tiga kali “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ahmad)
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ
حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
 إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim atau seorang manusia atau hamba yang membaca di sore hari dan di pagi hari: “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah)

http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/doa-untuk-memperoleh-ridho-allah.htm

Minggu, 18 September 2011

7 Wonderful Qualities of a Leader

Oxford Advanced Learner's Dictionary, New 8th edition (2010), defines leader as a person who leads a group of people, especially the head of a country, an organization, etc.

To be a wonderful leader, one should possess combinations of some of the following qualities:

1) Leaders Have Good Communication Skills
Leaders are good communicators. They leave no doubt about the meaning of their message. That's what Stan Toler (2002) wrote in his book "Minute Motivators for Leaders". He added that communication process is not complete until the audience has both listened and understood the delivered message.

Bob Adams (2001) in his book "The Everything Leadership Book" said that effective communication skills are integral to any working partnership / team or personal relationship. Therefore, according to him, it is safe to say that good communication skills are one of the building blocks of being an effective leader.

2) Leaders Are People with Courage
Courage is largely habit and self-confidence. It is a valuable commodity on the battlefield or in the board room. Alan Axelrod (1999) mentioned this in his book "Patton on Leadership". According to him, General George S. Patton, Jr., one of the most decorated American heroes during World War II, believed that courage could be learned – acquired through practice.

According to Marshall Loeb and Stephen Kindel (1999) in their book "Leadership for Dummies", leaders learn how to suck up their courage, trust their instincts, and move ahead into the unknown, even when they're just as scared as their followers.

3) Leaders Pay Attention to Details
During World War II, in commanding the U.S. Third Army, General Patton understood that wet socks lead to trenchfoot and other conditions that keep a man from marching, wrote Axelrod (1999). Socks are a small and lowly item, but Patton realized that on dry socks (and healthy feet), the efficiency of his army depended.
On the other hand, lack of attention to details can result in tragedy. According to Seth Godin (1995) in his book "Wisdom, Inc.", the space shuttle Challenger exploded because a fifteen-cent rubber part did not function in unusually cold weather. Several brilliant scientists (and astronauts) were killed because this one tiny detail was overlooked.

Napoleon Hill (1937) in his book "Think and Grow Rich" mentioned about the mastery of detail, which was one of the 11 important factors of leadership. According to him, successful leadership calls for mastery of the details of the leader's position.

4) Leaders are Problem Solvers
"You can measure a leader by the problems he tackles. He always looks for ones his own size", wrote by John C. Maxwell (1999) in his book "The 21 Indispensable Qualities of a Leader".

Every workplace will have some conflict, no matter how great the leadership team may be. Leaders need to identify conflict as early as possible and determine what kind of conflict is involved and its underlying causes. These remarks were written by Bob Adams (2001) in his book "The Everything Leadership Book".

5) Leaders Build Relationships
Building relationships based on trust was one of the topics covered by Ian Lawson (2001) in his book "Leadership". According to him, there are seven key behaviours / attributes in this area:
  • Not putting self-interest before the interests of your staff,
  • Keeping promises and doing what you say you will do,
  • Being in touch with and sensitive to other people's feelings,
  • Being calm in a crisis and when under pressure,
  • Being honest and truthful,
  • Not taking personal credit for other people's work, and
  • Always being fair.
6) The Leader as Team-Builder
Ismail Noor (2002) wrote his book "Prophet Muhammad's Leadership" that the Prophet Muhammad s.a.w. is acknowledged as an exemplary team leader who knew how to get the best out of his principal lieutenants by understanding the true value of the human resource factor.

According to him, effective team-working stems from people complementing, rather than, rivalling, each other or merely co-existing alongside one another.

The leading members of the Majlis Syura or the Consultative Council during the time of the Prophet's governance were Abu Bakar As-Siddiq, Umar Al-Khattab, Uthman Al-Affan, Ali bin Abi Talib, Zaid bin Thabit Al-Ansari, Abd. Rahman bin 'Auf, Salmaan Al-Farsi, and 'Ubayy bin Ka'b.

7) The Leader as Visionary
In her book "Leadership Skills for Managers", Marlene Caroselli (2001) stated that for leaders to effect positive change, they must have a picture of what the improvement will look like. That improvement, on a small or grand scale, is called a vision.

According to Ros Jay (2004), vision is the ability to develop the future strategy of the business. In her book "The Successful Candidate", she wrote: "vision implies that not only can you see ahead and respond well in advance, but that you can also be pro-active, setting the trend yourself and setting how the business will look in several years' time.

"Wonderful leaders are comparable to eagles. They fly higher but not in flocks, like most birds".


Inspired from http://www.iluvislam.com/gaya-hidup/kepimpinan/1387-7-wonderful-qualities-of-a-leader.html

Jumat, 16 September 2011

Tak Ada Alasan Berputus Asa

 

Tak ada alasan bagi seorang muslim untuk berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir.

"Wahai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir”.
QS. Yusuf (12) : 87

Keep Fight 
Give the best for dakwah
Do the best for dream
Dream, believe and make it happend...

Don't ever give up,,,
Semangaaaaat...
Go go go...
^_^
.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More