This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selamat Datang Semoga Bermanfaat, Pengelola Web Akan Sangat Senang Bila Anda Berkenan Meninggalkan Jejak Berupa Koment Atas Postingan Kami

Kamis, 07 April 2011

Konspirasi Kolonialis Eropa Menghancurkan Khilafah (Mustafa Kemal La'natullah)


Pada hari Senin tanggal 3 Maret 1924 (28th Rajab 1342AH), dunia dikejutkan oleh berita bahwa Mustafa Kemal di Turki secara resmi telah menghapus Khilafah. Pada malam itu Abdul Majid II, Khalifah terakhir kaum muslimin, dipaksa untuk mengemas kopernya yang berisi pakaian dan uang ke dalam kendaraan nya dan diasingkan dari Turki, dan tidak pernah kembali. Dengan cara itulah pemerintahan Islam yang berusia 1342 tahun berakhir. Kisah berikut adalah sekelumit sejarah dari tindakan-tindakan kekuatan kolonialis dengan pertama kali menyebarkan benih perpecahan diantara kaum muslimin dengan menanamkan nasionalisme dan akhirnya mengatur penghancuran Daulah Khilafah melalui agen-agen pengkhianatnya.

Beberapa bulan setelah penghancuran Khilafah tanggal 24 Juli 1924, kemerdekaan Turki secara resmi diakui dengan penandatanganan Traktat Lausanne. Inggris dan sekutu-sekutunya menarik semua pasukannya dari Turki yang ditempatkan sejak akhir PD I. Sebagai reaksi dari hal ini, dilakukan protes pada Menlu Lord Curzon di House of Common karena Inggris mengakui kemerdekaan Turki. Lord Currzon menjawab,

"Situasinya sekarang adalah Turki telah mati dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, khilafah dan Islam."

Sebagaimana diakui oleh Lord Curzon, Inggris bersama dengan Perancis memainkan peran penting dalam membagi-bagi tanah kaum muslimin diantara mereka. Rencana mereka melawan Khilafah bukanlah karena Khilafah berpihak pada Jerman pada PD I. Rencana ini telah dibuat ratusan tahun yang lalu yang akhirnya berbuah ketika Khilafah Usmani dengan cepat mulai merosot di pertengahan abad ke 18.

Usaha yang pertama untuk menghancurkan persatuan Islam terjadi pada abad ke 11 ketika Paus Urbanus II melancarkan Perang Salib I untuk menduduki Al-Quds. Setelah 200 tahun pendudukan, akhirnya pasukan salib dikalahkan di tangan Salahudin Ayyubi. Di abad ke 15 Konstantinopel ditaklukan dan benteng terakhir Kekaisaran Byzantium itupun dikalahkan. Lalu pada abad ke 16 Daulah Islam menyapu seluruh bagian selatan dan timur Eropa dengan membawa Islam kepada bangsa-bangsa itu. Akibatnya jutaan orang Albania, Yugoslavia, Bulgaria dan negara-negara lain memeluk Islam. Setelah pengepungan Wina tahun 1529 Eropa membentuk Aliansi untuk menghentikan expansi Khilafah di Eropa. Pada titik itulah terlihat bangkitnya permusuhan pasukan Salib terhadap Islam dan Khilafah, dan dibuatlah rencana-rencana berkaitan dengan 'Masalah Ketimuran' seperti yang sudah diketahui.

Count Henri Decastri, seorang pengarang Perancis menulis dalam bukunya yang berjudul Islam tahun 1896:

"Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kaum muslimin jika mereka mendengar cerita-cerita di abad pertengahan dan mengerti apa yang biasa dikatakan oleh ahli pidato Kristen dalam hymne-hymne mereka; semua hymne kami bahkan hymne yang muncul sebelum abad ke 12 berasal dari konsep yang merupakan akibat dari Perang Salib, hymne-hymne itu dipenuhi oleh kebencian kepada kaum muslimin dikarenakan ketidakpedulian mereka terhadap agamanya. Akibat dari hymne dan nyanyian itu, kebencian terhadap agama itu tertancap di benak mereka, dan kekeliruan ide menjadi berakar, yang beberapa diantaranya masih terbawa hingga saat ini. Tiap orang menganggap muslim sebagai orang musyrik, tidak beriman, pemuja berhala dan murtad."

Setelah kekalahan mereka, pasukan Salib menyadari bahwa kekuatan Islam dan keyakinannya adalah Akidah Islam. Sepanjang kaum muslimin berkomitmen dengan kuat pada Islam dan Qur̢۪an, Khilafah tidak akan pernah hancur. Inilah sebabnya di akhir abad ke 16, mereka mendirikan pusat misionaris pertama di Malta dan membuat markasnya untuk melancarkan serangan misionarisnya terhadap Dunia Islam. Inilah awal masuknya kebudayaan Barat ke Dunia Islam yang dilakukan para misionaris Inggris, Perancis dan Amerika.

Para misionaris itu bekerja dengan berkedok lembaga-lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Awalnya akibat dari tindakan itu hanya kecil saja. Tapi selama abad ke 18 dan 19 ketika kemunduran Khilafah mulai muncul, mereka mampu mengeksplotasi kelemahan negara dan menyebarkan konsep-konsep yang jahat kepada masyarakat. Di abad 19, Beirut menjadi pusat aktivitas misionaris. Selama masa itu, para misionaris mengeksploitasi perselisihan dalam negeri diantara orang Kristen dan Druze dan kemudian antara Kristen dan Muslim, dengan Inggris berpihak pada Druze sementara Perancis berpihak pada Kristen Maronit. Selama masa itu para misionaris itu memiliki dua agenda utama: (1) Memisahkan Orang Arab dari Khilafah Usmani; (2) Membuat kaum muslimin merasa terasing dari ikatan Islam

Tahun 1875 'Persekutuan Rahasia' dibentuk di Beirut dalam usaha untuk mendorong nasionalisme Arab diantara rakyat. Melalui pernyataan-pernyataan dan selebaran-selebaran, persekutuan itu menyerukan kemerdekaan politik orang Arab, khususnya mereka yang tinggal di Syria dan Libanon. Dalam literaturnya, mereka berulangkali menuduh Turki merebut Khilafah Islam dari orang Arab, melanggar Syariah, dan , mengkhianati Agama Islam.

Hal ini memunculkan benih-benih nasionalisme yang akhirnya berbuah pada tahun 1916 ketika Inggris memerintahkan seorang agennya Sharif Hussein dari Mekkah untuk melancarkan Pemberontakan Arab terhadap Khilafah Usmani. Pemberontakan ini sukses dalam membagi tanah Arab dari Khilafah dan kemudian menempatkan tanah itu di bawah mandat Inggris dan Perancis.


Di saat yang sama, nasionalisme mulai dikobarkan diantara orang Turki. Gerakan Turki Muda didirikan tahun 1889 berdasarkan nasionalisme Turki dan dapat berkuasa tahun 1908 setelah mengusir Khalifah Abdul Hamid II. Pengkhianat Mustafa Kamal yang menghapus Kekhalifahan adalah anggota Turki Muda. Inilah alasanya mengapa Kemal kemudian berkata:

"Bukankah karena Khilafah, Islam dan ulama yang menyebabkan para petani Turki berperang hingga mati selama lima abad? Sudah waktunya Turki mengurus urusannya sendiri dan mengabaikan orang India dan orang Arab. Turki harus melepaskan dirinya untuk memimpin kaum muslimin."

Disamping aktivitas yang dilakukan oleh misionaris Inggris dan Perancis, bersama dengan Rusia mulai dilakukan penjajahan langsung di banyak bagian Dunia Islam. Ini dimulai selama pertengahan abad 18 ketika tahun 1768 Catherine II dari Rusia berperang dengan Khilafah dan dengan sukses dapat menduduki wilayah di Selatan Ukraina, Kaukasus Utara, dan Crimea yang kemudian dijadikan bagian dari Kekaisaran Rusia. Perancis menyerang Mesir dan Inggris mulai menduduki India. Di Abad ke 19 Perancis menduduki Afrika Utara dan Inggris menduduki Mesir, Sudan, dan India. Sedikit demi sedikit wilayah Khilafah menjadi berkurang hingga akhir PD I ketika apa yang tersisa hanyalah Turki, yang diduduki oleh pasukan sekutu dibawah perintah Jendral Inggris yang bernama Charles Harrington.

Pemecahan tanah Khilafah dilakukan dalam sebuah perjanjian rahasia yang dilakukan antara Inggris dan Perancis tahun 1916. Perjanjian itu adalah Perjanjian Sykes-Picot. Rencana ini dibuat diantara diplomat Perancis bernama François Georges-Picot dan penasehat diplomat Inggris Mark Sykes. Di bawah perjanjian itu, Inggris mendapat kontrol atas Jordania, Irak dan wilayah kecil di sekitar Haifa. Perancis diberikan kontrol atas Turki wilayah Selatan-Timur, Irak bagian Utara, Syria dan Libanon. Kekuatan Barat itu bebas memutuskan garis perbatasan di dalam wilayah Khilafah itu. Peta Timur Tengah saat ini adalah garis-garis yang dibuat Sykes dan Picot dengan memakai sebuah penggaris di atas tanah yang dulunya adalah wilayah Khilafah.

Tahun-tahun berlanjutnya kehancuran Khilafah, Inggris memainkan peranan kunci dengan cara memelihara agennya Mustafa Kamal. Melalui sejumlah maneuver politik dengan bantuan Inggris, Mustafa Kamal mampu menjadikan dirinya berkuasa di Turki. Tahun 1922, Konperensi Lausanne diorganisir oleh Menlu Inggris Lord Curzon untuk mendiskusikan kemerdekaan Turki. Turki pada saat itu adalah di bawah pendudukan pasukan sekutu dengan institusi Khilafah yang hanya tinggal nama. Selama konperensi itu Lord Curzon menetapkan empat kondisi sebelum mengakui kemerdekaan Turki. Kondisi-kondisi itu adalah: (1) Penghapusan total Khilafah : (2) Pengusiran Khalifah ke luar perbatasan; (3) Perampasan asset-aset Khilafah : (4) Pernyataan bahwa Turki menjadi sebuah Negara Sekuler

Suksesnya Konperensi itu terletak pada pemenuhan keempat kondisi itu. Namun, dengan tekanan asing yang sedemikian itupun, banyak kaum muslimin di dalam negeri Turki masih mengharapkan Khilafah, yang telah melayani Islam sedemikan baiknya selama beberapa abad dan tidak pernah terbayangkan bahwa Khilafah bisa terhapus. Karena itu, Lurd Curzon gagal untuk memastikan kondisi-kondisi ini dan konperensi itu berakhir dengan kegagalan. Namun, dengan liciknya Lord Curzon atas nama Inggris tidak menyerah. Pada tanggal 3 Maret 1924 Mustafa Kemal memakai kekuatan bersenjata dan menteror lawan-lawan politiknya sehingga mampu menekan melalui Undang-undang Penghapusan Khilafah yang memungkingkan terhapusnya institusi Khilafah.

Untuk kekuatan kolonialis, penghancuran Khilafah tidaklah cukup. Mereka ingin memastikan bahwa Khilafah tidak pernah bangkit lagi dalam diri kaum Muslimin. Lord Curzon berkata,

"Kita harus mengakhiri apapun yang akan membawa persatuan Islam diantara anak-anak kaum muslimin. Sebagaimana yang kita telah sukses laksanakan dalam mengakhiri Khilafah, maka kita harus memastikan bahwa tidak pernah ada lagi bangkitnya persatuan kaum muslimin, apakah itu persatuan intelektual dan budaya."

Karena itu, mereka meberikan sejumlah rintangan dalam usaha menegakkan kembali Khilafah seperti:

1. Pengenalan konsep-konsep non-Islam di Dunia Islam seperti patriotisme, nasionalisme, sosialisme dan sekularisme dan mendorong gerakan politik kolonialis yang berdasarkan ide-ide ini.
2. Kehadiran kurikulum pendidikan yang dibuat oleh kekuatan penjajah, yang masih tetap bercokol selama 80 tahun, yang membuat mayoritas kaum muda yang lulus dan ingin meneruskan pendidikannya ke arah yang bertentangan dengan Islam.
3. Jeratan ekonomi di Dunia Islam oleh pemerintahan Barat dan perusahaan-perusahaannya dimana masyarakat hidup dalam kemiskinan yang menghinakan dan dipaksa untuk terfokus hanya pada bagaimana menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya dan tidak peduli dengan peran sesungguhnya dari para penjajah itu.
4. Warisan yang disengaja untuk memecah Dunia Islam yang berkisar pada garis perbatasan yang senantiasa diperdebatkan sehingga kaum muslimin akan tetap terlibat dalam masalah-masalah sepele.
5. Pendirian organisasi-organisasi seperti Liga Arab dan kemudian Organisasi Konperensi Islam (OKI) yang menipiskan ikatan Islam, dan terus melanjutkan adanya perpecahan di Dunia Islam sementara tetap gagal dalam memecahkan tiap masalah atau isu yang muncul.
6. Pemaksaan berdirinya Negara asing, Israel, di jantung Dunia Islam yang menjadi pemicu serangan kekuatan Barat atas kaum muslimin yang tidak bisa mempertahankan diri sementara mereka terus menghidupkan mitos rasa rendah diri kaum muslimin.
7. Kehadiran penguasa-penguasa zalim di Dunia Islam yang kesetiaanya adalah pada tuannya yakni negara-negara Barat; yang menindas dan menyiksa umat Islam; mereka bukanlah dari umat dan membenci umat sebagaimana umat membenci mereka.

Walaupun ada rintangan-rintangan, persengkongkolan dan rencana semacam itu, pendirian Khilafah sekali lagi akan menjadi kenyataan dalam Dunia Islam. Kita harus mengambil kesempatan ini di saat hari peringatan kehancuran Khilafah untuk merefleksikan situasi saat ini dari kaum muslimin dan memastikan bahwa hanya dengan berusaha untuk mengembalikan Khilafah lah kita dapat mencapat kesuksesan yang sesungguhnya dalam kehidupan saat ini dan kehidupan yang akan datang. [ra/kcom/syabab.com]

Rabu, 06 April 2011

Muslim Prancis Bertambah, Pemerintah Anggap Masalah


Menteri Dalam Negeri Prancis, Claude Guéant, menganggap peningkatan jumlah Muslim di negaranya sebagai “masalah”. Untuk itu pemerintahan akan mengambil keputusan terkait masalah ini pekan depan melalui konsolidasi prinsip-prinsip sekularisme.

Di Prancis, kata Guéant, hukum didirikan atas prinsip sekularisme dan pemisahan agama dari negara sejak 1905. “Di masa itu, ada sejumlah kecil Muslim di Prancis. Hari ini, diperkirakan jumlahnya sekitar lima atau enam juta Muslim,” katanya, Selasa (5/4).

“Memang benar bahwa peningkatan jumlah Muslim dan beberapa perilaku menciptakan masalah… tapi pemerintah mungkin akan mengambil sikap pekan depan karena saya pikir, sejumlah keputusan yang akan dibuat memastikan prinsip-prinsip terbaik dari sekularisme,” tambahnya.

Guéant membuat pernyataan kontroversial ini saat berkunjung ke kota Nantes, Prancis barat, sebelum dimulainya debat tentang sekularisme yang diselenggarakan oleh partai Union for Popular Movement (UMP).

Sejak ditunjuk sebagai menteri dalam kabinet Presiden Nicolas Sarkozy, Guéant memang tiada henti mengundang kontroversi. Terutama dengan komentar pedasnya terhadap Muslim di Prancis.

Sebelumnya, para pemuka agama di Prancis telah menolak rencana debat sekularisme dan Islam yang akan digelar UMP dan menyatakan keprihatinan mereka karena hal itu hanya akan menimbulkan ketegangan dan pelecehan terhadap Islam, agama terbesar kedua di Prancis. (republika.co.id, 6/4/2011)

Selasa, 05 April 2011

Mengajarkan Anak Nilai Privasi

Anak kecil adalah makhluk yang lugu. Akibatnya, dalam banyak hal mereka tidak dapat membedakan berbagai macam informasi yang mereka terima. Seperti apa yang dapat diperlihatkan dan apa yang harus dijaga privasinya.

Dalam masa pertumbuhannya, mereka mempelajari tentang benar dan salah. Namun sebelum itu, dalam masa mereka yang menggemaskan, bisa jadi mereka mengungkapkan sesuatu yang mungkin memalukan bagi orang tuanya. Hal ini karena mereka mudah untuk berbicara terbuka kepada orang lain mengenai masalah pribadi dalam keluarga.

Penting untuk mengajarkan anak-anak nilai privasi pada usia dini. Mereka harus sadar bahwa beberapa hal bersifat pribadi dan harus dirahasiakan. Orang dewasa harus menghindari membicarakan hal-hal tertentu di depan anak maupun adik, keponakan mereka. Terutama masalah yang sedang dihadapi orang tuanya. Bahkan berbicara dengan telepon di depan anak merupakan ide buruk, saat masalah yang diperbincangkan adalah masalah pribadi yang tidak boleh terungkap kepada orang lain. Dalam usia yang masih sangat muda, anak-anak tidak bisa membedakan mana hal yang bersifat privasi dan mana yang tidak.
Saat anak beranjak dewasa, rasa penghormatan terhadap privasi perlu ditanamkan terhadap mereka. Mereka harus memiliki rasa (sense) bahwa rumah adalah area pribadi.Hal ini sangat penting ketika anak-anak mulai bersekolah.Tapi bagaimana hal ini dapat dicapai?
Anak-anak bersifat cepat menerima terhadap rangsangan gambar. Misalnya, “rumah ini tempat kita hidup melindungi diri kita dari dunia luar. Apakah kita bisa duduk di dalamnya seperti yang kita lakukan ini jika tidak memiliki dinding? Apakah kita bisa duduk di meja dan makan malam saat semua orang di luar memandang kita? Dengan cara ini, kita dapat memperkenalkan konsep privasi dalam pikiran anak-anak dan mendorong anak-anak kita untuk mengidentifikasi rumah dan keluarga mereka.
Dari titik tolak ini, kita bisa mengajarkan anak-anak kita tentang perlunya menjaga rahasia keluarga dan masalah pribadi dari masyarakat umum.
Tahap berikutnya adalah untuk membantu anak mengembangkan pemahaman mendalam mengenai privasi dan dimensi praktisnya. Hal ini dapat dimulai dengan mengajarkan anak untuk meminta izin sebelum memasuki kamar orang lain.
Allah telah mengarahkan kita dalam Al Qur’an untuk mengajarkan hal ini kepada anak-anak kita. Seperti yang termaktub dalam Surat An Nur ayat 58, yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu . Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu . Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk mengajarkan pada anak-anak kita yang belum mencapai baligh untuk meminta izin sebelum memasuki kamar di tiga waktu dalam sehari. Yang pertama adalah sebelum shubuh ketika orang-orang biasanya tidur di tempat tidur mereka. Yang kedua adalah tengah hari dimana saat cuaca panas, sering kali mereke beristirahat di kamar dalam keadaan tidak berpakaian. Yang ketiga adalah pada malam hari, juga waktu istirahat dan tidur.

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin . Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ”

Demikian Allah jelaskan kembali dalam Surat An Nur ayat 59.

[muslimdaily.net/islamtoday]

A’isyah Binti Abu Bakar Ash Shidiq

Keluarga ini hidup dengan selalu diliputi oleh rasa cinta dan damai. Anggota keluarga yang luar biasa dari keluarga ini adalah Abu Bakar bin Abu Quhafa, ayahanda A’isyah. Beliau adalah seorang saudagar yang sangat baik dan menyenangkan untuk diajak berbicara. Hubungannya dengan kawan-kawannya dan juga dengan sesama anggota suku Quraysh sangat harmonis, beliau juga paham betul dengan sejarah sukunya. Cita rasanya seninya pun hebat, bahkan beliau paham dengan syair dan karya seni lainnya. Sifat bijaksana yang dimiliki oleh Abu Bakar membuatnya dengan mudah menerima ajaran yang disampaikan oleh sahabatnya, Rasulullah Muhammad, saw. Abu Bakar tidak ragu-ragu untuk memeluk agama barunya dan melakukan hal yang terbaik untuk mendukung penyebaran agama ini bersama Rasulullah, saw.
Sebelum mendapatkan pengajaran dari Rasulullah mengenai wahyu yang turun dari Allah, Abu Bakar adalah orang yang terhormat, dan setelah ia menerima ajaran ini dan beriman dengan iman yang sebenar-benarnya, maka berlipatgandalah derajatnya yang terhormat di depan masyarakat khususnya kaum muslimin. Oleh karenanya, ia menjadi orang kedua setelah Rasulullah dan dipercaya menjadi pengganti Rasulullah menjadi seorang khalifah setelah beliau wafat.
Abu Bakar menikah dengan seorang wanita yang bernama Ummu Ruman, yang merupakan anggota dari Bani Kinanah. Ummu Ruman, sebagaimana suaminya, memiliki keimanan dan semangat juang yang tinggi. Bahkan Rasulullah saw pernah berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat wanita penghuni syurga, maka lihatlah Ummu Ruman, ia adalah wanita penghuni syurga kelak.”
A’isyah kecil tumbuh dalam suasana keluarga seperti itu. Damai, penuh cinta, dan orang tua yang bertaqwa. A’isyah adalah anak yang sangat beruntung karena dilahirkan oleh seorang ibu yang sudah muslim dan ayah yang sudah teruji keimanannya. Di hari pertama ia membuka matanya, yang ia lihat adalah orang tua yang rajin beribadah dan orangtua yang sibuk bekerja dalam da’wah. Ketika pertama kali ia dapat mendengar, yang ia dengar adalah lantunan ayat suci Al-Qur’an yang keluar dari mulut kedua orangtuanya. Ayahnya membaca Al-Qur’an dengan sangat syahdu dan khusyu’. Hal ini mampu membuatnya serta orang lain yang mendengarnya tersentuh dan terharu sehingga menitikkan air mata. Orang Quraysh sangat takut bahwa apa yang dibaca oleh Abu Bakar bisa meluluhkan hati orang Quraysh, sehingga Abu Bakar seringkali dimohon untuk tidak membacanya dengan suara yang lantang.
Keluarga Abu Bakar adalah keluarga yang paling sering dikunjungi oleh Rasulullah, dan ini adalah sebuah kehormatan yang besar. Rasulullah mengunjungi Abu Bakar untuk mendiskusikan permaslahan Da’wah dan A’isyah seringkali melihat dan mendengar percakapan mereka berdua. Dengan melihat dan mendengar betapa orang tuanya menghormati Rasulullah dan mencintainya, timbullah pula rasa hormat yang mendalam dari hati A’isyah kepada Rasulullah saw.
Rasulullah saw juga menunjukkan rasa kagumnya pada A’isyah, karena saat ia masih kecil saja, kecerdasannya sudah mulai nampak. Beliau seringkali berpesan kepada ibunya, “Jagalah A’isyah baik-baik, Ummu Ruman.”Kata-kata bijaksananya tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah kagum dengan A’isyah.
Allah merahmati anak yang cerdas ini dengan mentakdirkannya lahir dari keluarga suku Quraysh yang terpandang dan merupakan keluarga kedua pemeluk Islam setelah keluarga Rasul. Namun kehidupan A’isyah semakin terhormat saat ia menjadi pendamping hidup Rasulullah saw. A’isyah menikah saat usianya masih muda dan rumah tangga mereka menjadi rumah tangga panutan.
Kehidupan Rasulullah tak ubahnya bagaikan sebuah buku yang besar yang terbuka sehingga tidak ada sadikit pun urusan keluarganya dan kehidupannya yang tidak diketahui orang lain. Beliau adalah panutan yang sangat ideal untuk diikuti. Bahkan kehidupan Rasul berupa jihad, ibadah yaumiah (harian), cara bersosialisasi, dan bahkan kehidupan rumah tangganya dicontoh oleh segenap kaum muslimin. Sehingga, kehidupan Rasul dengan A’isyah akan dijadikan ilmu yang selanjutnya akan diamalkan pula oleh para pengikut Rasulullah yang mulia.
Pelajaran pertama adalah tentang pernikahan. A’isyah menikah dengan Rasul, manusia yang paling utama diantara orang-orang yang utama. Mereka menikah di dalam rumah yang sangat sederhana. Rumahnya hanya terdiri dari satu kamar yang kasurnya adalah tumpukan pelepah daun kurma dan pintunya terbuat dari kulit. Kenyataannya, memang seperti itulah rumah ibunda kaum muslimin, istri Rasul yang mulia. Begitulah Allah mentakdirkan kehidupan Rasul, penuh dengan kesederhanaan.
A’isyah menerima mas kawin yang baginya sangat mulia, lima ratus dirham. Padahal ia adalah seorang wanita yang cantik, salihah, dan berakhlaq mulia. Ia pun lahir dari keluarga terpandang. Namun mas kawin tersebut hanyalah sesuatu yang sifatnya simbolis. Sesuatu yang tidak diberikan oleh laki-laki biasa untuk wanita biasa, namun dari laki-laki yang paling mulia di sisi Allah, yaitu Rasulullah untuk wanita keturunan keluarga yang kaya dan terpandang, yaitu A’isyah dari Bani Taym, suku Quraysh.
Mengapa wanita dan laki-laki zaman sekarang tidak meniru apa yang mereka lakukan? Kebanyakkan kaum wanita masa kini mengharapkan mas kawin yang besar dari calon suaminya dan hal ini membuat para lelaki menunda pernikahan hingga mereka merasa siap secara financial. Pernikahan pada saat ini tak ubahnya seperti pajak. Jika ingin memiliki wanita yang cantik, terpelajar, dan terhormat, maka bayaran mas kawinnya pun harus mahal.
Bukankah kita memiliki contoh yang sangat baik dalam diri Rasul? Mengapa kita tidak ikuti? Buah dari menjauh contoh Rasul adalah kerugian. Lantas bagaimanakah pesta pernikahan dari kedua manusia mulia ini? A’isyah menuturkannya sebagai berikut:
Tak ada seekorpun unta ataupun kambing yang disembelih untuk jamuan di pesta pernikahan kami hingga datangnya Sa’ad bin Ubadah. Sa’ad memang sangat gemar memberikan makanan untuk Rasulullah saw.
Sehingga, pernikahan Rasul dan A’isyah benar-benar sederhana. Tidak ada perayaan istimewa, jamuan yang dihidangkan adalah makanan biasa dari seorang sahabat, tak lebih dari itu. Prinsip kesederhanaan itulah yang harus kita ikuti. Pada saat ini banyak sekali pesta pernikahan yang diselenggarakan secara mewah, namun itu semua tidak menjamin bahwa kehidaupan mereka akan harmonis.
Namun, meskipun A’isyah adalah istri baginda Rasul saw dan merupakan puteri dari Abu Bakar dan Ummu Ruman yang terpandang dan dikatakan sebagai penghuni syurga, tetap saja A’isyah memiliki sikap pencemburu. A’isyah sangat mencintai suaminya, demikian pula Rasulullah. Namun, A’isayah seringkali merasa sangat cemburu saat Rasul menceritakan tentang istrinya yang lain. Bahkan sikap pencemburu A’isyah ini selalu dituturkan oleh para ahli sejarah yang menulis biografinya.
Allah memberikan pelajaran kepada segenap manusia agar bershabar dengan kekurangan yang dimiliki istri. Bahkan hal ini pun terjadi kepada rumah tangga Rasul. Begitulah A’isyah, wanita mulia dari keluarga yang juga mulia, namun ia tetap memiliki kekurangan.
Kecemburuan A’isyah yang paling dalam adalah kepada istri Rasul yang ia sendiri tidak pernah bertemu dengannya. Wanita yang dicemburuinya adalah Khadijah. Rasa cinta Rasul kepada Khadijah membuat beliau sering memujinya di depan sahabat dan sahabiah lain dan selalu berhubungan baik dengan teman-teman Khadijah. Bahkan meskipun Khadijah sudah meninggal, namanya sering terucap dari mulut Rasul.
Hal ini membuat A’isyah sangat cemburu. Bahkan, saking cemburunya, A’isyah pernah merasa sangat marah dan mengatakan,”Apa sih yang membuatmu teringat terus kepada wanita yang giginya sudah tanggal semua, hanya tinggal gusinya yang tersisa. Dan ia pun sudah meninggal sangat lama sekali. Dan kini, sudah ada wanita yang lebih baik menggantikan posisinya.” (H.R Bukhari, 1575).
Begitulah A’isyah, sangat mencintai suaminya dan kecemburuannya tidak bisa dipersalahkan, karena wajar saja, suaminya adalah seseorang yang utama dan terkemuka. Namun, kata-kata yang pernah ia lontarkan itu membuat Rasul marah, “Tidak, demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan posisi dia dalam hatiku. Dia yakin kepadaku saat semua orang mendustakanku. Dia banyak membantuku dengan harta yang ia miliki. Dan hanya darinyalah aku mendapatkan keturunan.”
Meskipun A’isyah sangat menyesali kata-kata yang sudah ia lontarkan tentang Khadijah, namun tetap saja kata-kata Rasul membuatnya sangat cemburu. Ini dapat dijadikan pelajaran bagi para suami bahwa wanita memang tidak dapat dielakkan memiliki sifat cemburu yang besar.
Selama hidup bersama Rasul dalam satu atap, A’isyah melihatnya, memperhatikannya, mendengarkannya, dan menyertainya bahkan ke medan jihad. Segala sesuatu yang ia lihat dan dengar mampu ia pahami. Dan ini membuatnya menjadi orang yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang diin ini.
A’isyah masih hidup saat Rasul telah lama meninggal. Ia menjadi orang yang dipercaya dalam hal ilmu karena kebersamaannya yang lama dengan Rasulullah, sehingga ia menjadi rujukan bagi mereka yang mencari ilmu untuk memperdalam pemahaman.
Akhlaqnya yang didasari ilmu memberi banyak manfaat bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya. Ia juga banyak mengeluarkan hadits shahih yang sangat banyak melebihi istri Rasul yang lainnya.
Imam Az-Zahri mengatakan bahwa, “Jika wawasan A’isyah tentang Diin dibandingkan dengan wawasan semua istri Rasul dan wawasan seluruh wanita di dunia, maka wawasan A’isyah masih lebih besar. Wawasannya bukan saja mengenai hadith, namun juga tentang syair dan ilmu kesehatan. Abu Hisyam bin ‘Urwa menceritakan dari ayahnya, “Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang sangat ahli dalam masalah hukum, kedokteran, dan syair yang melebihi A’isyah.”
Rumahnya menjadi tempat menuntut ilmu bagi para sahabat yang kemudian membawa ajaran tersebut ke kota yang lain. Semoga Allah meridahinya dan merahmatinya karena ia telah menjaga ajaran nan mulia yang didapatnya dari Rasulullah saw. (isq/far/MD)



http://perantauideologis.wordpress.com/wp-admin/post-new.php

Pesan-Pesan Untuk Istri

Anas berkata, “Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya.”

Ummu Humaid berkata, “Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada ‘Aisyah dan memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mendo’a-kannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta memenuhi hak suami”[1]

‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, “Janganlah engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu adalah perhiasan paling indah, dan parfum yang paling baik adalah air.”

Abud Darda’ berkata kepada isterinya, “Jika engkau melihat-ku marah, maka redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis.”

Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah. Janganlah menabuhku (untuk memancing kemarahan) seperti engkau menabuh rebana, sekalipun. Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi

Janganlah banyak mengeluh sehingga melenyapkan dayaku
Lalu hatiku enggan terhadapmu; sebab hati itu berbolak-balik

Sesungguhnya aku melihat cinta dan kebencian dalam hati
Jika keduanya berhimpun, maka cinta pasti akan pergi

‘Amr bin Hajar, Raja Kindah, meminang Ummu Ayyas binti ‘Auf. Ketika dia akan dibawa kepada suaminya, ibunya, Umamah binti al-Haris menemui puterinya lalu berpesan kepadanya dengan suatu pesan yang menjelaskan dasar-dasar kehidupan yang bahagia dan kewajibannya kepada suaminya yang patut menjadi undang-undang bagi semua wanita. Ia berpesan:

“Wahai puteriku, engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar, dan engkau beralih pada kehidupan yang di dalamnya engkau naik untuk orang yang lalai dan membantu orang yang berakal. Seandainya wanita tidak membutuhkan suami karena kedua orang tuanya masih cukup dan keduanya sangat membutuh-kanya, niscaya akulah orang yang paling tidak membutuhkannya. Tetapi kaum wanita diciptakan untuk laki-laki, dan karena mereka pula laki-laki diciptakan.

Wahai puteriku, sesungguhnya engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar dan engkau berganti kehidupan, di dalamnya engkau naik kepada keluarga yang belum engkau kenal dan teman yang engkau belum terbiasa dengannya. Ia dengan ke-kuasaannya menjadi pengawas dan raja atasmu, maka jadilah engkau sebagai abdi, niscaya ia menjadi abdimu pula. Peliharalah untuknya 10 perkara, niscaya ini akan menjadi kekayaan bagimu.

Pertama dan kedua, tunduk kepadanya dengan qana’ah (merasa cukup), serta mendengar dan patuh kepadanya.

Ketiga dan keempat, memperhatikan mata dan hidungnya. Jangan sampai matanya melihat suatu keburukan darimu, dan jangan sampai mencium darimu kecuali aroma yang paling harum.

Kelima dan keenam, memperhatikan tidur dan makannya. Karena terlambat makan akan bergejolak dan menggagalkan tidur itu membuat orang marah.

Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memelihara keluarga dan kerabatnya. Inti perkara berkenaan dengan harta ialah menghargainya dengan baik, sedangkan berkenaan dengan keluarga ialah mengaturnya dengan baik.

Kesembilan dan kesepuluh, jangan menentang perintahnya dan jangan menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka hatinya menjadi kesal dan jika engkau menyebar-kan rahasianya, maka engkau tidak merasa aman terhadap pengkhianatannya. Kemudian janganlah engkau bergembira di hadapannya ketika dia bersedih, dan jangan pula bersedih di hadapannya ketika dia bergembira”[2]

Seseorang menikahkan puterinya dengan keponakannya. Ketika ia hendak membawanya, maka dia berkata kepada ibunya, “Perintahkan kepada puterimu agar tidak singgah di kediaman (suaminya) melainkan dalam keadaan telah mandi. Sebab, air itu dapat mencemerlangkan bagian atas dan membersihkan bagian bawah. Dan janganlah ia terlalu sering mencumbuinya. Sebab jika badan lelah, maka hati menjadi lelah. Jangan pula menghalangi syahwatnya, sebab keharmonisan itu terletak dalam kesesuaian.”

Ketika al-Farafishah bin al-Ahash membawa puterinya, Nailah, kepada Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan Radhitallahu ‘anhu, dan beliau telah menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, “Wahai puteriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu untuk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan.”

Abul Aswad berkata kepada puterinya, “Jangalah engkau cemburu, sebab kecemburuan itu adalah kunci perceraian. Berhiaslah, dan sebaik-baik perhiasan ialah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik-baik wewangian ialah menyempurnakan wudhu.’”

Ummu Ma’ashirah menasihati puterinya dengan nasihat berikut ini yang telah diramunya dengan senyum dan air matanya: “Wahai puteriku, engkau akan memulai kehidupan yang baru… Suatu kehidupan yang tiada tempat di dalamnya untuk ibumu, ayahmu, atau untuk seorang pun dari saudaramu. Engkau akan menjadi teman bagi seorang pria yang tidak ingin ada seorang pun yang menyekutuinya berkenaan denganmu hingga walaupun ia berasal dari daging dan darahmu. Jadilah engkau sebagai isteri, wahai puteriku, dan jadilah engkau sebagai ibu baginya. Jadikanlah ia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam kehidupannya dan segalanya dalam dunianya. Ingatlah selalu bahwa suami itu anak-anak yang besar, jarang sekali kata-kata manis yang membahagia-kannya. Jangan engkau menjadikannya merasa bahwa dengan dia menikahimu, ia telah menghalangimu dari keluargamu.

Perasaan ini sendiri juga dirasakan olehnya. Sebab, dia juga telah meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karenamu. Tetapi perbedaan antara dirimu dengannya ialah perbedaan antara wanita dan laki-laki. Wanita selalu rindu kepada keluarganya, kepada rumahnya di mana dia dilahirkan, tumbuh menjadi besar dan belajar. Tetapi dia harus membiasakan dirinya dalam kehidupan yang baru ini. Ia harus mencari hakikat hidupnya bersama pria yang telah menjadi suami dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru, wahai puteriku. Inilah masa kini dan masa depanmu. Inilah mahligaimu, di mana kalian berdua bersama-sama menciptakannya.

Adapun kedua orang tuamu adalah masa lalu. Aku tidak me-mintamu melupakan ayah dan ibumu serta saudara-saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selama-lamanya. Wahai sayangku, bagaimana mungkin ibu akan lupa belahan hatinya? Tetapi aku meminta kepadamu agar engkau mencintai suamimu, mendampingi suamimu, dan engkau bahagia dengan kehidupanmu bersamanya.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi ‘Udzr ad-Du’ali -pada hari-hari pemerintahan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu- menceraikan wanita-wanita yang dinikahinya. Sehingga muncullah kepadanya beberapa peristiwa yang tidak disukainya berkenaan dengan para wanita tersebut dari hal itu. Ketika dia mengetahui hal itu, maka dia memegang tangan ‘Abdullah bin al-Arqam sehingga membawanya ke rumahnya. Kemudian dia berkata kepada isterinya: “Aku memintamu bersumpah demi Allah, apakah engkau benci kepadaku?” Ia menjawab, “Jangan memintaku bersumpah demi Allah.” Dia mengatakan, “Aku memintamu bersumpah demi Allah.” Ia menjawab, “Ya.”

Kemudian dia berkata kepada Ibnul Arqam, “Apakah engkau dengar?” Kemudian keduanya bertolak hingga sampai kepada ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu lalu mengatakan, “Kalian mengatakan bahwa aku menzhalimi kaum wanita dan menceraikan mereka. Bertanyalah kepada al-Arqam.” Lalu ‘Umar bertanya kepadanya dan mengabarkannya. Lalu beliau mengirim utusan kepada isteri Ibnu Abi ‘Udzrah (untuk datang kepada ‘Umar). Ia pun datang bersama bibinya, lalu ‘Umar bertanya, “Engkaukah yang bercerita kepada suamimu bahwa engkau marah kepadanya?” Ia menjawab, “Aku adalah orang yang mula-mula bertaubat dan menelaah kembali perintah Allah kepadaku. Ia memintaku bersumpah dan aku takut berdosa bila berdusta, apakah aku boleh berdusta, wahai Amirul Mukminin?” Dia menjawab, “Ya, berdustalah. Jika salah seorang dari kalian tidak menyukai salah seorang dari kami, janganlah menceritakan hal itu kepadanya. Sebab, jarang sekali rumah yang dibangun di atas dasar cinta, tetapi manusia hidup dengan Islam dan mencari pahala”[3]

Kepada setiap muslimah yang memenuhi hak-hak suaminya dan takut terhadap murka Rabb-nya karena dia mengetahui hak suaminya atasnya! Inilah contoh sebagian pria yang mensifati isterinya yang tidak mengetahui hak suaminya dan tidak pula memelihara kebaikannya. Ia tidak mempercantik diri dan tidak berdandan untuknya, serta bermulut kasar. Ia mensifatinya dengan sifat yang membuat hati bergetar dan telinga terngiang-ngiang. Camkanlah sehingga engkau tidak jatuh ke tempat yang menggelincirkan ini.

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]

Etika Terhadap Suami-Istri

Orang Muslim meyakini adanya etika timbal balik antara suami dan istri, dan etika tersebut adalah hak atas pasangannya yang lain berdasarkan dalil-dalil berikut,

Firman Allah Ta ‘ala, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (Al-Baqarah: 228).

Ayat yang mulia di atas menegaskan, bahwa setiap suami-istri mempunyai hak atas pasangannya, dan suami (laki-laki) diberi tambahan derajat atas wanita (istri) karena alasan-alasan khusus.

Sabda Rasulullah saw. di Haji Wada’, “Ketahuilah, bahwa kalian mempunyai hak-hak atas wanita-wanita (istri-istri) kalian, dan sesungguhnya wanita-wanita (istri-istri) kalian mempunyai hak-hak atas kalian.” (Diriwayatkan para pemilik Sunan dan At-Tirmidzi men-shahih-kan hadits ini).
Hak-hak ini, sebagian sama di antara suami-istri dan sebagiannya tidak sama. Hak-hak yang sama di antara suarni-istri adalah sebagian berikut:
1. Amanah
Masing-masing suami-istri harus bersikap amanah terhadap pasangannya, dan tidak mengkhianatinya sedikit atau banyak, karena suami istri adalah laksana dua mitra di mana pada keduanya harus ada sifat amanah, saling menasihati, jujur, dan ikhlas dalam semua urusan pribadi keduanya, dan urusan umum keduanya.
2. Cinta kasih
Artinya, masing-masing suami-istri harus memberikan cinta kasih yang tulus kepada pasangannya sepanjang hidupnya karena firman Allah Ta‘ala,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Ruum: 21).
Dan karena sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa tidak menyayangi ia tidak akan disayangi.” (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).
3. Saling percaya
Artinya masing-masing suami-istri harus mempercayai pasangannya, dan tidak boleh meragukan kejujurannya, nasihatnya, dan keikhlasannya, karena firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara.” (Al Hujurat: 10).
Dan karena sabda Rasulullah saw., “Salah seorang dan kalian tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari, Muslim, dan lain-lain).
Ikatan suami-istri itu memperkuat, dan mengokohkan ikatan (ukhuwwah) iman.
Dengan cara seperti itu, masing-masing suami-istri merasa, bahwa dirinya adalah pribadi pasangannya. Oleh karena itu, bagaimana ia tidak mempercayai dirinya sendiri, dan tidak menasihatinya? Atau bagaimana seseorang itu kok menipu dirinya sendiri, dan memperdayainya?
4. Etika umum, seperti lemah lembut dalam pergaulan sehari-hari, wajah yang berseri-seri, ucapan yang baik, penghargaan, dan penghormatan. Itulah pergaulan baik yang diperintahkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa’: 19).
Itulah perlakuan baik yang diperintahkan Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Perlakukan wanita dengan baik.” (HR Muslim).
Inilah sebagian hak-hak bersama antar suami-istri, dan masing-masing dan keduanya harus memberikan hak-hak tersebut kepada pasangannya untuk merealisir perjanjian kuat yang diisyaratkan firman Allah Ta‘ala, “Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (istri-istri) telah mengambil dari kalian penjanjian yang kuat.” (An-Nisa’: 21).
Dan karena taat kepada Allah Ta‘ala yang berfirman, “Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian, Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kalian kerjakan.” (A1-Baqarah: 237).
Adapun hak-hak khusus, dan etika-etika yang harus dikerjakan masing-masing suami-istri terhadap pasangannya adalah sebagai berikut:
Hak-hak Istri atas Suami
Terhadap istrinya, seorang suami harus menjalankan etika-etika berikut ini:
1. Memperlakukannya dengan baik karena dalil-dalil berikut:
Firman Allah Ta‘ala, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa’: 19).
Ia memberi istrinya makan jika ia makan, memberinya pakaian jika ia berpakaian, dan mendidiknya jika ia khawatir istrinya membangkang seperti diperintahkan Allah Ta‘ala kepadanya dengan menasihatinya tanpa mencaci-maki atau menjelek-jelekkannya. Jika istri tidak taat kepadanya, ia pisah ranjang dengannya. Jika istri tetap tidak taat, ia berhak memukul dengan pukulan yang tidak melukainya, tidak mengucurkan darah, tidak meninggalkan luka, dan membuat salah satu organ tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya, karena firman Allah Ta‘ala,
“Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya (pembangkangannya), maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (An-Nisa’: 34).
Sabda Rasulullah saw. kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang hak istri atas dirinya, “Hendaknya engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya, dan tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR Abu Daud dengan sanad yang baik).
Sabda Rasulullah saw., “Ketahuilah bahwa hak-hak wanita-wanita atas kalian ialah hendaknya kalian berbuat baik kepada mereka dengan memberi mereka makan dan pakaian.”
Sabda Rasulullah saw., “Laki-laki Mukmin tidak boleh membenci wanita Mukminah. Jika ia membenci sesuatu pada pisiknya, ia menyenangi lainnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
2. Mengajarkan persoalan-persoalan yang urgen dalam agama kepada istri jika belum mengetahuinya, atau mengizinkannya menghadiri forum-forum ilmiah untuk belajar di dalamnya. Sebab, kebutuhan untuk memperbaiki kualitas agama, dan menyucikan jiwanya itu tidak lebih sedikit dan kebutuhannya terhadap makanan, dan minuman yang wajib diberikan kepadanya. Itu semua berdasarkan dalil-dalil berikut:
Firman Allah Ta‘ala, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (At-Tahrim: 6).
Wanita termasuk bagian dan keluarga laki-laki, dan penjagaan dirinya dan api neraka ialah dengan iman, dan amal shalih. Amal shalih harus berdasarkan ilmu, dan pengetahuan sehingga ia bisa mengerjakannya seperti yang diperintahkan syariat.
Sabda Rasulullah saw., “Ketahuilah, hendaklah kalian memperlakukan wanita-wanita dengan baik, karena mereka adalah ibarat tawanan-tawanan pada kalian.” (Muttafaq Alaih).
Di antara perlakuan yang baik terhadap istri ialah mengajarkan sesuatu yang bisa memperbaiki kualitas agamanya, menjamin bisa istiqamah (konsisten) dan urusannya menjadi baik.
3. Mewajibkan istri melaksanakan ajaran-ajaran Islam beserta etika-etikanya, melarangnya buka aurat dan berhubungan bebas (ikhtilath) dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, memberikan perlindungan yang memadai kepadanya dengan tidak mengizinkannya merusak akhlak atau agamanya, dan tidak membuka kesempatan baginya untuk menjadi wanita fasik terhadap perintah Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, atau berbuat dosa, sebab ia adalah penanggung jawab tentang istrinya dan diperintahkan menjaganya, dan mengayominya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (An-Nisa’ 34).
Dan berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan ia akan diminta pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq Alaih).
4. Berlaku adil terhadap istrinya dan terhadap istri-istrinya yang lain, jika ia mempunyai istri lebih dan satu. Ia berbuat adil terhadap mereka dalam makanan, minuman, pakaian, rumah, dan tidur di ranjang. Ia tidak boleh bersikap curang dalam hal-hal tersebut, atau bertindak zhalim, karena ini diharamkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya, “Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah) seorang saja, atau budak-budak wanita yang kalian miliki.” (An-Nisa’: 3).
Rasulullah saw. mewasiatkan perlakuan yang baik terhadap istri-istri dalam sabdanya, “Orang terbaik dan kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dan kalian terhadap keluarganya.” (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).
5. Tidak membuka rahasia istrinya dan tidak membeberkan aibnya, sebab ia orang yang diberi kepercayaan terhadapnya, dituntut menjaga, dan melindunginya.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah ialah suami yang menggauli istrinya, dan istrinya bergaul dengannya, kemudian ia membeberkan rahasia hubungan suami-istri tersebut.” (Diriwayatkan Muslim).
Hak-hak Suami atas Istri
Terhadap suaminya, seorang istri harus menjalankan etika-etika berikut ini:
1. Taat kepadanya selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah Th ‘ala, karena dalil-dalil berikut:
Firman Allah Ta‘ala, “Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (An-Nisa’: 34).
Sabda Rasulullah saw., “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian istrinya tidak datang kepadanya, dan suaminya pun marah kepadanya pada malam itu, maka istrinya dilaknat para malaikat hingga pagi harinya.” (Muttafaq Alaih).
“Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya.” (HR Abu Daud dan Al-Hakim. At-Tirmidzi meng-shahih-kan hadits mi).
2. Menjaga kehormatan suaminya, kemuliaanya, hartanya, anak-anaknya, dan urusan rumah tangga lainnya, karena dalil-dalil berikut:
Firman Allah Ta’ala, “Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa’: 34).
Sabda Rasulullah saw., “Seoranq istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan anaknya.” (Muttafaq Alaih).
Sabda Rasulullah saw., “Maka hak kalian atas istri-istri kalian ialah hendaknya orang-orang yang kalian benci tidak boleh menginjak ranjang-ranjang kalian, dan mereka tidak boleh memberi izin masuk ke rumah kepada orang orang yang tidak kalian sukai.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
3. Tetap berada di rumah suami, dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak keluarganya, karena dalil-dalil berikut:
Firman Allah Ta‘ala, “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33).
“Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Al-Ahzab: 32).
“Allah tidak menyukai ucapan buruk.” (An-Nisa’: 148).
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya’.” (An-Nuur: 31).
Sabda Rasulullah saw., “Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu.” (HR Muslim dan Ahmad).
Sabda Rasulullah saw., “Kalian jangan melarang wanita-wanita hamba-hamba Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Jika istri salah seorang dari kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid, engkau jangan melarangnya.” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi).
Sabda Rasulullah saw., “Izinkan wanita-wanita pergi ke masjid pada malam hari.”
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 138-145.

Akhlaq Rasulullah Terhadap Istri-Nya

Nabi Muhammad Saw merupakan sosok laki-laki yang diakui oleh istrinya sebagai suami idaman seperti yang dikemukan oleh Aisyah RA ketika ditanya tentang perlakuan Rasulullah Saw terhadap istrinya, “Dialah manusia terbaik, dalam akhlak dan segala-galanya, tidak pernah berbicara kotor dan berbuat kotor, tidak pernah bersuara keras terutama di pasar, tidak pernah membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk pula tetapi selalu memberi maaf dan ampunan” (HR. Ahmad). Setiap suami dapat menjadi suami idaman seperti halnya Rasulullah Saw, dengan syarat sebagai berikut :


1. Iman dan Takwa

Iman dan takwa merupakan syarat mutlak. Hati harus selalu dekat dengan Allah Swt. Setiap menyelesaikan persoalan rumah tangga selalu merujuk kepada tuntunan Allah. Memperkuat hubungan dengan Allah merupakan jaminan terbaik agar pernikahan selalu terjaga kuat. Merasakan kedekatan dan kedamaian dalam hubungan dengan Allah akan berimplikasi pada hubungan suami dan istri di rumah.


2. Cinta dan Setia

Cinta tidak cukup disimpan di dalam dada tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan agar seseorang dapat memahami bahwa kita mencintainya, “Bila seseorang mencintai saudaranya, hendaknya dia menceritakan cintaannya itu (HR. Abu Dawud). Terlebih lagi kepada istri yang terikat dengan ikatan suci pernikahan. Rasulullah Saw bersabda, “ Perasaan kasih adalah kecintaan suami kepada istrinya. Perasaan sayang adalah sayangnya suami kepada istrinya meskipun ada keburukan pada dirinya” (HR. Ibnu Abbas). Perasaan saling mencintai akan menjadikan pasangan suami-istri seolah-olah satu jiwa sebagai penawar segala-galanya. Perasaan ini akan mengalirkan rasa kebahagiaan sebagaimana ucapan Rasulullah Saw : Baiti jannati (Rumahku syurgaku). Rasulullah Saw amat mencintai Siti Khadijah, meskipun telah wafat. Sampai Aisyah dibalut cemburu. Wujud cinta dan kesetiaan Raselullah lainnya adalah dengan tidak menikahi Aisyah hingga wafatnya Khadijah.



3. Sayang Dan Penuh Perhatian

Rasulullah Saw selalu bersikap lembut terhadap istrinya sebagai wujud kasih sayang. Ia suami yang sangat menyayangi istrinya dan memperlakukan dengan penuh perhatian. Rasulullah biasa minum dari satu gelas dengan istrinya, termasuk istrinya sedang haid. Aisyah pernah bercerita, “Suatu saat ketika saya haid saya minum dengan gelas Rasulullah kemudian beliau meminum ditampat dimana saya meletakkan mulut. Ketika saya haid da tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada Rasulullah dan beliau meminumnya ditempat yang saya minum” (HR. Muslim).


4. Jujur dan Terbuka

Rasulullah Saw dikanal jujur baik dalam perdagangan maupun dalam bersikap dengan istrinya. Tak ada yang disimpannya untuk diri sendiri. Bahkan ketika Aisyah cemburu kepada Rasulullah Saw yang selalu mengingat Khadijah yang telah wafat, beliau katakan sejujurnya, “ Bagaimana mungkin melupakan orang yang setia menemani di saat yang lain meninggalkan?”. Rasulullah Saw tidak pernah menyimpan rasa curiga kepada istrinya. Ketika Aisyah ditimpa fitnah, ia mengajak Aisyah berbicara secara terbuka untuk mengatakan yang sebenarnya, hingga turun ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa apa yang terjadi dengan Aisyah hanyalah fitnah semata. Rumah tangga Rasulullah adalah rumah tangga yang dihiasi dengan kejujuran dan keterbukaan hingga tak ada lagi hal yang mengganjal di hati para istrinya.


5. Tidak Melakukan Kekerasan Fisik

Rasulullah Saw sangat marah kepada suami yang memukul istrinya. Sabda, “Tidakkah seseorang dari kamu merasa malu untuk memukul istrinya sebagaimana dia memukul hambanya? Di waktu pagi istrinya dipukul kemudian di waktu malam ditidurinya pula”.

Dari Abdullah bin Zam’ar bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,”Janganlah salah seorang di anatara kalian memukul istrinya sebagaimana memukul seorang budak belian.” (HR. Bukhari)


6. Memahami Kesulitan Istri

Seorang istri butuh dipahami suaminya. Suami hendaknya mau mendengar dengan penuh perhatian ketika istri sedang mengungkapkan permasalahan. Juga ikut merasakan kegelisahan dan dapat membantu menenteramkannya atau mengatasi permasalahannya. Sebagai seorang suami, Rasulullah Saw amat bertimbang rasa dan bersedia membantu keluarganya. Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan tangannya sendiri, seperti menjahit pakaian dan memerah susu kambing. Ummul mukminin Aisyah berkata, “ Di rumah, Beliau adalah manusia biasa yang melakukan pekerjaan menjahit bajunya, memerah susu kambingnya, membersihkan terompahnya. Beliau mengerjakan setiap pekerjaan istrinya, tetapi bila datang waktu shalat beliau keluar untuk shalat.” (HR. Bukhari)


7. Periang Dan Suka Bercanda

Rasulullah Saw adalah orang yang tegas dan disiplin. Namun tidak berarti beliau orang yang kaku, dingin, dan tidak dapat bercanda. Justru Rasulullah Saw sering bercanda untuk menghilangkan ketegangan dan mencairkan suasana, namun tidak secara berlebihan. Meski beliau seorang yang sibuk, di sela-sela waktu tetap masih sempat bercanda dengan istrinya, seperti yang dilakukannya dengan Aisyah. Dalam riwayat Aisyah menerangkan kelembutan dan keramahan suaminya ketika berada di rumah, “Rasulullah Saw adalah selunak-lunaknya manusia, sepemurah-murahnya manusia, banyak tertawa dan senyum.” (HR. Ibnu Asakir)


8. Tegas dan Berwibawa

Sekalipun suka bercanda, sebagai suami Rasulullah Saw dapat bersikap tegas. Terutama ketika para istri menuntut lebih dari apa yan beliau berikan. Rasulullah Saw mengingatkan para istrinya bahwa mereka lebih baik memilih Allah daripada tergiur dengan kesenangan duniawi. Dalam peristiwa ini Rasulullah Saw pun dapat tetap menjaga wibawa di depan para istrinya, yaitu dengan tidak menampakkan rasa marahnya, meski sebenarnya beliau sangat marah. Beliau lebih memilih menjauhi para istrinya dengan menyendiri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah, hingga para istrinya menyadari kesalahan mereka.

http://m-irsyad.blogspot.com/2011/02/akhlaq-rasulullah-shallallahu-alaiyhi.html

Putri siapa, istri siapa dan ibunda siapakah Fatimah Azzahra?

Fatimah Azzahra binti Muhammad s.a.w


Putri siapa, istri siapa dan ibunda siapakah Fatimah Azzahra?


Fatimah adalah putri dari penghulu para nabi, dan seseorang yang terbaik di kalangan manusia, Muhammad bin Abdullah s.a.w. Fatimah mendapatkan sebuah kehormatan dengan menjadi putri dari Muhammad, Rasul Allah dan Khadijah, wanita pertama yang masuk Islam. Dia adalah istri dari Ali bin Abi Thalib yang telah Allah muliakan semenjak masih kecil. Ali semasa hidupnya tidak pernah menjadi penyembah berhala. Ali berjuang bersama Rasul s.a.w dari mulai baligh dan diangkat juga menjadi khalifah yang keempat. Fatimah juga adalah ibunda dari Hasan dan Husaiyn, para pemuda syurga.


Fatimah masih berusia lima tahun saat ayahnya diberi kehormatan oleh Allah untuk menjadi seorang nabi. Dia tumbuh dan menjadi saksi betapa ayahnya dihina dan diperlakukan buruk oleh orang-orang di sekitarnya.

Dia teramat mengasihani ayahnya dan mendukung perjuangan ayahnya. Tapi dukungan semacam apa yang bisa diberikan oleh seorang gadis yang umurnya saja masih kurang dari sepuluh tahun?

Kekejian yang pernah dirasakan oleh Fatimah adalah saat ia melihat ayahnya beribadah di sekitar Ka’bah. Saat Rasul sedang rukuk, datanglah orang Mekah yang bengis bernama ‘Uqbah bin Abi Ma’it melempari kepala Rasul dengan kotoran unta. Lalu semua orang yang berada di sana tertawa. Rasulullah s.a.w tetap dalam posisi rukuknya hingga Fatimah membersihkan kotoran yang baunya menyengat itu dari punggungnya. Beliau pun menyelesaikan shalatnya. Lalu beliau bangkit dan menghadap kepada orang-orang Quraysh itu dengan marah. Lalu mengatakan, “Ya Allah, balaslah orang-orang Quraysh itu. Ya Allah balaslah Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Uqbah bin Abi Ma’it, dan Ubay bin Khalaf.” Orang-orang Quraysh itu sangat ketakutan dengan doa Nabi karena mereka sebetulnya yakin bahwa kata-katanya bukanlah isapan jempol saja. Beberapa tahun kemudian, saat terjadinya perang Badar, Fatimah melihat orang-orang yang disebut namanya dalam do’a Rasul itu terbunuh di sekitar sumur Badr. Allah membunuh mereka karena perilaku mereka yang jahat dan mendustakan Rasul.

Fatimah hidup dalam arena da’wah semenjak masih kecil dan ambil bagian dalam perjuangan sesuai dengan usia dan jendernya.

Karena merupakan anak paling kecil, Fatimah tinggal lebih lama dengan orang tuanya, saat ketiga kakak perempuannya sudah menikah. Nabi s.a.w selalu menyebutnya sebagai kesayangannya. Dan ketika wahyu yang berikutnya turun, yang berbunyi, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Q.S Asy-Syu’araa:214), maka beliau mengumpulkan orang Quraysh kemudian mengatakan,

“Wahai orang-orang Quraysh, selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena aku tidak dapat menyelamatkanmu dari hukuman Allah. Wahai Bani Abdul Manaf, aku tidak dapat memintakan pertolongan untuk kalian dari hukuman Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthallib, aku tidak dapat menolongmu dari hukuman Allah. Wahai Shafiyyah (bibi Rasul), aku tidak dapat menolongmu dari hukuman Allah. Wahai Fatimah, mintalah berapapun uang yang engkau mau, aku akan memberikannya, namun aku tidak dapat menolongmu dari hukuman Allah.”


Kata-kata beliau begitu berarti baginya. Kata-kata beliau memberikan perubahan yang dahsyat pada Fatimah!


Di kesempatan lain, ketika seorang wanita dari Bani Makhzum tertangkap karena mencuri, orang-orang Quraysh mengirim Usamah bin Zayd kepada Rasulullah untuk menegosiasikan tentang wanita tersebut kepada Rasul. Rasul s.a.w sangat marah dan kemudian memberikan orasi di depan banyak orang,” Demi Allah, jikalau Fatimah binti Muhammad mencuri pun, akan aku potong tangannya.”

Maksud Rasul adalah, meskipun pelaku pencurian itu adalah orang yang sangat disayanginya, namun beliau akan tetap menghukumnya. Hal ini membuktikan keadilan dalam Islam yaitu bahwa orang yang berasalah harus dihukum baik itu dari kalangan elit maupun rakyat biasa.

Fatimah hidup dalam sebuah rumah yang didirikan diatas kenabian, dia dibesarkan dalam pendidikan Qur’ani. Oleh karena itu, semua ajaran Islam tertuang dalam dirinya. Dia sangat diterima oleh orang-orang di sekitarnya, dan dia pun mencoba untuk menyebarkan da’wah di sekitarnya dalam usia yang begitun belia. Beliau s.a.w mengatakan, “Fatimah adalah bagian dari diriku, apa yang mengganggunya, menggangguku, dan apa yang menyakitinya, menyakitiku juga.” Beliau juga mengatakan dengan penuh kesungguhan, “Keempat wanita ini adalah wanita terbaik sepanjang masa: Maryam, Asiyah, Khadijah, dan Fatimah.”

Pernyataan ini sangat menyanjungnya karena dia termasuk dari keempat wanita yang terbaik dan merupakan putri dari salah satu dari empat wanita terbaik, yaitu Khadijah. Ini benar-benar sebuah kehormatan.

Semenjak saat itu, orang Quraysh menindas Kaum Muslimin dengan perlakuan yang lebih kejam lagi. Dan upaya yang mereka lakukan untuk menghancurkan penyebaran agama baru ini semakin parah. Semakin mereka mengalami kegagalan, maka semakin liar saja kekejaman mereka. Kemudian Allah menghendaki agar beliau berhijrah dari tempat yang sangat dicintainya, yaitu Mekah menuju Madinah.

Dua kakak beradik yaitu Fatimah dan Ummu Kultsum ditinggalkan di Mekah menunggu Nabi s.a.w untuk memberikan izin kepada mereka untuk ikut serta dalam hijrah. Setelah Rasul mengizinkan mereka, lantas mereka pergi dengan hati yang sedih dan berlinangan air mata. Kedua gadis ini sangat terkejut dengan kebengisan orang Quraysh karena mereka menganggap bahwa anak laki-laki dan wanita mereka sudah dimurtadkan dari agama nenek moyangnya. Kebengisan itu salah satunya silakukan oleh Huwayrith bin Naqidh, yang mematahkan kaki unta yang sedang mereka tunggangi sehingga keduanya jatuh dan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki tanpa kendaraan.

Akhirnya Fatimah tiba di Madinah dengan keadaan letih dan sangat kelelahan. Fatimah menceritakan kejadian yang menimpanya dan permasalahan yang ia alami di perjalanan. Ketika Rasulullah s.a.w mendengar kejadian ini, maka beliau memerintahkan agar orang Quraysh itu dihukum.

Kejadian pada Fatimah dan Ummu Kultsum yang begitu menyedihkan bukanlah satu-satunya contoh kekejaman Quraysh terhadap muslimah. Sebelumnya, Abu Jahal pernah membunuh syahidah pertama, Sumayah binti Khabbath tanpa rasa malu. Orang Quraysh jug pernah menyerang Ummu Salamah dan memisahkannya dari suaminya, dan yang lebih kejam lagi mereka menyiksa anak Ummu Salamah tepat di depan kedua matanya.

Zaynab juga pernah diserang oleh orang Quraysh saat dia sedang dalam perjalanan ke Madinah. Serangan ini membuat Zaynab mengalami keguguran, dan kejadian ini membuatnya sakit dalam jangka waktu yang lama dan akhirnya meninggal.

Mereka yang berada di pihak Quraysh tetap menghormati bangsa itu dengan menyangkal pernah terjadinya kejahatan-kejahatan tersebut. Tapi kejadian-kejadian tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Quraysh tersebut jauh dari kehormatan, terutama karena mereka tidak pernah menepati janji-janji pada orang yang beriman, baik pada wanita maupun pria.

Ini adalah agenda jahiliyah yang dilakukan oleh orang Quarysh, Yahudi, Kristen, dan bahkan orang-orang yang mengikuti budaya atau kebanyakkan orang. Karakteristik jahiliyah selalu sama di setiap zaman bahkan sangat mudah dikenali meskipun direkayasa atau ditutup-tutupi.

Di Madinah, Fatimah tinggal bersama dengan ayahnya dan Fatimahlah yang diberi tanggungjawab untuk mengurus rumah tangga Rasul. Fatimah melakukan tugasnya dengan sangat bahagia.

Ketika Fatimah hampir berusia delapan belas tahun, A’isyah bergabung dengan keluarga Rasulullah s.a.w sebagai istri beliau. Tentunya Fatimah tahu bahwa tanggungjawab mengurus rumah tangga sudah tidak lagi menjadi tanggungjawabnya dan digantikan oleh wanita baru yang berasal dari keluarga As-Siddiq. Hal ini tentunya membuat Fatimah kurang begitu bahagia, karena Fatimah sangat bangga dan senang menjadi pengurus rumah tangga Rasul. Pada saat yang bersamaan, banyak sahabat Rasul yang mendekati Rasul s.a.w untuk melamar Fatimah. Bahkan Abu Bakar dan Umar pun melamarnya, tetapi Nabi s.a.w memohon maaf terhadap mereka dengan cara yang sangat baik. Dari kejadian itu, banyak sekali orang yang membicarakan Fatimah dan perihal baiknya kualitas para sahabat Rasul yang telah datang melamarnya. Lalu banyak orang yang mengajukan kepada Ali untuk juga mencoba melamar Fatimah, lalu Ali bertanya pada mereka, “Aku melamar Fatimah setelah Umar dan Abu Bakar mencobanya?” ketika mereka mencoba mengingatkan Ali bahwa antara Ali dan Rasu terdapat hubungan kekerabatan, maka akhirnya Ali mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk melamar Fatimah. Ali duduk di samping Rasul dengan penuh rasa malu. Saat itu suasana begitu kaku. Lalu Rasul memecahkan kesunyian dengan bertanya, “Apakah gerangan yang Ali inginkan dariku?” Lalu dengan malu-malu Ali menyebut nama Fatimah. Dan diluar dugaan Ali, Rasul menjawab dengan singkat, “Selamat Datang.”

Ucapan selamat datang yang dikatakn Rasul membuat hati Ali menjadi tenang. Ali, dan juga teman-temannya faham bahwa yang dimaksud oleh Rasul adalah penerimaan atas diri Ali sebagai suami dari Fatimah dan ucapan itu pula berarti sebuah sambutan dari Rasul untuk bergabungnya Ali ke dalam keluarganya, meskipun Ali memang sebelumnya pun memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasul.

Nabi s.a.w bertanya kepada Ali, “Apa yang akan engkau berikan sebagai mahar?” Ali menjawab, “Saya tidak memiliki apapun yang bisa saya jadikan sebagai mahar.”

Rasul s.a.w bertanya, “Apakah engkau masih menyimpan baju besi dari Al-Hatmiyah yang aku berikan padamu? “Saya masih mnyimpannya” kata Ali. “Berikanlah kepadanya sebagai mahar baginya,” kata Rasul s.a.w.

Kejadian ini menjadi sebuah peristiwa yang besar. Ketika Ali hendak melamar putri dari sang nabi, tidak terfikir olehnya bahwa mahar akan menjadi sebuah rintangan baginya. Ali paham bahwa pernikahan di dalam Islam berdasar kepada nilai moral yang dimiliki seseorang dan bukan hartanya, sedangkan mahar sendiri hanyalah sebagai symbol ikatan pernikahan, bukan inti dari pernikahan. Rasulullah s.a.w pun bersabda, “Jika seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik dan juga akhlaq yang mulia datang menemuimu untuk melamar putrimu, maka terimalah ia.”

Apakah Rasul s.a.w menolak Ali r.a ketika ia mengatakan, “Saya tidak memiliki apapun untuk diberikan sebagai mahar” ? Apakah Rasul marah karena Ali berani melamar padahal tidak memiliki apapun? Bahkan Rasul mengingatkan dengan penuh kasih sayang kepada Ali agar baju besi yang dahulu beliau berikan pada Ali bisa dijadikan mahar untuk Fatimah.

Pernikahan menjadi begitu sederhana dalam masa itu. Tetap terdapat pengikat pernikahan, namun tidak memberatkan calon suami. Dan terbuktilah bahwa para wanita di sekeliling Rasul pada saat itu benar-benar wanita mulia yang memilih suami berdasarkan pemahaman diniyyahnya.

Kesederhanaan seperti ini berlangsung terus hingga munculnya era di mana para wanita lebih mementingkan jumlah mahar dan memberatkan sang calon suami. Oleh karenanya uang selalu menjadi hambatan bagi para pria untuk menikahi wanita dan demi menjaga kesucian.

Meskipun baju besi itu kemudian menjadi milik Fatimah, namun Fatimah tentu saja mengharapkan Ali lah yang akan menggunakannya saat ia harus bertempur di medan juang melawan para musuh Allah. Lalu apa keuntungannya bagi Fatimah menerima baju besi itu?

Saat hari pernikahan tiba, Ali menjual unta miliknya pribadi dan juga beberapa barang pribadinya hingga mencapai empat ratus delapan dirham. Ketika Rasul s.a.w mendengar hal ini, beliau lalu berkata, “Belanjakan duapertiganya untuk membeli parfum dan sisanya untuk kebutuhan rumah tangga.” Rasul s.a.w memang terkenal menyukai minyak wangi dan mengharapkan agar para pengikutnya pun berlaku demikian. Inilah mengapa Rasul meminta Ali untuk banyak menggunakan parfum di hari pernikahannya.



Rasul pun mengatakan kepada Ali, “Wahai Ali, resepsi pernikahan membutuhkan jamuan.” Lalu orang-orang di sekeliling Ali menawarkan bantuan dengan sukarela. Sa’id seorang Anshar memberikan kambingnya dan orang yang lainnya menyumbang gandum.

Hari itu adalah hari yang indah, semua orang berbahagia. Mereka berkumpul menikmati jamuan di tempat yang sangat harum semerbak. Rasul s.a.w teramat mencintai Fatimah sehingga beliau menata ruangan untuk Fatimah dan Ali dengan sangat baik.

Ketika malam hari tiba, Rasul berpesan pada Ali agar jangan dulu menemui Fatimah sebelu menemui beliau. Ali melaksanakan permintaan Rasul. Lalu Rasul memercikkan air kepada Ali dan mengatakan, “ Semoga pasangan ini diberikan kebahagiaan dan Allah memberkahi mereka serta keturunannya.” Lalu Rasul mendatangi Fatimah yang sedang merasa malu untuk bertemu dengan Ali. Rasul berkata padanya, “Wahai Fatimah, aku akan segera berpisah denganmu, namun aku bahagia karena kau menikahi salah satu kerabatku yang terbaik.”

Itulah Rasulullah, beliau meyakinkan Fatimah bahwa beliau sudah melaksanakan tugasnya sebagai seorang ayah dengan baik, yaitu mencarikan pasangan untuk putrinya berupa seorang pria yang shaleh.

Pernikahan Fatimah dan Ali adalah peristiwa bersejarah. Belum ada pernikahan yang begitu indah. Dan pernikahan ini pun banyak mempengaruhi kejadian-kejadian yang terjadi di hari-hari berikutnya. Oleh karenanya era setelah Fatimah menikah ini bahkan diberi sebutan: Dinasti Fatimah.

Di dalam rumah yang didiami oleh pasangan penuh berkah ini, tidak ada harta benda yang banyak. Yang mereka miliki hanya tempat tidur terbuat dari kulit, dua buah gelas untuk minum dan dua tepat makan. Mereka pun terbiasa untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah mereka berdua saja. Hingga ketika terdengar kabar bahwa Rasul datang ke Madinah dengan membawa twanan perang dan saat itu Ali merasakan sakit di dadanya karena kelelahan, barulah Ali meminta Fatimah agar ayahnya berkenan memberikan satu orang tawanan perang itu untuk membantunya bekerja.

Fatimah pun berkata, “Jika saja memang suamiku tidak sakit dan tanganku tidak luka akibat peralatan ini, aku tidak akan meminta satu orang pun untuk membantu kami.”

Ketika tiba di rumah Rasul, Fatimah hanya terdiam duduk di samping Rasul. Lalu dengan lembut Rasul menyapanya, “Ada apa gerangan kau datang kemari, putriku?”Sebetulnya Fatimah sangat malu, namun akhirnya ia berujar, “Saya datang untuk meminta sesuatu padamu, tapi tidak jadi saja, saya terlalu malu.” Fatimah pun segera pulang menemui suaminya.

Suaminya bertanya apakah harapan mereka dipenuhi atau tidak, lalu Fatimah berkata, “Aku terlalu malu untuk memintanya.” Ali menggenggam tangan Fatimah dengan lembut lalu menuntunnya kembali ke rumah ayahnya. Ali berkata pada Rasul, “Jika saja dadaku saat ini tidak sakit, maka aku tidak akan berani meminta salah satu tawanan perang yang engkau bawa untuk membantu kami.” Lalu Rasul berkata, “Demi Allah, tidak akan kuberikan mereka padamu padahal aku tahu bahwa orang-orang As-Suffah lebih membutuhkan mereka.” Ini artinya Rasul tidak memberikan apa yang mereka pinta. Tetapi mereka sama sekali tidak sakit hati karena mereka paham alasan Rasul adalah demi mengutaakan orang yang lebih membutuhkan. Mereka pun pulang dengan tangan kosong. Namun ternyata asul mengikuti mereka dari belakang hingga mereka memasuki rumah. Lalu Rasul berkata, “Aku memang tidak menolong kalian dengan memberikan apa yang kalian perlukan, tapi ada hal yang akan lebih menggembirakan kalian dibandingkan permintaan kalian itu. Ini adalah kalimat yang Jibril ajarkan kepadaku. Apakah kalian ingin aku mengajarkan pada kalian?” “Tentu” sahut mereka. “ Biasakanlah mengucapkan SubhanAllah sepuluh kali, Alhamdulillah sepuluh kali, dan Allahu akbar sepuluh kali setiap selesai shalat. Dan ketika hendak tidur bacalah SubhanAllah tiga puluh tiga kali, Alhamdulillah tiga puluh tiga kali, dan Allahu akbar tiga puluh empat kali.”

Rasul menghibur hati mereka yang sedih dan mengobati luka fisik mereka karena lelah dengan memberikan sebuah ikatan batin yang kuat yang akan menghubungkan mereka dengan Allah. Mereka nampak sangat bahagia dengan pemberian Rasul itu. Rasul pun merasa bisa meninggalkan mereka karena keadaan sdah menjadi bahagia. Rasul tenang dan pulang ke rumah beliau.

Mereka selalu melakuan apa yang Rasul perintahkan dan hal itu menjadi penenang saat mereka mengalami kesedihan. Bahkan ketika mereka hendak tidur, selimut yang mereka miliki tidak mampu menutupi sekujur tubuh mereka dan kedinginan pun terasa. Saat seperti itu mereka mempergunakan apa yang Rasul berikan untuk menghangatkan diri mereka.

Rumah Fatimah selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, terutama setelah lahir Hasan Husain, Ummu Kultsum, dan Zaynab. Anak-anak itu membuat hati Ftimah, Ali dan Rasul diliputi kebahagiaan yang luar biasa.

Hari demi hari, kejayaan Islam semakin meluas, hampir semua jazirah Arab dikuasai oleh Islam. Dan ketika beita gembira itu datang, Fatimah selalu mengunjungi rumah ayahnya dan memberikan selamat kepada beliau. Rasul akan menyambut Fatimah dan anak-anaknya dengan sambutan yang hangat seperti yang diceritakan oleh A’isyah:

“ Suatu hari, kami semua—para istri Rasul berkumpul di sekeliling Rasul, tak satupun dari istri Rasul yang tidak ada di sana. Lalu Fatimah datang dengan anak-anaknya. Rasul berkata, “Selamat datang, wahai putriku.” Lalu Rasul duduk di samping kanan Fatimah dengan wajah yang sangat ceria. Setelah itu Rasul berbisik padanya hingga Fatimah menangis tersedu, lalu Rasul memeluknya, dan berbisik lagi hingga Fatimah tersenyum. Saya pernah bertanya kepada Fatimah tentang bisikan Rasul itu, namun ia menjawab, “Aku tidak akan membuka sesuatu yang dirahasiakan oleh Rasul kepadaku.” Hingga saat ketika Rasul wafat, akhirnya saya bertanya hal yang sama pada Fatimah. Lalu akhirnya ia mengatakan, “Baiklah, akan aku ceritakan sekarang. Saat engkau melihat aku menangis, Rasul mengatakan,” Jibril mendatanginya satu atau dua kali dalam satu tahun untuk mebacakan wahyu kepada beliau, dan pada tahun tersebut, Jibril sudah mendatanginya sebanyak dua kali sehingga Rasul merasa ajalnya sudah dekat, dan beliau mengatakan padaku, “Takutlah kepada Allah dan bersabarlah.” Rasul mengharapkanku menjadi penerus perjuangannya. Lalu aku menangis. Kemudian Rasul berkata,”Fatimah, tidakkah engkau berbahagia karena engkau akan menjadi pemimpin para wanita shalihah untuk umat ini?” Pada saat itulah engkau melihatku tersenyum.” (Shahih Muslim, 6004).

Fatimah wafat setelah enam bulan wafatnya Rasul. Fatimah wafat pada bukan ramadhan tanggal 3 pada tahun 11 Hijriyah. Ia wafat pada usia dua puluh sembilan tahun. Tidak ada teman yang sangat dekat dengan rasul selain Fatimah, beliau sangat saying padanya. Oleh karenanya para sejarawan dan penyair menyebutnya Fatimah A-zahra.

Ya, Fatimah yang begitu mulia. Tangannya bekerja sementara mulutnya membaca Al-Qur’an, dikaruniai suami yang begitu lembut hatinya yang pernah menyantuni fakir miskin sehingga tidak bersisa makanan untuk mereka sendiri, betapa mulianya. Dikaruniai para putra yang menjadi pemimpin jihad.

Semoga Allah selalu meridahainya…

http://www.muslimdaily.net/wanita/1478/putri-siapaistri-siapa-dan-ibunda-siapakah-fatimah-azzahra

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More